Dokter Amin

Hari ini RT kami heboh. Beredar informasi di grup WhatsApp (WA) bahwa dokter Amin terserang corona. "Celaka betul," kata salah seorang tetangga. "Anakku belum lama ini diperiksanya."


Source

Dokter Amin spesialis anak dan pasiennya bejibun. Konon orangnya baik dan cakap (kami belum pernah ketemu karena anakku lebih anteng diperiksa neneknya sendiri), dan asal kau tahu, menemukan dokter anak yang cocok itu lebih sulit dari mencari jodoh. Kadang anak kita suka dengan dokternya, tapi obat yang dikasih sama sekali tidak manjur, atau kebalikannya, dokter itu cakap luar biasa tapi anak baru melihat ujung jas putihnya saja sudah menjerit-jerit.

Bisa dibayangkan betapa waswasnya kami ketika mendengar kabar nahas itu. Di luar, hujan turun dengan derasnya dan angin menampar-nampar. Cuaca yang cocok untuk menangis.

Para ibu segera berbagi kecemasan. Karena sedang social distancing, kami pun cemruwit di grup WA RT 003/RW 015.

"Bu RT, apakah semua pasien yang habis berobat ke dokter Amin otomatis jadi ODP?"

ODP adalah Orang Dalam Pemantauan (ODP). Sebaiknya jangan disebut ODC (Orang Dalam Catatan) apalagi OCD.

"Bu RT, saya baru dari dokter Amin tiga hari lalu soalnya Zidan sakit. Sekarang saya kok jadi ngerasa demam, tenggorokan enggak enak, dada agak sesak. Gimana dong???" (tanda tanya tiga)

"Bu, waktu periksa apa Ibu salaman sama dokter Amin?"
"Seingat saya sih enggak, tapi kan Zidan diperiksa dia."
"Lha apa tidak cuci tangan?"
"Lupa."

Seorang tetangga meneruskan gambar Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) tempat dokter Amin berpraktik, disegel dengan pita kuning-hitam. Karena diambil dari jarak jauh, plang nama RSIA tampak samar.

"Siaga 1 ini ibu-ibu. Daerah kita menjadi zona merah. Seluruh dokter dan suster RSIA itu dipulangkan." (emot kaget-emot kaget-emot kaget)

Beberapa ibu terlihat is typing...

"Allahu akbar, mari kita minta perlindungan Allah SWT ibu-ibu sekalian, karena Allah lah sebaik-baik penolong.." (dilanjutkan dengan mengirim ayat-ayat).
"Apa tidak sebaiknya kita lapor ke polsek depan, ibu-ibu? Biar ada yang mengkoordinasi kalau kita harus tes corona."
"Lho kok jadi ke polisi? Ke rumah sakit rujukan saja dulu."
"Tapi dengar-dengar antrenya lama. Kemarin ada yang 5 jam enggak diapa-apain, ujung-ujungnya koit."
"Ya Allah, istighfar, Bu.."
"Astaghfirullohaladziiiiim."

Aku memutuskan terjun ke arena peperangan. Kataku, "Ada yang punya nomornya dokter Amin tidak? Sebaiknya kita tanya dulu apa benar beliau kena corona."

Grup lantas menjadi #sejenakhening seperti pengikut Adjie Santosoputro.

Sepuluh menit kemudian tetanggaku menyahut, barusan dokter Amin mengirim WA: yang bersangkutan tidak kena corona, melainkan dirawat karena kecapekan saja. Karena dokter-dokter spesialis anak yang lain pada takut terinfeksi, mereka libur praktik. Dokter Amin pun kewalahan karena menerima limpahan pasien yang begitu banyak.

Lantas bagaimana dengan RSIA yang diisolasi?

"Itu foto klinik di Bojonggede," jelas dokter Amin. "Disegel karena menjadi tempat aborsi. Kasus lama itu, sudah lima tahun lalu. Warna kliniknya memang mirip dengan rumah sakit kami."

Kami mengangguk-angguk di rumah masing-masing, dan kubayangkan, di ujung sana, dokter Amin mengembuskan napas lelah. ***

No comments