Hobi Para Pensiunan

Barangkali ini kecemasan yang berlebihan: sepulang mudik ke kampung halaman, kawan saya merasa orangtuanya jadi terlalu agamis. Mereka setiap hari ke gereja, melantunkan puji-pujian, memanjatkan doa, berkumpul dengan kawan sesama orang tua, mendengarkan ceramah tentang dunia yang serba kekal dan indah.

Sebenarnya orang tua kawan saya itu bukan baru saja jadi pensiunan. Hanya saja, dulu, kegiatan para pensiunan di kampung jauh lebih bervariasi. Ada yang hobi memelihara unggas, bermain kartu, merangkai bunga, membangun kolam, menjahit, menyulam, bahkan ada yang jadi peternak lebah dadakan. Beberapa kali seminggu mereka olahraga sama-sama. Sekarang, kegiatan itu bukannya tidak ada, tapi sangat jarang dilakukan. Para orang tua lebih senang menenggelamkan diri di rumah ibadah masing-masing, barangkali memikirkan akhirat dan bagaimana caranya sampai ke surga.

"Bahkan ronda sudah tidak ada," keluh kawan saya itu. "Sedangkan dulu malah ada kelompok ketoprak yang anggotanya pensiunan semua. Mainnya ya enggak jago-jago banget, lha wong sekadar buat hiburan, ketawa sama-sama."

Membayangkan embah-embah berlakon ketoprak memang lebih gayeng dibandingkan embah-embah yang melulu ibadah.

Sambil mendengarkan kawan saya itu curhat, saya jadi memikirkan orang tua sendiri. Bapak mertua saya pensiun tahun ini, sedangkan Ibu pensiun sejak tahun lalu. Sejauh yang saya tahu, begitu tidak berkantor lagi, mereka memang lantas mengarahkan energinya ke ranah agama. Ibu mertua saya aktif terlibat di pengajian, menjadi pengurus TK di masjid dan ikut kelompok tafsir al-Quran. Bapak mertua saya juga sama, aktif di masjid dan organisasi keagamaan lainnya.

Dibandingkan dengan para mertua, orang tua kandung saya sedikit lebih 'sekuler'. Kegiatan utama Mama pascapensiun adalah senam tera. Itu lho, senam lansia yang gerakannya lemes-lemes asoy. Sebagai orang yang high-achiever, Mama beberapa kali didaulat menjadi kapten dan memimpin timnya berlaga di kancah perlombaan senam tera nasional. Di rumah kami tertata beberapa piala. Tab 'download' YouTube Mama berisi aneka video senam. Beberapa kali beliau minta diajari cara menyusun playlist yang berisi lagu-lagu berirama rancak dari tanah air dan manca negara.


It's raining men!! ~yousingyoulose~

Ayah saya lebih selo lagi. Sebagai orang Ternate yang baik, hobinya tentu saja dua: makan dan menyanyi. Ayah senang karaoke lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, John Denver, Koes Plus, dan lagu lawas tanah air. Tiap ada kesempatan menyanyi saat kami makan-makan di restoran atau menghadiri acara keluarga, Ayah akan menyambar mikrofon dan bernyanyi: siapa bilang pelaut mata keranjang...

Kawan saya tadi bukannya enggak ingin orang tuanya masuk surga, hanya dia khawatir melihat orang tuanya jadi seperti tidak menikmati hidup di dunia. Seolah-olah agenda hidup orang yang sudah tua adalah merapat sedekat mungkin ke akhirat. Seolah-oleh hobi yang tidak berpotensi memasukkan mereka ke surga, adalah sesuatu yang sia-sia. Seolah-olah bergaul dengan orang yang tidak seagama dan sealiran adalah hal yang tidak berguna.

Semoga saja hal itu memang kecemasan yang berlebihan, dan tren ini tidak terjadi di seluruh Indonesia. Bagi pembaca yang orangtuanya sudah memasuki masa pensiun, sharing dong tentang kegiatan mereka?

7 comments

  1. Kalau bapak sejak awal pensiun sempat tidak rela bahkan enggan untuk datang lagi ke kantor sekali pun untuk bertemu teman. Keseharian lebih banyak waktu untuk ibadah, menonton ceramah di youtube dan sesekali pergi tracking dengan beberapa orang temannya.

    Saat sudah pensiun bapak malajh berambisi membangun yayasan untuk anak yatim, sampai sampai harinya dipenuhi pikiran itu tentunya mencari dana kesana kesini dan semua dikerjakan sendiri. Tapi, sikap seolah masih punya jabatan masih terasa melekat dirumah. Hobi jalan jalannya masih kuat dan belum pensiun. Begitulah bapakku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berbagi cerita tentang bapak Anda.

      Delete
  2. Setali tiga uang mbak, orang tua saya mau menginjak umur 50 tahun dan punya kecendrungan ke arah serupa. Mereka jauh lebih rajin ke acara keagamaan macam ziarah wali atau berdiam diri di masjid. Tapi di beberapa daerah pola itu terlihat alamiah. Maksutku sudah sewajarnya bukan karena yang tua harus melihat kehidupan pasca kematian. Tapi kegiatan untuk lansia di beberapa daerah misalnya tempatku di kabupaten Malang tak ada yang berbau sekuler. Mungkin hanya posyandu lansia saja ruang di mana unsur agama tak masuk. Selebihnya tak ada. Mereka yang tak mengikuti kegiatan lansia biasannya tetap sibuk dengan urusan kerja. Atau menghabiskan waktu untuk cucu dan keluarga. Dahulu ada acara senam, gerak jalan, dll. Tapi sekarang trendnya segala sesuatu harus punya keterikatan dengan akhirat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi sekarang trendnya segala sesuatu harus punya keterikatan dengan akhirat. >> Nah, ini yang menjadi ketertarikan saya, Mas. Para pensiunan yang berkegiatan agama (saja) berarti mereka tidak terpapar keberagaman. Apalagi ditambah japrian WhatsApp Group penuh kebencian + ceramah pemuka agama di YouTube.. :(

      Delete
  3. Kakek saya dulu preman. Setelah pantas disebut kakek, dia salat 5 waktu bahkan lebih, dalam sehari.
    Rajin puasa dan gemar sedekah.
    Sama saja, seolah-olah hal paling wajib diurus ketika lanjut usia adalah beribadah. Entahlah, saya belum pernah tua dan belum pantas dipanggil kakek. Kawin saja belum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Konon soal ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Begitu menginjak usia 50 tahun, level hormon testosteron laki-laki menurun tajam. Hasrat seksual dan gairah kelayapan pelan-pelan sirna. Kakek (dan calon kakek) pun menjadi lebih alim dan (kelihatan) bijaksana.

      Kekurangan teori ini adalah tidak menjelaskan perempuan.

      Delete