Pages

Atheis

Minggu ini untuk kesekian kalinya aku menamatkan novel Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja. Buat kalian yang belum pernah baca, buku ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Hasan yang terombang-ambing antara relijiusitas, atheisme, agnostisisme dan anarkisme. Terdengar rumit, Mylov? Jangan kuatir, Achdiat mengemasnya dalam bungkus romantika percintaan yang asique.

Hasan yang nyaris gagal move on karena gagal nikah dengan pujaan hatinya bernama Rukmini, dibikin jatuh cinta lagi oleh seorang perempuan bernama Kartini. Saat pertama kali berkenalan dengan Kartini, Hasan deg-degan karena wajah gadis itu amat mirip dengan Rukmini. Pulang kantor, Hasan langsung membuka laci dan mengeluarkan foto Rukmini sambil membayangkan Kartini.

(Iya, nyimpan foto mantan itu gak papa kok. Kalau kata Hasan, ".. padahal sudah kutetapkan dalam hatiku sendiri, bahwa Ruk sudah mati bagiku [..] kan tiap orang yang mati itu harus mempunyai kuburannya, dan kuburan Ruk ialah album itulah. Kuburan yang sekali-sekali kukunjungi pada saat aku merasa terlampau rindu kepadanya...." - hlm 50)

Di luar alasan yang rada cringey (mirip mantan, duh!), Hasan akhirnya jatuh cinta sungguhan pada Kartini, pada jiwanya yang bebas, pada gayanya yang modern, pada pola pikirnya yang progresif. Ketika bersama Rukmini cita-cita Hasan hanyalah hidup bahagia dan beribadah bersama, dengan Kartini ia jadi ikut aktif di pergerakan. Hasan berkenalan dengan Rusli, pemuda atheis yang progresif dan humanis, juga Anwar, seorang anarkis yang semaunya sendiri dan jarang punya uang.

Akhir cerita cinta ini sedih, sih. Pokoknya everybody hurts. Tapi bukan itu yang menjadikan novel ini berkesan buatku.

Setiap kali aku membaca soal Hasan, aku seperti berkaca. Seperti Hasan, aku pun dibesarkan dengan sangat agamis oleh kedua orangtuaku. Sebelum bisa membaca, aku harus sudah bisa mengaji. Sejak belum sekolah aku sudah ikut kajian, dengan seorang ustadz yang luar biasa hebat, namanya Ustadz Sa'id (tapi dia suka menyebut dirinya 'Pak Sangid', seperti dialek orang Jawa umumnya). Ustadz Sa'id tidak hanya mengajariku mengaji, tapi juga menghafal hadis dan menelaah kitab kuning (keluargaku bertradisi NU). Saat kecil aku menganggap Islam itu indah dan Allah itu dekat.

Lalu bangunlah aku dari tidur dogmatisku (ciye).


.......

Aku mulai merasa agama tidak memberikan ruang bagi pertanyaan. Aku ingat pernah protes karena guru agama waktu SMA bilang "selain orang yang beragama Islam, tempatnya adalah di neraka."

Aku mengangkat sebelah tangan. "Tapi bagaimana dengan orang baik seperti Bunda Teresa, Mahatma Gandhi, dan lainnya?"

"Tetap masuk neraka, karena mereka tidak syahadat."

"Tapi kan, mereka berbuat kebaikan melulu?"

"Ya, tapi salah sendiri mereka tidak mencari Islam."

What the fuck, pikirku saat itu. Katanya Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kok pelit amat membuka surganya?

Bibit-bibit keraguan semacam ini mulai tumbuh subur ketika kuliah. Aku mulai berkenalan dengan buku-buku filsafat. Orang pertama yang mengguncang alam pikiranku yang lugu adalah Ludwig Feuerbach. Kata dia, Tuhan itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah proyeksi ketidakmampuan dan ketidakberdayaan manusia. Karena manusia lemah, maka dia ciptakan sesuatu yang Maha Kuat. Karena manusia lekas marah, maka dia ciptakan sesuatu yang Maha Pengasih.

ASU.

Aku waktu itu seperti orang gila. Eh, bukan, lebih mirip seperti orang yang dari lahir matanya ditutup selembar kain lalu tiba-tiba dibuka. Dan seperti Hasan, aku jadi pemarah. Aku berantem dengan siapa saja yang kurasa sok mengkhotbahiku tentang agama. Dan itu termasuk, sedihnya, orang tuaku sendiri.

Episode Hasan berdebat keras tentang Tuhan dan agama dengan kedua orang tuanya yang agamis, benar-benar menamparku. Ini sama persis dengan momenku ketika pulang ke rumah Mama sebagai mahasiswa perantauan. Mama yang selalu cemas dengan keimananku, memintaku shalat Subuh dan mengaji di depannya. Aku, tentu saja ogah. Aku bela mati-matian hakku sebagai individu untuk tidak beragama dan tidak beritual. Aku tantang ibuku, aku segan menundukkan kepala di depan orang yang sudah melahirkanku.

Mom, if you're reading this, I'm eternally sorry....

Sekarang fase itu sudah lewat. Aku sudah tidak lagi memperdebatkan Tuhan ada atau tidak, agama yang benar itu yang mana, ibadah itu harus dengan cara apa, dst. Aku, dengan penuh kerendahan hati, mengakui bahwa sesungguhnya kangen ialah hak segala bangsa tidaklah mungkin bagi manusia untuk mengetahui kebenaran tentang Tuhan. Itu terlalu jauh dari jangkauan.

Karena itu pula, aku tidak mungkin jadi atheis. Orang yang tidak percaya adanya Tuhan, tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, sebagaimana orang yang percaya Tuhan juga tidak bisa membuktikan Tuhan itu ada.

".. soal itu ada di luar kekuasaan kita untuk menyelesaikannya, malah tentang seluk-beluknya yang sebenarnya pun tidak sanggup kita mengetahuinya. [..] Bagi saya, pedoman itu adalah rasa kemanusiaan semata-mata.." (hlm 204)

Kutulis catatan kecil ini dengan harapan suatu saat nanti, bila diperlukan, aku bisa menengok jerih payahku menemukan kembali cahaya iman dalam diri.

Panjang umur kemanusiaan!

6 comments:

  1. Cah senja menyukai blog ini :D


    Di pola masyarakat yang cendrung sekuler (baca: tak begitu peduli dengan ritus agama) apa kisah yang sama bisa muncul ?. Rata rata teman ateis/agnostik muncul dari keluarga yang terlampau fanatik atau sangat peduli agama. Lalu mereka mempertanyakan dan beberapa ada yang ingkar. Uniknya, ini mungkin gejala pada kebanyakan artis, bila masa smannya anak populer, gaul dll. Setelah dewasa jadi religius. Mungkin agama/rutinitas menawarksn jeda pada hiruk pikuk mereka bergelud pada dunia industri. Walau naasnya mereka menjadi fanatik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hae cah senja :D

      Pendapat kamu menarik. Aku pun mengamati fenomena yang sama di sekitarku. Mereka yang enggak dibesarkan secara relijius, justru mudah sekali menjadi agamis. Mungkin karena merasa batinnya "kosong" dan/atau berdosa, agama jadi dianggap seperti kolam yang menyucikan kekosongan dan dosa itu. Tapi, kalau mereka jadi fanatik, menurut aku itu enggak "naas" sih. Itu bagian dari keengganan mereka mempertanyakan dogma agama, entah karena segan atau memang kurang pintar.

      Mengenai ateis/agnostik yang lahir dari keluarga fanatik dan peduli agama, hmm.. aku kenal beberapa kawan yang begini juga, tapi gak berani bilang ini gejala umum. Soalnya, yang bertahan dan semakin relijius kayaknya malah lebih banyak. Mungkin tergantung orangnya, apakah memang ngeyelan/senang mempertanyakan segala sesuatunya? Kalau iya, tamat! Hahahahahaaha...

      Delete
  2. http://antikomunisme.com/

    Yuk dengarkan kajian-kajian menarik dari Radio Islam seluruh Nusantara

    Download dan instal Aplikasinya di:
    https://play.google.com/store/apps/details?id=dev.oasemedia.radioislamindonesia

    Semoga anda mendapatkan hidayah dlm hidup sekejap mata ini

    ReplyDelete
  3. Well, kita sama.. i learn philosophy, and psychology, i doubt, God is exist or not.. but someday, when you can feel God besides you, when you have heavy burden, you can feel very soft sound deep in your heart calling " i love you child, dont be afraid, for i am with you " i know its hard to prove that, like me when i still doubt Him, but i hope someday, you can feel.. something strange.. powerful love, powerful power, beyond your mind and ur thought, a powerful sound calling you " dont be afraid, for i am with you, i love you My child " and you feel very peacefully even you're in the middle of storm, problem still exist in front of you, but you can feel joy and peace, your burden is no more..
    Try ask this simple word.. God, if you exist.. show me, that you're exist ! I wanna find the truth..
    Hope it will open your way to find your faith..

    ReplyDelete
    Replies
    1. How do you know it's God's voice and not your own?

      Delete