Pages

Formal Menurut Iqbal


Kadang-kadang, beragama tapi tidak beritual hanya terasa seperti makan di warung padang tanpa mengangkat sebelah kaki.

Tetapi ritual bukan, dan seharusnya tidak, jadi sekadar masalah kebiasaan. Ritual harus punya makna. Saya pernah membaca tentang tokoh supir limosin dalam novel Haruki Murakami, A Wild Sheep Chase, yang punya nomor telepon Tuhan - hotline pula.

Ia mengaku bisa telepon Tuhan kapan saja dan hampir selalu diangkat (sekalinya tak diangkat mungkin Tuhan lagi di wese). Di luar kebiasaan Murakami untuk seenaknya membolak-balik batasan yang sah dan tidak sah dalam plot cerita, menurut saya begitulah seharusnya ritual; ia seperti 'sambungan langsung' kita pada Tuhan. Dalam ritual kita menyadari makna eksistensi kita di dunia yang serba sunyi, menceritakan segala permasalahan kita, meminta pertolongan-Nya, juga mensyukuri pemberian-Nya.

Dan pertanyaan paling absurd kemudian muncul: bagaimana caranya memberi makna begitu dalam pada sesuatu yang kita lakukan secara rutin?

Karena saya muslim, saya akan bicara tentang ritual shalat. Kami umat muslim diperintahkan shalat wajib lima kali sehari: subuh (pagi), dzuhur (siang), ashar (sore), maghrib (selepas senja), dan isya' (malam). Konon perintah shalat ini didapat Nabi Muhammad dalam perjalanan isra' mi'raj-nya, itu pun sesudah didiskon bolak balik karena awalnya Tuhan memerintahkan umat Islam untuk shalat 50 atau 55 kali dalam sehari. Saya percaya cerita ini tidak untuk dimaknai secara harfiah.

Pertama, hanya Tuhan yang sangat butuh pengakuan yang minta disembah 50 atau 55 kali dalam sehari. Kedua, dengan menyuruh umat-Nya shalat 50 atau 55 kali dalam sehari, Tuhan mau membunuh peradaban. Manusia akan shalat setiap 26 menit sekali. Ditambah wudhu dan zikir, bisa makan dan tidur saja sudah untung. Syukur-syukur sempat bercinta.

Jadi, dalam sehari seorang muslim shalat 5 kali. Seminggu 35 kali. Sebulan 140 kali. Setahun 1.680 kali. Andaikan seseorang sudah hidup 24 tahun dan mulai shalat sejak umur 9 tanpa sekali pun merasa malas, ia sudah shalat 40.320 kali. Bayangkan! Empat puluh ribu kali shalat dan semuanya harus bermakna.

Nah, enam tahun terakhir saya ribut tanpa henti dengan diri saya sendiri soal ini. Degradasi ritual yang jadi sekadar kebiasaan membuat saya melakukan berbagai resistensi termasuk dengan meniadakannya sama sekali. Tapi itu pun tak memberi jawaban. Shalat tak shalat, manusia tetap merindukan Tuhannya. Tinggal sekarang bagaimana cara melampiaskannya.

Beberapa orang berbuat baik tanpa harus shalat. Mereka tahu bagaimana menghormati orang yang berbeda keyakinan, mengasihi tetangga, dan mencintai sesama. Beberapa orang shalat tapi tidak berbuat baik. Mereka hanya tahu menyegel rumah ibadah setiap kaum yang kepercayaannya berbeda.

Tapi beberapa orang bisa melakukan keduanya, dan agar dapat menjadi orang seperti itu, mari kita periksa konsep shalat menurut Muhammad Iqbal.

Iqbal adalah filsuf eksistensialis asal Pakistan yang paling berpengaruh. Saya berkenalan dengannya melalui Friedrich Nietzsche. Dalam riwayat Nietzsche selalu ada bagian yang menyebutkan filsuf-filsuf yang terpengaruh olehnya, dan nama Iqbal tak pernah terlupa. Konsep shalat menurut Iqbal sendiri saya baca dalam bukunya yang berjudul Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, yang diterbitkan ulang Jalasutra pada 2002 dan 2008. Aslinya buku ini pertama kali diterbitkan oleh Tintamas nyaris 30 tahun lalu, tepatnya tahun 1982. Terjemahan oleh Ali Audah, Taufiq Ismail, dan Goenawan Mohamad.

Ada beberapa poin dalam argumentasi Iqbal tentang posisi penting ritual, khususnya shalat, dalam agama.

Pertama, agama tidak pernah puas hanya dengan konsepsi. Ia selalu berusaha mendapatkan pengetahuan yang lebih lazim tentang, dan berhubungan, dengan objek yang ditujunya (dalam hal ini Tuhan). Psikolog Amerika William James bilang, sebagaimana dikutip Iqbal, "..Desakan beribadah merupakan suatu konsekuensi logis dari kenyataan, bahwa meskipun ego-ego empiris seseorang dengan suara batin yang paling dalam adalah suatu ego yang bercorak sosial, tetapi ia hanya dapat menemukan socius (teman akrabnya) yang serasi dalam suatu dunia ideal.."

Dengan demikian, ritual agama adalah usaha seseorang untuk mengakrabi dirinya sendiri, atau dalam bahasa Iqbal, mengatasi Alam dan memberinya pandangan total tak terhingga yang telah dicari oleh filsafat tapi tak kunjung dapat. Pandangan total tentang apa? Tentu saja, tentang eksistensinya yang sunyi, dan makna hubungannya dengan Alam (Tuhan?).

Saya berpendapat manusia tidak bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Ritual adalah salah satu cara yang disediakan agama untuk membantu manusia berdamai dengan rangkaian pertanyaan tersebut, meskipun barangkali saja tidak akan bisa menjawabnya secara penuh (pandangan total tak terhingga sifatnya subjektif, dengan demikian setiap jawaban dapat selalu difalsifikasi oleh jawaban lainnya).

Jadi dalam pencarian makna ritual formal, seseorang harus mandiri. Tanpa buku panduan, tanpa AA Gatot, tanpa Mario Teguh. Usaha mencari makna ritual adalah usaha individu dalam kondisi sunyi senyap. Usaha menemukan dirinya sendiri dalam alam raya yang semuanya bergerak masing-masing.

Catatan menarik lain tentang shalat menurut Iqbal adalah juga tentang jamaah. Menurut Iqbal, tujuan shalat yang sebenarnya dapat dicapai secara lebih sempurna apabila shalat itu bersifaat jamaah sebab semangat semua shalat yang sejati adalah sosial. Ia berpendapat jamaah merupakan himpunan orang-orang yang dijiwai oleh cita-cita yang sama, memusatkan diri ke arah suatu objek tunggal yang sama.

Saya sepakat dengan Iqbal - tapi dengan alasan yang lebih profan. Shalat berjamaah baik untuk memperkuat fungsi sosial. Yang kaya dan miskin berdiri sejajar dalam barisan (meskipun mungkin rakyat kecil tetap tak bisa shalat di samping pemuka negara, apalagi jika yang dimaksud itu SBY), dan siapa pun sepakat saat-saat ngobrol santai di masjid selepas shalat adalah saat diskusi yang menyenangkan, dan bagi beberapa pihak, saat menggalang opini untuk menambah kekuatan berserikat.

Jadi, bisakah kita memperlakukan ritual formal tidak sekadar kebiasaan, apalagi sesuatu yang berdosa jika tidak dilakukan? Dapatkah kita memberi makna pada sebuah keharusan? Dapatkah kita berkata bahwa kita memang memerlukan ritual, bukan karena kita diharuskan melakukannya?

Terakhir, akan saya kutipkan sebuah paragraf menawan dari Iqbal:

"Shalat adalah suatu proses penemuan unik, di mana ego yang mencari meyakinkan sendiri justru di saat penolakan diri, dan dengan demikian menemukan harga dan pengesahan dirinya sebagai suatu faktor dinamis dalam kehidupan alam semesta."

3 comments:

  1. Saya punya keyakinan yg sama soal solat dgn apa yg Iqbal maksudkan. Tapi sayangnya, saya belum baca bukunya, jadi kesimpulannya masih ditataran perkiraan. Kalau pun sudah baca, tanpa bertemu dan melihat langsung Iqbal solat pun kurang. Dan kalau pun sudah jadi teman akrab Iqbal, kita gak bisa tahu hal yg pling esensial dari solatnya Iqbal. Kenapa? Itu soal yg luas, sulit dijelaskan di komen ini. Tapi ada pertanyaan, kenapa orang beragama mesti beribadah? Dan ini hal yang sangat sulit terjawab, kecuali kita memahami orang yg beragama cenderung bertuhan, dan bersyariat. Kita juga mesti paham, kalau orang yg beragama pun, punya tingkatan sendiri dlm ketakwaannya kpd Tuhan. Dan soal ini lbh kompleks. Tulisan yg keren.

    ReplyDelete
  2. @Anon: Ya, poin dari tulisan ini memang gimana caranya kita menjalankan sebuah keharusan tanpa kehilangan makna. Mengenai kenapa orang beragama musti beribadah, saya kira dari pertanyaannya juga kurang tepat. Secara pribadi saya berpendapat orang beragama nggak musti beribadah; itu pilihan masing-masing.

    ReplyDelete
  3. Oh gtu. Brarti tulisan ini brupa polemik seputar peribadatan yang dengan atau tanpa makna, begitu?
    Okay.
    Dari kutipan tentang solatnya Iqbal, saya pikir, Iqbal menempatkan solat sebagai tindakan asketis. Meniadakan ego dalam pencarian terhadap Ego.

    ReplyDelete