Pages

Hewan Berpikir, Manusia Tertawa


Seandainya Descartes masih hidup sampai sekarang, ia tentu akan terkejut melihat bahwa ternyata para hewan bisa pergi tamasya.

Ya, tokoh pemikir René Descartes (1596-1650) terkenal dengan ajarannya tentang dualisme tubuh dan jiwa manusia. Dalam buku F. Budi Hardiman yang berjudul Filsafat Modern terbitan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (2004), Descartes membedakan manusia dan hewan dari kemampuan mereka mengendalikan badan. Bila manusia bisa berpikir kreatif dengan jiwanya, hewan diumpamakan Descartes tak berdaya.

Nah, dalam semangat kejenakaan, kita boleh berangan-angan betapa Descartes akan terpingkal-pingkal menonton film-film Hollywood kekinian yang mengambil aktor para hewan. Tidak seperti dongeng fabel bikinan Aesop di mana hewan-hewan ‘hanya’ bisa bermusyarawah dalam rapat hutan, hewan-hewan aktor Hollywood ini bisa berdansa tango, makan pizza keju, dan liburan sampai ke Meksiko.

Plot terakhir terjadi dalam film teranyar produksi Walt Disney berjudul Beverly Hills Chihuahua (BHC). Film yang rilis pada 3 Oktober silam ini diperankan oleh dua ekor anjing chihuahua (Chloe dan Papi), seekor anjing german shepherd (Delgado), dan seekor doberman (El Diablo). Keempat anjing ini berpetualang bersama di tanah Meksiko yang hangat dan eksotis, dengan kepentingannya masing-masing.

Chloe (Drew Barrymore), si anjing chihuahua betina, dikisahkan sedang liburan ke Meksiko. Karena ceroboh, ia tersesat. Tubuhnya yang mungil dan citranya sebagai anjing mahal membuat Chloe harus mati-matian menghindari kejaran para penculik anjing yang ingin menangkap dan menjualnya.

Dalam keadaan seperti ini, Chloe tidak punya pilihan lain kecuali bergantung pada teman-temannya: seorang anjing german shepherd kesepian bernama Delgado (Andy Garcia), dan anjing chihuahua jantan yang tergila-gila pada Chloe bernama Papi (George Lopez). Bertiga mereka berusaha menyelamatkan Chloe yang dikejar-kejar oleh El Diablo (Edward James Olmos), seekor doberman yang khusus disewa para penculik anjing untuk menangkap Chloe.

Cerita kejar mengejar dengan segenap kelucuan ini terbukti masih merupakan jurus yang ampuh. Mengumpulkan nyaris 30 juta dolar di minggu pertama rilis, sampai kini BHC sudah meraup total 37, 8 juta dolar dan meraih posisi teratas dalam tangga film Hollywood terlaris. Laris manis.

Kembali ke semangat kejenakaan Rene Descartes. Dualisme Cartesian, demikian ajaran Descartes tentang hubungan jiwa dan badan sering disebut, barangkali memang menemukan versi posmonya dalam film animasi binatang. Kata Descartes, badan disebut l’homme machine, yaitu mesin yang bisa bergerak sendiri. Tanpa berpikirpun, badan bisa melakukan aktivitasnya sendiri.

Jiwalah yang diposisikan Descartes sebagai aspek rasio manusia. Jiwa membuat manusia bisa berpikir. Meminjam kalimat Budi Hardiman (2004: 41), manusia paling dungu sekalipun menunjukkan kebebasan karena memiliki jiwa. Dalam diri manusia, jiwalah yang mengendalikan mesin, alias badan. Sementara hewan, tutur Descartes, tidak memiliki jiwa dan karenanya tidak mungkin menjadi tuan bagi dirinya sendiri.

Di kemudian hari, dualisme Cartesian ini mendapat tentangan dari tokoh pemikir Yahudi Baruch de Spinoza (1632-1677). Menurut Spinoza, badan dan jiwa adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Setiap hal yang dilakukan oleh suatu makhluk adalah perwujudan dari aspek mental dan material, atau, perwujudan dari badan dan jiwanya.

Ketika seorang manusia berpura-pura tersenyum padahal hatinya sedih, itu adalah hasil perwujudan badan dan jiwanya yang bermusyawarah untuk menentukan sikap. Sama halnya dengan anjing peliharaan kita yang cenderung tidak bisa berbohong: menggonggong ketika merasa terancam, menggoyangkan ekor bila hatinya senang, itu adalah perwujudan kesatuan badan dan jiwanya. Tentu saja, dalam versi jiwa seekor anjing yang bisa jadi tidak sekompleks manusia.

Lantas bagaimana dengan anjing chihuahua yang bisa pergi liburan sampai ke Meksiko? Inilah kenyataan versi media. Meskipun di dunia ini sulit membayangkan ada anjing yang bisa selamat kembali pulang dari Meksiko ke Beverly Hills dengan bantuan dari dua ekor anjing lain, setidaknya kita sama-sama sepakat bahwa, ya, ada banyak versi jiwa. Manusia, anjing, dan semua makhluk hidup lain, sama-sama memiliki jiwa yang menyatu dengan badannya, bersama-sama mewujudkan diri dalam apa yang dinamakan dengan sikap, perilaku, tindakan, dan sebutan-sebutan lain yang intinya sama dan sebangun. Dengan demikian, hilang sudah otoritas manusia untuk sembarangan mengatakan bahwa makhluk lain selain dirinya, tak berjiwa.

Sayangnya, dekonstruksi yang dilakukan film BHC ini tidak pol. Jika kita perhatikan, karakter anjing-anjing dalam film ini dimirip-miripkan dengan stereotip dalam dunia manusia. Tokoh Chloe diceritakan manja dan tidak bisa mengurus diri sendiri, mirip seorang uptown girl yang tidak biasa hidup mandiri. Tokoh El Diablo pun mengambil bentuk seekor doberman agar terkesan seram, padahal menurut situs ensiklopedi kenamaan Wikipedia, anjing doberman sebenarnya lembut, penyayang, dan hanya menyerang jika orang yang disayanginya terganggu. Saking lekatnya doberman dengan citra sebagai anjing militer dan kepolisian, sampai-sampai ketika muncul kesempatan untuk mejeng dalam film, ia pun harus puas dengan posisi penjahat.

Namun demikian, mungkin memang harus begitulah formula untuk sebuah fabel komedi. Dengan melihat kemiripan antara dirinya dengan para tokoh hewan tersebut: sama-sama bisa berkata-kata, membangun persahabatan, pergi liburan, barangkali jadi lebih mudah bagi manusia untuk terpingkal-pingkal. Apa boleh buat, ketika hewan berpikir, manusia pun jadi tertawa. Hahaha!

(dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 19 Oktober 2008)

No comments:

Post a Comment