Pages

Supaya hidup lebih, eh, bahagia?

Alkisah, Jumat (8/7) lalu saya menghadiri acara talkshow sekaligus booksigning "Cerita Azra" di Cilandak Town Square (Citos), dalam rangka penerbit Erlangga Family Fair 2011. Jadwal jam 16.00 WIB, jam 14.30 saya sudah ngetem di Pondok Pinang menunggu angkutan umum D.02 jurusan Ciputat-Pondok Labu yang akan mengantarkan saya langsung ke depan Citos.

Sesuai rencana, saya akan berada di atas panggung bersama Prof Azyumardi Azra sendiri, dan ekonom senior DR Rizal Ramli. Pak Rizal ini dulu teman Prof Azra waktu kuliah di Amerika, dan wajahnya nampang di buku, tepatnya di halaman tengah. Bersama Todung Mulya Lubis dan Din Syamsudin, Pak Rizal muda berfoto mengenakan celana jins pendek, lengkap dengan kumis gantung dan rambut keriting papan nan cihuy.

Pak Rizal kaget-kaget senang melihat foto unyu itu. Di atas panggung, saya memergoki beliau diam-diam memfoto gambar tersebut dengan BlackBerry. Mungkin mau dijadikan display picture demi mengenang masa muda yang bergelora.


Young, naive and fashion-less.

Masuk ke pelataran Citos, sudah disambut ingar bingar lomba menghias kue mangkok. Saya masuk dan melihat-lihat buku bersama para pengunjung lain. Sempat nyengir senang saat melihat seorang bapak membeli tiga biji buku Cerita Azra, saya dicolek teman dari Erlangga untuk diperkenalkan dengan MC, yang ternyata eh ternyata, adalah kakak kelas saya semasa kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang: Elmiko Rahmadhoni yang biasa dipanggil Oni. Di rumah mbak Oni-lah saya biasa menginap dan menghabiskan hari-hari penuh kemalasan dengan menonton aneka ria DVD bajakan.


Ternyata dunia memang selebar daun kelor.

Tak lama kemudian, Prof Azra datang. Berempat dengan Adhika, editor Erlangga, kami pun ngopi-ngopi cakep di Starbucks. Saya sempat mencolek beliau sambil bilang bahwa situasi ini bisa jadi headline majalah Sabili: "Talkshow buku biografi Azyumardi Azra disponsori Yahudi!" Mendengar kelakar saya, Prof Azra ketawa-ketawa saja seperti biasanya. Kira-kira 30 menit kemudian, Pak Rizal Ramli menyusul. Setelah sempat nyasar ke Coffee Bean, beliau mendarat juga di Starbucks dengan berbekal Green Tea Latte.

Oke, talkshow pun dimulai. Prinsipnya sih cuma acara ngobrol-ngobrol dipandu moderator, tapi bagi para pengunjung yang ingin bertanya, waktu dan tempat dipersilakan. Berganti-ganti saya, Prof Azra, dan Pak Rizal, menjawab aneka pertanyaan. Di antara rombongan penanya ada Linda Djalil, mantan wartawan Tempo yang sekarang terkenal dengan genre puisi jurnalistik-nya. Kami sempat berbincang sebentar dan Mbak Linda bilang dia suka bukunya. Senang :)



Trio Lingua.

Selama acara inilah, saya tiba pada sebuah kesimpulan yang gejalanya sudah mulai muncul saat peluncuran buku pertama di Hotel Nikko, 23 Juni lalu: saya adalah narasumber yang buruk. Alih-alih bisa luwes menghadapi pertanyaan demi pertanyaan, saya selalu menjawab dengan mbulet. Masih untung tidak pakai 'eeeee..' 'eeeee'; jangan-jangan nanti dikira masih saudaranya Harmoko. Saya juga tidak bisa berbasa-basi, bukan orator yang baik, dan cenderung memberikan pernyataan seperlunya.

Padahal, saya seorang jurnalis. Dan sebagai jurnalis, jenis narasumber inilah yang paling saya benci. Saya selalu sebel sama narasumber yang ditanya A jawabnya B, atau mau jawab D tapi muter dulu ke G, H, I, dan J. Saya juga rada keki sama narasumber yang kalo ditanya jawabnya pendek-pendek, tidak pandai memilih kata-kata, dan suka meralat sendiri pertanyaannya. Tapi lihat dong, sebagai narasumber, ternyata saya termasuk golongan yang sedemikian.

Dan demi pantat J-Lo, saya baru sadar, ternyata menghadapi pertanyaan itu tidak mudah, ya! Di atas panggung, Oni bertanya apa sih yang ingin saya sampaikan lewat penulisan buku ini, dan saya jawab "Ya, semoga menyenangkan membacanya, dan ada hal yang bisa diambil untuk membuat hidup pembaca lebih, eh, bahagia.." Bahagia? Ya ampun, itu kan kata-kata yang hanya ada di kitab suci dan novel-novel Zara Zettira!

Belum lagi waktu sesi tanda-tangan, ada anak yang nanya apa sih kiat saya dalam menulis. Dengan supertengil saya bilang, "kiat menulis hanya satu, yakni ditulis.." Sumpah saya tiada bermaksud tengil, tetapi memang begitulah yang terlintas di kepala saya. Dan seperti biasa saya tidak bisa memikirkan hal-hal lainnya.

Saya paling susah jawab pertanyaan-pertanyaan seperti, "bagaimana sih awalnya punya ide menulis buku ini" atau "apa saja kesulitannya", dan "apa yang ingin dicapai dengan penulisan buku ini". Tergoda sekali untuk menjawab dengan "ya tahu-tahu aja begitu", "nggak ada tuh", atau "ya pingin aja"--tapi itu akan mengecewakan orang lain dan saya sangat tidak suka mengecewakan orang lain.

Jadilah saya terjebak dalam pola-pola jawaban kikuk, yang selalu saya ketawain dalam hati kalo pas dapat narasumber bertipe demikian. Pesan moralnya, habis ini saya akan lebih toleran sama narasumber saya yang suka gagu mendadak saat berhadapan dengan media. Alih-alih ngeledekin, saya akan tepuk-tepuk punggung mereka dengan penuh simpati, bahwa menghadapi wartawan, dan pertanyaan-pertanyaan, memang nggak pernah gampang.

14 comments:

  1. nicely done my friend, bangga nih :)

    *ps: aku juga mau dong, tp bukan tandatangan, cap bibir gimana? :p

    ReplyDelete
  2. oni idolanya adiet hitler ?? :3

    ReplyDelete
  3. Wakakakaa.... lucu. Lucu.

    Anon1

    ReplyDelete
  4. wah senangnya... sayang gak bisa ikut... baru bca sekilas bukunya, rada datar awalnya... tapi dari segi informasi, salut... kamu memang jurnalis handal :)
    semoga bisa menginspirasi kita semua, anak-anak muda, menjadi lebih tekun dan produktif dalam berkarya...

    ReplyDelete
  5. Amin, amin, amin. Thanks utk atensinya ya

    ReplyDelete
  6. sama-sama. saya salah satu pengagum berat kamu. kalau kita ketemu boleh ga cipika cipiki? #ngarang

    ReplyDelete
  7. Sempet kesel gara-gara waktu sesi nanya, saya sengaja nanya perihal cinta-cintaan ke istrinya Pak Azra( maksudnya biar dia ngomong gitu... soalnya dari tadi dia cuma mesam-mesem aja...) ... eh beliau cuma jawab.. kalo mao tau ceritanya, silakan baca aja bukunya... Jiyaaaaaa... kecewa daku... maksudnya kan biar seru gitu kalau Bu Azra yg ngomong..., sempet lemes, tapi hebatnya MC kita yg seksi itu (gua nyesel gak sempet foto sama doi..(hallah apa coba?)) menyambar kondisi itu dengan berkata "Nah, kalo mau tau ceritanya,, beli dong Mas..." saya diam sejenak.. dan Wooooowww fantastis!!! ternyata tanpa sengaja sebetulnya kami bertiga ini sedang menciptakan PROMOSI tanpa SKENARIO yang bikin orang penasaran.. than... walhasil kawan saya (yg juga editor) yg duduk di belakang, sambil menepuk punggung saya, dia bilang: "adegan itu sengaja dibuat ya??" saya nyengir kuda aja. Beberapa menit acara usai, di area rak buku karya Mba Andin ini dijual, ada seorang ibu muda yg saya rasa bergelagat hendak membeli buku itu (naluri sales gua keluar dooong), saya sengaja menghampiri "Ini buku bagus loh bu, baru saja tadi ada talk show nya" cerocos saya bak salesman senior, "oh iya, tadi saya lihat acaranya mas, Saya memang mau beli, soalnya penasaran, saya mau baca kisah cintanya Pak Azra" sejenak hening..
    ibu itu pun berlalu pergi ke kasir, mendadak ada bayangan di kepala sebuah cover buku berjudul "CERITA CINTA AZRA" Karya Zara Zettira ZR.

    ReplyDelete
  8. @Hijrah: Zara Zettira, ini proyek Anda selanjutnya.. *lempar bola ke Zara Zettira* *sembunyi tangan*

    ReplyDelete
  9. @Hijrah: Hahahaha.. emang tek-tok umpannya asyik banget! Kayak udah dirancang! Bu Azra juga pas banget komentarnya, aslinya sih doi pemalu, tapi keluarnya jadi oke, dan disamber dengan pas oleh MC (omong-omong namanya Oni hehe). Dan berhasil :) Selamat ya mas Hijrah, naluri jualan anda juara!

    ReplyDelete
  10. Resensi bukumu ada juga di KORAN BISNIS INDONESIA Edisi 3 Juli
    judul "sir mardi yg enggan berpolitik"

    ReplyDelete