Sexual Innuendo

innuendo. noun. (the making of) a remark or remarks that suggest something sexual or something unpleasant but do not refer to it directly. -- Cambridge Online Dictionary

Credit: someeecards.com

Aku pernah menemani kolega dosen memberikan pelatihan kepemimpinan (leadership) untuk karyawan di sebuah instansi. Pesertanya kira-kira dua puluh orang, lelaki dan perempuan, berusia antara akhir 30-an sampai awal 50-an. Acara berjalan biasa saja sampai kawanku memulai sesi permainan. Konon untuk membangkitkan motivasi, selain ujaran 'super' dan ajakan 'sejenak hening', permainan juga efektif.

Peserta dibagi menjadi dua kelompok, lelaki dan perempuan. Para peserta yang tadinya ngantuk-ngantuk lucu, jadi bersemangat. Mereka saling menyoraki, kadang ledek-ledekan. Ketika sampai pada bagian memasukkan pensil ke dalam botol, aneka celetukan mulai bermunculan.

Kebetulan saat itu giliran kelompok perempuan. Para lelaki langsung sibuk berkomentar.

"Ayo Bu, geser dikit dong biar bisa masuk!"
"Oh ini gara-gara udah pada tua, ya, jadi susah masuknya!"
"Hahaha, udah seret ya!"
"Masak masukin aja susah sih? Harusnya kan udah berpengalaman?"
"Nungging dikit dong biar bisa masuk!"

Mereka tertawa dengan riuh. Ajaibnya (iya, bagiku ini ajaib) para perempuan juga tertawa. Ngakak. Seolah yang terjadi itu hal yang lucu dan tidak sedang melecehkan mereka.

Pada sesi berikutnya, kolegaku meminta peserta bermain tebak kata. Mereka dibagi menjadi empat kelompok, membentuk barisan, masing-masing menggambar satu benda di sebuah kertas. Peserta terakhir harus menebak kata apa yang dimaksud berdasarkan gambar-gambar tersebut. Kata untuk semua kelompok sama: bunga desa.

Untuk kata 'desa', salah satu kelompok menggambar pemandangan yang kerap muncul di kertas gambar anak sekolah dasar: gunung, matahari, laut, dan sawah.

Seorang lelaki (yang kebetulan menjadi peserta terakhir) tertawa terpingkal-pingkal saat berusaha menerka kata yang dimaksud.

"Wah, ini ada gambar gunung, tapi gunungnya dua. Sudah begitu, gede lagi!" Ia ngakak. "Saya jadi bingung ini gunung apa. Sudah begitu, di atasnya ada gambar burung. Lho, ini burungnya siapa?"

Dan lagi-lagi semua orang tertawa. Aku hanya bisa meringis.

Lain waktu, kawan di Facebook mengunggah foto. Sepertinya dia kehujanan dan mampir berteduh di warung, sekalian ngopi. Dia diam-diam memfoto si pemilik warung tampak belakang. Perempuan, mengenakan daster, rambut panjangnya digelung. Caption-nya singkat: "Nyammmm.."

Foto itu ramai komentar. Salah satunya berbunyi, "Yu, pesan sosis satu, telornya dua".

Banyak orang memberi tanda 'Like' atau emoticon 'tertawa ngakak', baik pada foto yang diunggah maupun komentar yang kusebut di atas. Tapi mengapa? Apanya yang lucu?

Menurut Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu artikelnya tentang bahasa lelucon, semangat humor selalu mengandung agresi. Artinya, ada pihak yang diserang, ditanggapi, dihadapi, atau dilawan. Sexual innuendo menjadi lucu karena menyerang, menanggapi, menghadapi, atau melawan perkara seksual, baik alat kelamin (penis, vagina) maupun hubungan seksual. Sexual innuendo menjadi lucu karena membicarakan hal yang "enggak sopan dibicarakan". Orang butuh menyalurkan agresi  mereka soal seks dengan cara-cara yang bisa diterima publik, makanya guyonan yang nyerempet digemari.

Reaksi awalku ketika mendengar sexual innuendo remarks pasti meringis. Apalagi kalau dengernya di ruang publik. Apa sih yang lucu dari alat kelamin dan penggunaannya? Buatku enggak ada. Alat kelamin adalah perangkat yang digunakan untuk rekreasi dan reproduksi. Alat kelamin enggak lebih penting maupun lebih nggilani dari tangan, siku, hidung, dan alat-alat tubuh yang lain. Alat kelamin hanya perlu disembunyikan karena kesepakatan kebudayaan kita mengatakan demikian. Dan alat kelamin menjadi "lucu", ya karena disembunyikan itu. Makanya kemudian ada banyak kata "normal" yang mengacu pada alat kelamin: burung (penis) atau gunung (payudara). Dari kecil kita tidak pernah diajari menyebut alat kelamin (penis, vagina) sebagaimana adanya karena "saru". Makanya ketika membahas reproduksi di pelajaran Biologi, sekelas cekikikan. Malu-malu awkward.

Semester lalu aku memberi nilai C- pada mahasiswa yang presentasi di mata kuliah public speaking dengan lelucon berbau sexual innuendo. Berhubung anaknya cukup pinter, dia syok dapat nilai segitu (terlebih itu nilai UAS, yang notebene bobotnya paling tinggi). Kuberi pengertian padanya: ada banyak lelucon lain yang lebih cerdas yang bisa dia gunakan untuk menarik perhatian khalayak. Aku ingin dia tidak hanya pintar, tapi juga tahu cara menghargai diri sendiri dan orang lain, termasuk tubuh masing-masing.

Semoga dia mengerti.

No comments