Segala kekacauan pada tahun-tahun tersebut menjadi latar belakang yang kuat untuk novel ini. Pesannya jelas: cita-cita revolusi tidak tercapai. Janji-janji kemerdekaan dan kemakmuran hanya tinggal bayangan. Dalam keadaan serba-pesimistis tersebut, ironi yang paling kuat dihadapi oleh para generasi muda. Merekalah yang diharapkan menjadi penerus dan pembangun bangsa. Tetapi, apa yang dapat dibangun dari fondasi yang begitu rapuh? Barangkali ini yang menjadi pertimbangan Mochtar Lubis dalam menempatkan para anak muda sebagai tokoh-tokoh utama. Mereka menjadi anti-heroes yang menjalani kehidupan nyaris tanpa tujuan, seperti daun yang terbawa angin ke mana-mana lalu berakhir di selokan.
![]() |
| Sampul novel "Tanah Gersang". Sumber: Goodreads. |
Ada tiga orang tokoh utama dalam novel ini, yaitu Joni, Yusuf, dan Sukandar. Ketiganya relatif seumuran (19-123 tahun) dan memiliki benang merah berupa keluarga yang disfungsional. Joni anak seorang mantan aktivis yang kemudian menjadi politisi kaya. Seiring dengan kesuksesan ayah Joni, bertambah pula jumlah istrinya, dan berkurang pula waktu untuk Joni dan adiknya. Yusuf seorang yatim-piatu yang dibesarkan oleh paman dan bibinya. Dikisahkan, orangtua Yusuf tewas ketika kampung mereka dibakar tentara NICA pada tahun 1946. Dia lantas dipungut oleh paman dan bibinya, dan dibawa ke Jakarta. Sukandar juga yatim-piatu, tapi bernasib lebih buruk dari Yusuf. Dia ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan sebagai bayi. Karena berkulit coklat, dokter Belanda yang memeriksanya memasukkan Sukandar ke panti asuhan berlatar agama Islam. Sukandar menjalani tahun-tahun yang pahit di sana, sebelum kemudian melarikan diri dan hidup di jalan.
Jadi, ketiga tokoh kita adalah pemuda-pemuda yang hilang arah. Joni yang kurang kerjaan dan sering kesepian di rumahnya yang besar, mengenal Yusuf dan Sukandar melalui bisnis jual beli rokok dan calo tiket bioskop. Pada diri Yusuf dan Sukandar yang ulet mencatut, Joni menemukan kenyamanan. Pertemanan mereka membuat Joni merasa diterima. Di rumah Yusuf atau gubug Sukandar, tidak ada orang yang membuat Joni merasa kurang layak, kurang rajin, atau kurang cakap. Cerita bergulir perlahan sampai membuat pembaca sadar bahwa kisah ini bukan lagi tentang kenakalan remaja, melainkan kejahatan. Kekerasan yang mereka bertiga lakukan awalnya hanya seperti umumnya anak muda, seperti mabuk dan memalak teman sebaya. Namun, semakin lama semakin naik level sampai ke perampokan dan pembunuhan.
Menariknya, setiap kejahatan dan kekerasan yang dilakukan oleh Joni, Yusuf, dan Sukandar tidak dilatari motif lain kecuali kepuasan batin. Uang hasil perampokan tidak mereka gunakan untuk sesuatu yang penting atau untuk hidup sehari-hari, melainkan untuk dihambur-hamburkan dalam pesta, pacaran, dan kendaraan. Misalnya, Joni yang tergila-gila pada seorang artis film menghabiskan uang hasil rampokan untuk mentraktir sang perempuan dan membelikannya perhiasan, dengan harapan dapat membawanya ke tempat tidur. Setelah apa yang diinginkannya terjadi, Joni tetap merasa tidak puas dan kosong. Agar merasa “hidup” kembali, ia segera merencanakan perampokan berikutnya. Lubis seolah ingin mendeskripsikan dekandensi moral yang sebobrok-bobroknya. Dalam banyak kesempatan, ketiga tokoh kita tertawa terbahak-bahak mengingat ekspresi ketakutan para korban, apalagi ketika ada di antara mereka yang sampai terkencing di celana.
Bagi Joni, Yusuf, dan Sukandar di situlah letak kepuasannya. Mereka tidak merampok karena butuh uang buat bertahan hidup atau ingin kaya. Mereka merampok karena ingin merasakan mabuk kekuasaan dan kemenangan, betapapun hanya sesaat. Segala bentuk dekadensi moral ini diceritakan Lubis dengan dingin, tanpa penghakiman, seolah memaksa kita untuk melihat realita tanpa embel-embel kepantasan etis. Tetapi, terlepas dari penggambaran perilaku “amoral” para tokohnya yang digambarkan secara deskriptif dan realistis, seluruh isi novel ini tampaknya memang dibangun berdasarkan logika berpikir yang cenderung normatif. Persoalan kejahatan ketiga tokoh diakhiri dengan suatu perenungan tentang dosa individu. Dekadensi moral yang dialami oleh Joni, misalnya, diselesaikan dengan penyesalan mendalam setelah bercakap-cakap dengan seorang pendeta. Memang Lubis sendiri seorang yang relijius, tetapi bukankah lebih menarik jika Joni “dipaksa” melakukan pertobatan di level praksis? Dia harus mengakui kesalahannya, memenangkan kembali hati istrinya, dan mencari posisinya di masyarakat sebagai anak politisi eks-aktivis. Akhir seperti ini akan memberi kesempatan tokoh Joni untuk hidup sebagai bagian dari suatu kelas masyarakat, yang akan berhadapan dengan kelas yang lain, bukan individu yang berkutat dengan nasibnya sendiri.
![]() |
| "Tanah Gersang" sebagai film. Sumber: Film Indonesia. |
Salah satu teknik yang sering digunakan Mochtar Lubis sebagai pengarang adalah menceritakan pergulatan batin tokoh-tokohnya dari perspektif psikologis. Maksudnya, dia seringkali menjelaskan mengapa si tokoh A berkelakuan begitu, atau tokoh B bersikap demikian, dari sudut pandang pengalaman masa lalu atau trauma yang diderita si tokoh. Dalam hal ini, novel Tanah Gersang jadi menarik karena Lubis memberi porsi cukup banyak untuk menjelaskan mengapa tiga tokoh kita jadi pemuda-pemuda yang tersesat. Di antara penjelasan itu, persoalan sosok ketidakhadiran orangtua, baik secara fisik maupun psikologis, tampaknya menjadi tema sentral. Dan Joni sebagai karakter utama memperoleh jatah penceritaan paling banyak. Ketersesatan Joni banyak diatribusikan pada ketidakbecusan ayah dan ibunya dalam menjalani peran sebagai orangtua. Kritik Lubis terhadap hal ini khususnya dialamatkan kepada Maimun Habsyah (ayah Joni), sebuah teknik yang saya kira sengaja digunakan Lubis sebagai cerminan ketidaksukaannya sendiri terhadap sosok Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia.
Kritik Lubis yang pedas, tajam, dan panjang terhadap Sukarno dan pemerintahannya, bukan sesuatu yang rahasia. Bahkan, meski terbit pada 1964, novel Tanah Gersang ditulis Lubis dalam penjara. Sukarno memang menjebloskan Lubis ke dalam bui selama hampir sepuluh tahun (Desember 1956- Mei 1966) akibat kritiknya yang terus-menerus semasa menjadi pimpinan redaksi Indonesia Raya. Perlu diingat, ketidaksukaan Lubis terhadap Sukarno bukan kebencian individual, melainkan cerminan penolakannya pada sikap kultus individu dan otoritarianisme. Ia kerap kali mengkritik Sukarno yang dinilainya menutupi kegagalan sistem politik dan ekonomi dengan karisma. Sukarno juga bersikap otoriter dengan melakukan pembredelan media berkali-kali, sesuatu yang sangat ditentang Lubis sebagai pembela kebebasan pers. Dalam konteks Perang Dingin yang sedang berlangsung kala itu, Lubis lebih dekat ke blok Barat yang pro-demokrasi liberal. Sementara Sukarno, meski secara resmi menyatakan Indonesia non-Blok, dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan bersimpati pada Uni Soviet juga Tiongkok. Lubis sendiri seorang anti-komunis tulen.
Tokoh Maimun Habsyah diceritakan sebagai aktivis yang tajam dan kritis, tapi segera setelah memperoleh jabatan politik, dia jadi melempem dan hidup dengan dekaden. Maimun kawin lagi dan jarang ada di rumah. Setiap masalah apapun yang dibikin Joni, diselesaikan Maimun dengan uang. Joni tinggal di rumah besar, motor keren, dan uang saku yang nyaris tak berbatas. Tapi hal itu malah menimbulkan kekosongan dalam jiwanya. Dalam satu bab diceritakan, Maimun yang terpaksa pulang karena Joni dan adiknya bersitegang dengan ibu mereka, sekali lagi menyelesaikan masalah dengan uang. Tidak ada perbincangan yang bermakna antara ayah dan anak. Maimun bahkan digambarkan lega dapat meninggalkan rumah secepat mungkin.
Kritik Lubis terhadap tokoh Maimun setidaknya berlangsung dalam dua lapis. Pertama, pengkhianatan Maimun terhadap cita-cita kemerdekaan. Dia yang dulunya berjuang dan mengkritik pemerintahan korup, ternyata setelah mendapat kekuasaan tidak beda dengan pihak yang dulu dikritiknya. Penggambaran dekadensi Maimun pun amat stereotipikal, bahkan nyaris karikatural, karena hal pertama yang dilakukannya setelah kaya adalah kawin lagi. Kedua, dengan mengatribusikan kenakalan Joni pada ketidakhadiran sosok bapak, seolah Lubis sedang mengatakan bahwa ketersesatan bangsa ini juga gara-gara sosok ayah, si bapak bangsa, yang terlalu sibuk menikmati kekuasaan dan membiarkan anak-anaknya, yaitu rakyat, tersesat tak tahu arah. Strategi representasi seperti ini tentu saja bukan tanpa masalah. Coraknya amat patriarkal, seolah-olah tanpa kehadiran sosok ayah, anak dan istri tidak dapat memiliki agensi untuk mengusahakan kebahagiaan hidup secara mandiri. Ibu Joni digambarkan sebagai perempuan yang suka marah-marah dan pencuriga, bahkan bisa tega menuduh Joni dan adiknya terlibat dalam perilaku inses. Semua karena tidak diperlakukan baik dan penuh kasih-sayang oleh suaminya.
Memang novel ini secara subtil mereproduksi strategi analogi negara sebagai suatu “unit keluarga”: kepala pemerintahan sebagai ‘bapak bangsa’, rakyat sebagai ‘anak-anak revolusi’, dan negara sebagai ‘ibu pertiwi’. Kegagalan si bapaklah yang mengakibatkan keruntuhan anak-anak dan ibu. Barangkali alam berpikir Lubis mengikuti semangat pada masa itu, yaitu saat Republik Indonesia yang muda masih mencari bentuk. Saya bayangkan, novel ini bisa menjadi jauh lebih menarik jika antara ibu Joni dan anak-anaknya justru tumbuh sikap saling pengertian dan kerjasama, untuk menunjukkan mereka tidak butuh sosok ayah yang tengik untuk bisa bahagia. Tokoh Maimun atau ayah mana pun di dunia ini tidak dibutuhkan jika tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seseorang yang berkontribusi dalam keluarga. Dan, suatu unit keluarga dapat dipandang lengkap tanpa perlu ada seorang patriarch.
Saya akan mengakhiri catatan ini dengan sebuah refleksi: jika dibaca pada masa sekarang, apakah Tanah Gersang masih relevan? Dari sekurang-kurangnya dua segi, jawabannya ya. Pertama, dari segi psikologis tokoh-tokohnya, plot semacam ini akan selalu relevan. Di zaman mana pun akan selalu ada anak-anak muda yang tersesat karena kurang kasih-sayang dan bimbingan orangtua. Kedua, dari segi kondisi sosial-ekonomi, kondisi anak-anak muda Indonesia sekarang tampaknya tidak jauh berbeda dengan yang digambarkan Lubis dalam novel ini. Korupsi di mana-mana, nepotisme merajalela, pendidikan mahal, pekerjaan susah dicari, dan seterusnya. Rasa frustrasi anak-anak muda sama saja, yang berbeda hanya mediumnya. Mungkin kalau Tanah Gersang diceritakan kembali dengan mengambil latar belakang hari ini, Joni, Yusuf, dan Sukandar bukan merampok toko emas tapi terlibat pinjol dan judol!
Meski begitu, jika hubungan anak-anak muda dengan orangtua dipandang sebagai metafora hubungan antara rakyat dengan pemerintah dan negaranya, mungkin kita punya peluang membangun hubungan yang berbeda. Rakyat tidak perlu pasrah menerima ketidakbecusan pemerintah. Mereka dapat membangun kolektif untuk mewujudkan hidup yang lebih baik, seperti Joni yang seharusnya bisa bekerjasama dengan adik dan ibunya untuk hidup lebih bahagia, dengan atau tanpa sosok ayah. ***


No comments