Pages

Mereka Menjual Nietzsche


Sebuah biografi bukanlah biografi jika ia tidak bicara tentang keseluruhan hidup sang tokoh. Yang seperti ini mungkin lebih tepat disebut biografi penggalan.

Inilah yang terjadi pada film When Nietzsche Wept. Harapan untuk mendengarkan cerita hidup secara kronologis sang filsuf kontroversial, Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), pupus setelah melihat bahwa film ini ternyata lebih banyak bercerita tentang hal lain, yaitu tentang lahirnya psikoanalisis.

Dikisahkan Profesor Nietzsche (Arman Assante) di tahun 1882 sedang menjadi buah bibir karena ajaran-ajarannya yang berani. Ia baru saja merilis buku Die Fröhliche Wissenchaft, di mana dalam buku itu ia menuliskan ungkapannya yang terkenal, “Tuhan sudah mati, dan kita semua yang membunuhnya!”

Publik gusar. Ungkapan Nietzsche dinilai terlalu berbahaya bagi peradaban Kristen yang saat itu sedang mapan-mapannya. Kelas-kelas Nietzsche hanya dihadiri oleh sedikit orang saja, mungkin sebagai tanda protes publik Jerman terhadap kegilaannya. Di antara sedikit filsuf yang tertarik pada pemikiran Nietzsche itu tersebutlah nama Lou Salome (Katheryn Winnick), filsuf perempuan kawan Paul Ree, sahabat Nietzsche.

Inilah rupanya awal dari kiamat kecil Nietzsche. Ketertarikan Salome pada ajaran Nietzsche, kecantikan dan kecerdasannya, segera memikat hati sang filsuf. Nietzsche jatuh cinta. Begitu menggebu-gebunya perasaan Nietzsche pada Salome, sehingga ketika lamarannya ditolak, Nietzsche frustrasi. Ia mengalami migrain terus menerus sebagai tanda obsesinya pada sosok Salome.

Merasa bersalah, Salome meminta bantuan pada psikolog terkenal saat itu, Dr. Josef Breuer (Ben Cross) untuk menyembuhkan Nietzsche. Salome khawatir Nietzsche memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Hal ini nampak dari surat-surat yang terus dikirimkan Nietzsche pada Salome.

Breuer setuju membantu Nietzsche. Dengan kedok menyembuhkan migrain, Breuer mencoba menyelami kejiwaan sang filsuf yang dirasanya sangat unik. Tanpa disadari Breuer, talking theraphy yang dijalankannya pada Nietzsche malah menyingkapkan tabir psikisnya sendiri. Proses ini menarik perhatian Sigmund Freud muda (Jamie Elman), murid Breuer, sekaligus menginspirasi lahirnya psikonalisis.

Secara keseluruhan memang film ini menarik. Sejarah tentang lahirnya psikonalisis, satu aliran psikologi terpopular yang terus dipelajari sampai saat ini padahal umurnya sudah ratusan tahun lebih, dihadirkan secara jauh lebih hidup ketimbang bila kita membacanya lewat sejumlah halaman sebuah buku tebal.

Tokoh-tokoh yang selama ini hanya bisa kita baca namanya, bisa kita lihat rupa-wajahnya lewat film yang diangkat dari novel karangan Irvin D. Yalom ini. Kita pun dimanjakan dengan penggambaran karakter para tokoh besar pelaku sejarah yang begitu manusiawi. Nietzsche, misalnya, ternyata hobi menyisir kumisnya sendiri dengan sikat kecil berwarna coklat yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia juga menangis terharu ketika Breuer menawarkan persahabatan padanya. Detail macam ini dapat membangun kedekatan psikologis audiens dengan para tokoh yang sedang ditontonnya.

Tetapi mengapa judulnya harus memakai nama Nietzsche bila jalan cerita sendiri lebih banyak bercerita tentang Breuer dan kelahiran psikoanalisis? Itu pertanyaannya. Dengan judul kontroversial macam When Nietzsche Wept, mau tak mau audiens memang digiring pada harapan akan mendengarkan cerita tentang hidup sang filsuf, meski kenyataannya toh bicara lain.

Katakanlah film ini memang hanya mau bicara tentang kelahiran psikoanalisis. ‘Dosa’ memakai nama Nietzsche (meski memang semuanya berawal dari obsesi pribadi sang filsuf terhadap Salome) diperparah dengan tidak adanya detail mengenai cerita cinta kedua tokoh ini.

Tidak banyak yang tahu bahwa konflik yang terbangun sebenarnya merupakan kisah cinta segitiga. Nietzsche menyukai Salome, sementara diam-diam Salome dan Ree telah menjalin hubungan. Salome juga pernah menyatakan bahwa ia bersedia menerima lamaran Nietzsche untuk menjadi istrinya asalkan Nietzsche juga merelakannya menikah dengan Ree. Singkatnya, Salome ingin poliandri.

Hal ini sebenarnya terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Sayang, dalam film ini tak banyak disinggung mengenai triangle love yang dialami Nietzsche-Salome-Ree. Padahal mungkin akan lebih banyak yang bisa digali dari sana. Nampaknya film ini memang memberi perhatian pada perkara psikoanalisis, sementara nama Nietzsche kebetulan ada karena penulisnya mengambil obsesi Nietzsche pada Salome sebagai titik awal.

Selain itu, besar kemungkinan bahwa nama Nietzsche sengaja dicatut untuk kepentingan pasar. Bayangkan bila film ini memakai judul “When Breuer Wept”! Tak akan laku, meski sebenarnya dalam film ini Nietzsche dan Breuer toh sama-sama wept alias menangis

Ada komentar menarik dari salah seorang penggemar Nietzsche dalam sebuah fansite. Ia mengatakan bahwa, “.. anak muda tidak akan dapat menikmati film ini, sekurang-kurangnya karena mereka belum pernah berada dalam situasi di mana hidup benar-benar hambar dan membosankan, seperti tokoh Nietzsche dan Breuer.”

Benarkah hal ini? Bisa jadi, terutama bila kita berpegang pada teori di mana untuk dapat menikmati sebuah film, orang harus memiliki kesamaan emosional dengan jalan ceritanya. Meski demikian, bila mencermati cara penceritaan sutradara Pinchas Perry, agaknya hal itu bisa diminimalisir.

Perry bertutur dengan gaya perlahan. Penonton tidak perlu takut ‘ketinggalan kereta’ karena pusing memikirkan latar dan tema. Namun tetap saja, bila ada audiens yang menonton film ini dengan harapan akan disuguhkan cerita tentang biografi kehidupan Nietzsche (yang memang sangat menarik), dipastikan dia akan kecewa.

Sampai saat ini memang Nietzsche masih menjadi kontroversi, dikagumi sekaligus dihindari. Dalam dunia bisnis, yang kontroversial pastilah menjual. Agaknya logika berpikir inilah yang digunakan produser buku Yalom dan film ini.

(dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 3 Februari 2008)


4 comments:

  1. kawan, bagaimana cara untuk mendapatkan film atau novel itu?

    ReplyDelete
  2. aku sangat kagum dgn pmikiranmu. mungkin kita bsa lebh saling knal. Maaf jika trlalu mengganggu, ini hanya pengungkapan perasaan, atau mungkin pikiran? salam kenal.

    ReplyDelete
  3. Film ini saya dapatkan DVD bajakannya di Mall Mangga Dua, Jakarta. Saya rasa bisa kamu dapatkan di lapak-lapak yang agak besar. Selamat mencari ya.

    ReplyDelete