Buku-buku dari Masa Kecil

Gara-gara baca Trocoh, dan kemudian diajak Mas Budi seseruan ngobrol di acara launching buku itu, aku jadi mengingat-ingat bacaan dan relasiku dengan buku saat kecil.

Dulu aku punya taman bacaan di rumah yang kuberi nama "Cobain" (yes, after Kurt!). Abangku senang memutar "Smells Like Teen Spirit" berulang-ulang jadi pastilah yang namanya Kurt Cobain itu keren sekali. Dan, jika dilafalkan dalam lidah Indonesia, Cobain berarti co-ba-in, sebuah  call-to-action yang brilian dalam benak anak kelas dua SD.

Rencananya, aku akan mempersilakan teman-teman membaca buku koleksiku di sela-sela sesi bermain kami dan kalau mereka mau membawanya pulang, akan kupungut sewa. Tapi, aku lekas menjadi kesal karena teman-teman meletakkan buku-bukuku secara sembarangan, melipatnya di sana-sini, meletakkannya dalam posisi terbalik kemudian ditinggalkan begitu saja, dan seterusnya. Jika mereka bisa memperlakukan bukuku dengan semena-mena di saat pemiliknya ada, apa yang akan mereka lakukan terhadap bukuku jika aku tak di sana? Maka aku ngambek dan Cobain pun ditutup selamanya.

Meski Cobain berumur pendek, kenanganku padanya cukup panjang. Berikut adalah buku-buku di rak Cobain yang paling berkesan bagiku. Mengikuti Mas Buswitradio, daftar ini berisi 5 buku.


1. STOP (Sporty, Thomas, Oscar, Petra) - Stefan Wolf

Lupa nama anjingnya. Gambar dari sini.

STOP adalah serial detektif remaja asal Jerman karangan Stefan Wolf. Anggotanya Sporty, Thomas, Oscar, dan Petra, hence the name. Sporty (bukan nama asli) adalah pemimpin kelompok. Anaknya tinggi, hitam, cakep, tipe-tipe cowok yang disukai semua orang. Girls like him, boys want to be him, walaupun nggak menutup kemungkinan ada juga anak laki-laki yang suka dia. Mungkin kalau serial ini di-remake sama Netflix, ceritanya Thomas diam-diam naksir Sporty juga sehingga ada selipan bumbu kisah cinta segitiga.

Sporty anak yang pintar, sopan, dan jago berkelahi. Dia nggak pernah belajar dan bikin PR lama-lama tapi selalu jadi murid terbaik. Dia naksir (dan ditaksir) Petra tapi nggak pernah ada kata jadian di antara mereka. Mungkin kalau di Indonesia Sporty itu kayak Mas Boy. Terserah boy, ku hanya mengingatkaaaan...

Tokoh kedua, Thomas, adalah otak kelompok. Si anak super cerdas nan cupu yang kalau gugup selalu mencopot kacamata dan mengelapnya berulang-ulang. Adapun Oscar hobinya makan coklat dan ayahnya punya perusahaan (coklat?) sehingga dia yang paling kaya di antara mereka. Petra gadis pintar, jago berenang, dan tentu saja, gebetannya Sporty.

Gara-gara STOP, aku jadi terobsesi mengarang cerita detektif. Kutulisi buku-buku Sinar Dunia dengan kisah kasus-kasus petualangan rekaan sendiri. Yang paling fenomenal, cerita detektif dengan tokoh dua bersaudara Liam dan Noel Gallagher. Like, what??? Kalau Liam dan Noel beneran jadi detektif, mereka cukup memecahkan satu kasus saja yaitu kenapa Oasis bubar.


2. Buku Pintar Seri Senior - Iwan Gayo

Meski nggak sampai ikut kuis kayak Mas Budi, aku juga menganggap segala hal di dunia ini ada penjelasannya di Buku Pintar. Iwan Gayo pastilah manusia paling rajin di muka bumi. Rasanya senang sekali menelusuri info-info negara, bendera, astrologi, dan macam-macam info yang kalau dipikir-pikir kurang relevan dengan kehidupan anak SD pada masa itu. Dan tentu saja di dalamnya ada bagian cukup panjang tentang biografi Soeharto (eh ini di buku Senior atau Junior, ya?) Saking seringnya baca buku ini, aku sampai hafal Soeharto waktu kecil hampir mati karena menelan koin dan dia tipe orang yang hemat baju. Maksudnya, baju yang baru dipakai 1x digantung dulu (diangin-angin) dan tidak buru-buru dicuci. Ya gitu lah, proses humanisasi demon  pemimpin...


Gambar dari sini


3. Tintin - Herge

Bisa dibilang inilah buku yang mengubah hidupku. Tintin bikin aku kepingin terjun ke dunia jurnalistik karena kayaknya jadi wartawan kok asyik banget? Berpetualang ke sana kemari, terlibat hal-hal asyik, seru, dan menegangkan, punya banyak kawan, bisa pelihara anjing lagi (kalau di rumah nggak bakal boleh sama mama).

Aku pun jadi terinspirasi membuat artikel berita seperti yang dilakukan Tintin. Kutulis feature dan wawancara pura-pura di beberapa lembar kertas HVS, kulipat, lalu kusatukan dengan steples seperti majalah mini. Rasanya bangga banget sudah jadi "wartawan". Keasyikan masa kecil ini mungkin terekam di bawah sadar sehingga selepas SMA aku mendaftar ke jurusan komunikasi dengan niat belajar jurnalistik.

Tentu saja, setelah jadi wartawan beneran, aku baru sadar komik ini nggak akurat blas. Mana ada adegan Tintin disuruh editor transkrip wawancara panjang, atau deadline sampai pagi, atau writer's block dan diomelin redpel. Hah!


Gambar dari sini.


4. Goosebumps - R.L. Stine

Cerita seram untuk ukuran anak SD dengan cover yang cukup menggetarkan hati. Yang paling berkesan tuh "Bergaya Sebelum Mati". Ceritanya si tokoh utama punya kamera ajaib yang bisa mengabarkan cara mati orang yang dipotret. Serem banget, kan? Dan coba lihat sampulnya:


Gambar dari sini.

Karena jatah beli buku dari mama terbatas, aku hanya punya beberapa eksemplar Goosebumps. Sisanya kusewa di rental komik. Salah satu momen paling asyik dari masa kecil adalah bersepeda ke persewaan komik, memilih-milih buku dengan bersemangat, lalu pulang dengan membawa setumpuk bacaan. 

Robert Lawrence (R.L.) Stine sempat melebarkan sayap ke novela seram untuk remaja berjudul Fear Street. Tapi, seingatku aku nggak terlalu suka seri itu. Mungkin karena saat itu aku sudah sibuk baca serial detektif yang 'serius' seperti Agatha Christie dan Sherlock Holmes. 


5. Kungfu Boy - Takeshi Maekawa

Seperti hampir semua produk budaya pop yang kukonsumsi saat kecil, Kungfu Boy juga hasil pengaruh abangku. Setiap sore dia berlatih dengan serius di halaman rumah dan saat kutanya sedang apa, dia menjawab "abang lagi latihan kungfu peremuk tulang". Wah, keren banget!!

Sampai hari ini, adegan kematian guru Yoshi (?) adalah salah satu momen paling menyakitkan sepanjang hidupku. Mak dhegggggg rasanya pas Chinmi akhirnya khatam jurus yang sudah lama dilatih tapi gurunya malah meninggal, huhuhu. Aku juga ingat episode saat seorang guru menolak melatih Chinmi karena anak itu lagi tengil,sok jagoan. Chinmi akhirnya berusaha keras membuktikan dirinya layak diangkat menjadi murid. Adegan ini kutulis untuk tugas merangkum mata pelajaran bahasa Indonesia dan aku mendapat nilai bagus.


Gambar dari sini.

Selepas kesuksesan Kungfu Boy, Takeshi Maekawa membuat seri baru tentang jagoan biliar judulnya Break Shot. Tokohnya Chinmi juga, tapi bukan murid silat misqueen yang culun, melainkan mas-mas klimis pakai kemeja rapih. Chinmi jagoan biliar punya nemesis oom-oom dandy laksono  ubanan namanya Paul. Jurus biliar Chinmi ada banyak, tapi yang paling kuingat dia bisa mencungkil bola putih sampai bolanya seolah-olah menghilang. Aku nggak terlalu suka Chinmi si jagoan biliar, tapi saat ulang tahun, Mama menghadiahiku paket seri Kungfu Boy dan Break Shot lengkap. Kurawat keduanya dengan kasih sayang yang sama.

No comments