Pages

Premeditatio Malorum





Salah satu korban Tsunami Banten beberapa waktu lalu adalah Roykhan Ghifari, mahasiswa bimbingan skripsi saya. Sebelum meninggal, Roy sedang memperbaiki proposal skripsi yang rencananya akan diajukan semester ini.

Roy angkatan 2013. Seharusnya dia sudah lulus dua tahun lalu, tapi skripsinya tertunda karena sibuk mengurus bisnis event organizer sendiri. Terhadap mahasiswa model Roy, saya tidak pernah terlalu keras. Justru saya bangga kalau ada mahasiswa yang sudah bisa menghidupi dirinya sebelum jadi sarjana. Saya hanya perlu lebih sering mengingatkan mereka bahwa gelar sarjana bukan sekadar bekal untuk cari pekerjaan, tapi tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Saya mengingat Roy sebagai anak yang tidak banyak tingkah. Saat membahas skripsinya, selalu saya yang lebih banyak bicara. Dia hanya sesekali bertanya dengan wajah serius, atau tertawa tipis-tipis saat saya ajak bercanda. Pada akhir setiap sesi konsultasi, saya selalu menekankan hal yang sama, berulang-ulang: sesibuk apapun, kamu harus lulus.

Dan setiap kali Roy akan menganggukkan kepala sembari berkata, "Iya, Kak."

Wajah inilah yang saya kenang saat membereskan folder skripsi minggu lalu (beberapa mahasiswa bimbingan siap maju sidang minggu depan dan saya perlu memberikan revisi terakhir). Saya memegang draft proposal skripsi Roy yang bertanda "revisi kedua" dan merasakan kekosongan luar biasa.

Anak ini... beberapa minggu lalu masih ada di ruangan saya, masih memikirkan tema skripsinya, masih merancang strategi agar bisa segera lulus, dan sekarang.. semua itu sudah tidak penting lagi.

Saya tidak ingin menjadikan catatan ini sebagai pengingat bahwa kita semua akan mati. Truisme usang semacam itu tidak ada gunanya untuk ditulis. Saya hanya ingin berbagi, pada siapa saja yang membaca ini, tentang alangkah rapuhnya kita, manusia. Betapa kita bisa mati kapan saja, dan dengan cara apa saja. Saya kira ini sebuah fakta yang tidak pernah benar-benar kita resapi, karena well, siapa sih, yang suka membicarakan dan memikirkan kematian? Otak manusia dirancang untuk menghindari hal-hal yang menyakitkan, dan aspek ketidakpastian dalam  hubungan kita kematian itu menyakitkan.

Minggu lalu saya membaca buku mengenai filsafat Stoisisme. Intisari dari cabang filsafat ini adalah membagi segala urusan hidup ke dalam dua koridor: hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Menurut filsafat Stoisisme, kita harus mengarahkan energi kita ke hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan berhenti meresahkan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Kematian tentu saja masuk ke dalam koridor hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, tapi reaksi kita menghadapi kematian tergolong hal yang bisa kita kendalikan.

Untuk itu, filsafat Stoisisme punya mekanisme latihan mental yang dinamakan premeditatio malorum alias membayangkan kemungkinan terburuk. Kita dianjurkan berlatih premeditatio malorum setiap hari setelah bangun tidur: bayangkan berbagai hal terburuk yang bisa terjadi pada kita hari itu. Mobil mogok? Diserempet di jalan? Kereta gangguan sehingga terlambat masuk kantor berjam-jam? Diomelin atasan? Diputusin pacar? Dst, dst.

Tujuan dari premediatio malorum adalah mempersiapkan mental kita bahwa hal-hal yang buruk itu bisa terjadi, mungkin terjadi, dan jika pun beneran terjadi, kita akan tetap baik-baik saja. Kita tetap ada dan hidup jalan terus. Penulis buku yang saya baca bahkan menganjurkan ketika kita melihat suami/istri/anak/pacar, bayangkan jika mereka meninggal dunia. Bayangkan hidup kita tanpa mereka; bayangkan rumah sepi, kita seorang diri, waktu sedih enggak tahu harus nangis ke siapa, waktu senang enggak tahu harus berbagi dengan siapa, dan seterusnya. Tujuan dari premeditatio malorum ini bukan biar kita jadi gloomy anxiety shoegazing sepanjang hari, melainkan supaya kita jadi lebih mampu menghargai apa (dan siapa) yang ada di sekitar kita sehari-hari. Contoh: jika kita sadar suami/istri/anak/pacar adalah makhluk mortal yang bisa meninggal kapan saja, kalau lagi sama mereka ya jangan mainan hape, fokus dengarkan ceritanya dan tatap matanya.

Saya enggak tahu bagaimana caranya nulis ini tanpa terdengar cheesy dan klise abis, but reallygo ahead and say what you need to say, do what you need to do. Kalau sayang, bilang. Kalau cinta, ungkapkan. Kalau ingin peluk, peluklah. Kalau ingin  cium, ciumlah (tapi izin dulu biar enggak digampar). Jangan sampai momentum terlewatkan dan kita selamanya memendam perasaan. Jangan sampai waktu habis dan segala yang tersisa belum terselesaikan.

Selamat jalan, Roykhan.

3 comments:

  1. Saya kakak Roykhan yang di rumah dipanggil Ghifa. Saya dapat link ini dari teman saya. Waktu kemarin beres-beres barangnya, saya juga menemukan proposal skripsinya dengan tulisan revisi. Hati saya yang sudah patah terasa makin patah. Karena waktu itu kami janji untuk lulus sama-sama di tahun ini (saya sedang S2). Belum pernah saya merasa sepatah hati ini di hidup saya. Tapi melihat banyak cerita dari teman-temannya dan membaca tulisan ini, patah hati saya sedikit terobati. Karena paling tidak saya tahu bahwa dia banyak berbuat baik dan ga terlalu neko-neko selama hidupnya, bahwa kalau saya rindu dia saya bisa ngobrol dengan teman-tenannya atau membaca tulisan ini untuk mengenangnya. Terima kasih untuk tulisannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Turut berduka cita, ya. Salam sayang dan hormat untuk seluruh keluarga. Terima kasih sudah mampir dan membaca :)

      Delete
  2. Gua baru tahu kalau "memikirkan segala kemungkinan untuk menghadapi kematian" itu sampai ada latihannya bahkan lahir dari salah satu cabang filsafat. Hampir setiap saat 'secara natural' gua berpikiran kaya gitu, Ndin. Gua malah beranggapan itu menjengkelkan dan negatif, makanya sering banget gua ganti pikiran itu dengan mereka-reka adegan yang lebih indah. Sejauh ini sih menurut gua apa yang gua buat itu oke oke aja. Btw. Terima kasih, Ndin. Tulisannya selalu bagus.

    ReplyDelete