Pages

"Jadi Sekarang Ngajar Doang?"

Begitulah pertanyaan yang sering mampir pada saya dua minggu terakhir. Sepertinya keputusan beralih profesi dari praktisi menjadi pengajar adalah sesuatu yang cukup menghebohkan, sehingga orang-orang membutuhkan memakai kata "doang" untuk mendeskripsikan kegiatan "ngajar".

"Sudah enak di Kompas Gramedia, kok, pindah ke sini?"

Memang baru dua minggu terakhir saya menjalani profesi sebagai dosen tetap di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta. Dan selama itu pula saya merasakan, "ngajar" itu sama sekali enggak "doang". Ngajar itu butuh usaha dan kesabaran yang lebih. Kalau dulu sebagai wartawan saya enggak sreg dengan satu topik atau angle, gampang, tinggal drop saja itu artikel dan cari gantinya. Sekarang sebagai dosen, mau bagaimanapun ceritanya, saya harus siap mengawal murid-murid sampai akhir semester.

Kalau dulu sebagai wartawan saya hanya membawahkan 3-4 orang reporter, sekarang saya bertanggung jawab terhadap lebih kurang 100 murid. Bagaimana memastikan mereka senang belajar di kelas? Memahami materi? Enggak bosan atau ngantuk? Paham teori dan aplikasi? Bisa mengambil inti sari pelajaran dan menggunakannya di kehidupan nyata? Dst.. dst..

Ternyata, jadi dosen itu memang besar tanggung jawabnya.

Jadi ingat bahwa sebagai mahasiswa dulu, baik S1 maupun S2, saya tidak pernah teladan. Bolos dan bikin tugas mepet deadline menjadi keseharian. Suatu kali, ketika mengumpulkan tugas, dosen saya komentar, "Kok kertasnya masih anget? Kamu baru ngeprint, ya?" dan seperti biasa saya cuma cengengesan. Saya juga sering taruh tas di loker dan langsung cabut setelah absen untuk ngopi dan makan mie di kantin, kalau kuliahnya saya rasa enggak menarik.

*Mahasiswaku, jika kalian kebetulan baca posting ini, kelakuan saya jangan ditiru, lho..*

Hasil psikotes saya waktu proses melamar jadi dosen juga tak cemerlang. Bagian otak kanan terlalu dominan sehingga saya dinilai tak bisa mengikuti struktur. Secara kejiwaan juga saya cenderung tidak menyukai otoritas dan tak suka ikut aturan. Apalagi, hampir lima tahun jadi wartawan saya biasa kerja seperti kelelawar; otak baru nyala setelah matahari terbenam. Biasa kerja lapangan. Profesor sekaligus mentor saya bahkan sempat mengkhawatirkan saya jadi enggak bisa nulis novel lagi kalau sudah tenggelam dalam kehidupan akademik. Dan saya bukannya tak menyadari "kekurangan" ini.

Terus kenapa, dong, saya mau jadi dosen? Sederhana saja: saya suka belajar dan berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Sepanjang hidup, saya banyak berutang pada para pengajar yang saya temui di bangku kuliah. Mereka membukakan pintu ilmu pengetahuan untuk saya. Lewat mereka, saya belajar bahwa dunia begini luas dengan begitu banyak pemikiran. Mereka mengajari saya keindahan ilmu, juga membangkitkan kesadaran bahwa ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat dunia ini jadi tempat yang lebih layak untuk ditinggali. Mereka membuat saya merasa terinspirasi. Mereka membuat saya ingin jadi orang yang berguna, lebih pintar dan lebih baik.

Dan suatu hari nanti, saya ingin melakukan hal yang sama untuk murid-murid saya.

Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. - Ki Hajar Dewantara, 1977

17 comments:

  1. Who says what to whom in which channel with what effect #AnakFIKOMRadikal

    ReplyDelete
  2. Menunggu Temennya Teteh bikin lagu tentang Oom Lasswell dkk :)

    ReplyDelete
  3. Kalo jadi salah satu mahasiswanya pasti jadi dosen favorit nih.

    Anon1

    ReplyDelete
  4. @Anon1: Heuheuheu.. Bisa aja :))

    ReplyDelete
  5. Terimakasih Bu Andina.
    Hmmm kayaknya lebih cocok Kak Andina deh, soalnya kalo Bu kesannya 'tua'. Terimakasih sudah memutuskan untuk bergabung dengan FIABIKOM dan berbagi ilmu kepada kami.

    Ps: kita ga mungkin keluar kelas pas habis absen buat ngopi kok. Soalnya kelasnya asyiiiiiik ��

    ReplyDelete
  6. @Anon: Aduh, komentar kamu langsung bikin hati saya nyessss adem. Makasih ya. Mari kita saling berbagi ilmu :)

    ReplyDelete
  7. Saya jadi pengin jadi mahasiswa Bunda, agar bisa meniru kelakuannya. #eh

    ReplyDelete
  8. @Muhammad Lutfi Hakim: "Bunda"?? Oh-My-God. Please jangan panggil itu :))

    ReplyDelete
  9. Maaf. Kalau begitu saya panggil mbak saja, ya?

    ReplyDelete
  10. Aku jadi pengen nyobain dateng di kelasnya Mbak Andin deh. Boleh ga sik sekali-sekali join di bangku belakang gituu? Haha

    ReplyDelete
  11. @Dhila: Boleh aja. Tapi harus ngasih kuliah tamu. Hihihi...

    ReplyDelete
  12. Kalau mau sit-in boleh enggak, Ndin? :D

    ReplyDelete
  13. Tenang kak, ga bakal ditiru. dijadiin contoh aja kok itu *kabuuuurrrr*

    ReplyDelete
  14. @Akbar: Jangan.. jadilah murid yang baik, jangan seperti saya. Hahaha..

    ReplyDelete
  15. @Acara Pelangi Luar Biasa (STAR) *prett*. Let's all go to a coffee shop after signing our attendance. lol.

    TTD: Ketua Kelas lols

    ReplyDelete
  16. @Ketua Kelas: Itu hanya boleh dilakukan di kelas yang dosennya enggak menarik. Apakah saya enggak menarik? Hehehe..

    ReplyDelete