Pages

Kangmas Karl Marx

Hari ini masih belum bisa move on dari kuliah Romo Simon Petrus Lili Tjahjadi Senin lalu di STF Driyarkara, tentang Negara dan Dialektika. Selama dua jam, kami diajari tentang dialektika Hegel dan pandangan Marx tentang negara yang berbasis dari pemikiran Hegel tersebut. Saya kegirangan.

Dialektika secara sambil lalu dapat diartikan sebagai cara berpikir yang mengusahakan terjadinya penyatuan (sintesis) dari dua hal yang saling bertentangan (tesis dan antitesis). Misalnya, warna hitam (tesis) dan bukan-hitam (antitesis, katakanlah warna putih) akan membentuk sintesis yaitu warna abu-abu.

Kata Romo Simon, Hegel menggunakan kata Jerman "aufheben" yang artinya bisa (1) mengangkat, (2) menerima/menampung, (3) meniadakan/membatalkan, untuk menggambarkan apa yang terjadi dalam dialektika. Jika kita pakai contoh warna tadi, hitam dan bukan-hitam diangkat ke level yang lebih tinggi, hal-hal dalam hitam dan bukan-hitam diterima/ditampung ke dalam abu-abu (sintesis), dan dengan adanya abu-abu sebagai sintesis itu, maka hitam dan bukan-hitam ditiadakan/dibatalkan.

Rada sulit dipahami yah? Tenang, menurut Romo Simon, "Kalau Anda tidak mengerti, kesalahan bukan pada Anda, melainkan pada  Hegel." :))

Nah, menurut Hegel, negara itu adalah sintesis dari keluarga (tesis) yang merupakan satuan akrab, mengutamakan solidaritas, kolektivitas dan cinta, dengan masyarakat sipil (antitesis) yang serba fungsional, sesuai kesenangan sendiri dan bersifat suka-suka. Negara menjadi ruang di mana kesenangan pribadi diberi tempat, tapi harus sesuai dengan hukum yang dipatuhi bersama.

Sebenarnya kalau ngikutin Hegel, negara bisa jadi ideal. Tapi Kangmas Karl Marx muncul, dengan gagah berani bilang kalau pemikiran Hegel terlalu ideal dan mengambang. Gimana caranya sih sintesis itu terjadi dalam dunia nyata? Marx, yang dari dulu emang pingin membawa filsafat menjadi lebih praktis, bersikukuh bahwa negara tidak lebih dari instrumen kapitalis untuk menumpuk kekayaan dalam keadaan status quo! *efek petir*


Hayo ada apa di kantong akyu?

Jadi, kata Marx, negara seperti yang dibicarakan Hegel itu bukanlah sintesis akhir. Masyarakat proletar tanpa hak milik (tesis) dan masyarakat borjuis yang menguasai modal dan alat-alat produksi (antitesis) akan menjadi masyarakat komunis tanpa kelas (sintesis) melalui proses dialektika. Dan saat titik sintesis ini tercapai, negara --seperti agama-- pun tak dibutuhkan lagi.

Marx adalah salah satu filsuf yang pertama kali saya kenali, lewat buku karangan Romo Franz Magnis-Suseno ("Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme") dan beberapa literatur lain. Sejak dulu saya sudah terpesona pada gagasan Marx, mengenai basis-suprastruktur, keterasingan (yang ia cuplik dari Feuerbach), hubungan borjuis-proletar yang niscaya (atau begitulah yang ia yakini) akan berujung pada revolusi dengan proletar sebagai pemenangnya, dst. 

Ada banyak kritik terhadap pemikiran Kangmas Karl Marx. Ada banyak pula bukti bahwa masyarakat komunis tanpa kelas ala dia, ternyata juga utopia belaka. Saya tidak akan membahas itu.

Yang ingin saya katakan, dengan cita-citanya --paling sedikit bahwa manusia harus berbagi, tidak boleh kaya sendirian, dan jangan sampai mengalami keterasingan dalam pekerjaan hanya demi sesuap nasi Padang-- Kangmas Karl Marx telah menunjukkan kecenderungannya pada humanisme. Filsafat Marx tidak berkutat dengan kata-kata besar belaka, melainkan kecintaan pada apa yang terpenting, yakni hakikat manusia.

Dan itulah mengapa, Kangmas Karl Marx akan selalu spesial bagi saya.

4 comments:

  1. Filsuf sepanjang zaman kok cuma digelari Kangmas :)) Hakim bermodal palu saja selalu disebut Yang Mulia...
    Damn! Mmg berbakat jadi guru...

    ReplyDelete
  2. Lho, "kangmas" itu gelar maha mulia, pak -- suami saja tidak pernah saya panggil "kangmas" :))

    Makasih sudah mampir ke blog jelata ini ya..

    ReplyDelete
  3. Sangat membantu tidak terlalu bertele tele, tapi satu pertanyaan, kesalahan konsep dialektika hegel seperti apa ?

    ReplyDelete
  4. Kalo menurut Marx, "kesalahan" konsep dialektika Hegel ada pada di proses sintesis itu sendiri. Marx mempertanyakan bagaimana kiranya proses sintesis itu bisa terjadi. Ia beranggapan filsafat Hegel kurang praktis, terlalu abstrak, tak sesuai dengan kenyataan yang keras.

    ReplyDelete