Membaca Demi Kesenangan

Salah satu unintended consequences dari keputusanku melanjutkan studi doktoral adalah kehilangan kemampuan "membaca demi kesenangan" alias reading for pleasure. Setiap kali membaca buku, jurnal, atau artikel apapun selalu ada pertanyaan yang membayang-bayangi: akankah bacaan ini berguna untuk disertasiku? Apakah bacaan ini akan membantuku lulus tepat waktu? Kalau tidak berguna dan tidak membantu, bukankah seharusnya aku menangis mencari bacaan lainnya saja?

Bagi orang yang selalu menjadikan buku sebagai teman, kehilangan kemampuan reading for pleasure sungguh menyiksa. Rencananya, sebagian besar waktuku saat S3 ini akan kumanfaatkan untuk membaca biar kesepian tidak terasa begitu menggigit. Tetapi ternyata aku resah saat tidak membaca, dan resah juga ketika membaca.

Sampai akhirnya saat berjalan-jalan ke toko buku minggu lalu, kutemukan buku Stolen Focus: Why You Can't Pay Attention oleh Johann Hari. Mas Johann (tidak tak uuk karena dia bukan Mas Joko) bilang, saat ini kita memang hidup pada zaman di mana kemampuan orang untuk fokus berkurang drastis. Mengutip pemikiran psikolog Hungaria-Amerika Mihaly Csikszentmihalyi, Mas Johann bilang orang semakin sulit mencapai state of flow saat melakukan apa pun, termasuk membaca. Lawan dari flow adalah fragmented, dan kondisi itulah yang secara umum terjadi di seluruh dunia. Orang membaca sepotong-sepotong, menulis sepotong-sepotong, dan berpikir pun sepotong-sepotong.


Mas Joko yang dimaksud

Mas Johann menawarkan 14 butir penyebab menurunnya fokus pada umat manusia, dan media sosial (yang mudah saja kita tuduh sebagai tersangka utama) hanyalah salah satunya. Penyebab lain bervariasi, dari mulai kurang tidur alias sleep deprivation yang ternyata juga menjadi gejala umum masyarakat seluruh dunia, nutrisi yang tidak seimbang, sampai terlalu banyak stimulasi yang membuat orang jadi susah melamun. Lho, iya--otak kita justru lebih mampu fokus ketika kita mengizinkannya tidak fokus untuk sementara.

Melamun memberi otak kita kesempatan untuk leyeh-leyeh. Otak jadi mampu menghubungkan fakta-fakta yang sebenarnya sudah ada, menjadi sebuah kesimpulan yang lebih utuh. Itulah mengapa kadang kita mendapat gagasan saat sedang boker, mandi, atau kegiatan-kegiatan merenung lainnya. Dan dengan semakin banyaknya stimulasi (podcast! serial baru! video viral!) kita kehilangan kesempatan ini.

Analisis lain dari Mas Johann yang cukup membuatku tertampar adalah, jangan-jangan, kenikmatan membaca itu hilang karena platform utamaku dalam mengkonsumsi informasi juga sudah berubah. Menyitir sabda sosiolog Kanada Marshall McLuhan yang terkenal, "the medium is the message", dari mana aku memperoleh informasi ternyata lebih mempengaruhiku daripada informasinya itu sendiri.

Twitter membuatku terbiasa menyerap informasi secara fragmentaris, maksimal 280 karakter. Ruang yang terbatas di Twitter juga mengharuskan penggunanya merangkum apa yang mau disampaikan agar efektif. Tidak ada ruang untuk bunga-bunga. Aku jadi tidak sabaran saat membaca panjang--maunya langsung ke inti. Bacaanku yang selama dua tahun terakhir didominasi oleh tulisan-tulisan akademik juga turut berkontribusi, sebab dalam tulisan akademik segalanya harus terstruktur dan argumen disampaikan di depan. Tidak ada waktu untuk preambule yang lembut dan indah.

Kebiasaan membaca dengan Kindle tampaknya juga agak berpengaruh. Meskipun secara teknis Kindle itu ya buku, tapi rupanya biar bagaimana pun ada semacam screen inferiority di sini. Sejumlah riset sudah mengkonfirmasi bahwa membaca dengan e-reader tidak memberikan retensi informasi sebaik buku fisik. Untukku sendiri, karena Kindle itu modelnya di-swipe, aku jadi tanpa sadar bergerak lebih terburu-buru. Sementara saat membaca buku fisik, aku bisa berlama-lama memberi tanda dan komentar pada bagian-bagian yang kuanggap penting.

Saat menulis ini aku juga jadi teringat kebiasaan saat masa kecil, yaitu mengoleksi kaset. Setiap habis membeli kaset baru, aku akan memutarnya di tape compo sambil berbaring, lalu mendengarkan lagu demi lagu sambil membaca lirik pada sampul. Sampai sekarang aku masih ingat lirik lagu-lagu Oasis. Kalau dibandingkan dengan sekarang, mendengarkan lagu sambil membaca lirik di YouTube Music, rasanya susah sekali hafal liriknya.


Ini namanya kaset ya, adik-adik. Gambar dari sini.

Terlepas dari apakah cerita tentang menghafalkan lirik itu memang bukti lain dari screen inferiority atau sekadar efek dari pertambahan usia, kurasa langkah-langkah tertentu memang perlu diambil demi mengembalikan kenikmatan membaca. Aku mencoba untuk tidak terlalu aktif lagi di Twitter, dan hanya menggunakan Kindle saat travelling. Selebihnya, kembali pada buku fisik.

Yang terakhir: selain reading for pleasure, ternyata aku juga kehilangan kecakapan writing for pleasure alias menulis demi kesenangan. Mau senang bagaimana, jika selama dua tahun terakhir hidupku penuh dengan review dari dosen pembimbing dan editor jurnal, yang kadang masukan-masukannya membuatku mikir aku ini sebenarnya bisa nulis apa nggak sih.

Dan ternyata, untuk menemukan kembali writing for pleasure, nge-blog adalah jawabannya. I'm home

2 comments

  1. aaaah, akhirnya aku nemenukan jawaban. belakangan aku juga susah banget buat fokus. baca juga rasanya kok nggak segreget dulu. aku kira karena mediumnya udh ganti jd ereader jd lebih banyak baca. tp, nyatanya aku justru lama banget buat nyelesaiin bacaan.

    dan, writing for pleasure ini juga yg aku alami. kyknya, karena nulis untuk kerja. aku jd susah buat bikin tulisan yg aku banget. lagi usaha buat balikin mood itu lagi belakangan. moga aja 2024 udh bisa nemu moodnya lagi hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, e-reader itu memang kasih ilusi kita jadi lebih banyak membaca, ya? Aku juga mengalami hal yang sama. Dan ternyata dari segi retensi informasi juga tetap menangan buku fisik. Semoga segera menemukan kembali kenikmatan reading dan writing for pleasure ya, Mbak!

      Delete