Pages

Meggy Z Adalah Seorang Nietzschean

Di balik ekspresi wajah yang cenderung mellow dan lagu-lagu cinta yang membuat hati terasa ambyar, sesungguhnya ada semangat Nietzschean di dalam diri superstar dangdut, (alm) Meggy Zakaria alias Meggy Z.


Yha.

Perhatikanlah klip berikut:





Dalam video tersebut, Meggy Z menyanyikan salah satu lagu ciptaannya yang paling masyhur, yaitu "Jatuh Bangun" (dinyanyikan pula oleh pedangdut Kristina). Lagu ini bercerita tentang upaya pengejaran cinta yang tak membuahkan hasil, dikarenakan target meminta terlalu banyak daripada yang sanggup diberikan oleh sang pejuang cinta.

Kubawakan segenggam cinta
Namun kau meminta diriku
Membawakan bulan ke pangkuanmu

Bayangkan! Dibawakan cinta malah minta bulan, ploduk yang cuma ada satu, menggantung di langit, milik bersama umat manusia di seluruh dunia.

Lain waktu, si target menolak pemberian sederhana pejuang cinta, dan menginginkan sesuatu dalam kuantitas yang jauh lebih masif.

Kutawarkan segelas air
Namun kau meminta lautan
Tak sanggup diriku sungguh tak sanggup...

Tapi permintaan yang serba berlebihan ini tak membuat si pejuang cinta menjadi galau tak berkesudahan. Ia tak lantas meratapi nasib, seakan terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, tenggelam dalam lautan luka dalam, bagaikan butiran debu. Ia juga tak ngotot bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A.

Ia dengan tegas berkata, sikap si target yang rewel tingkat dewa itu menunjukkan bahwa si target tak siap diajak menjalani hubungan cinta. Target tak siap terluka, susah, dan menderita, padahal kan kalau kata Midun: sengsara membawa nikmat. Dan apa gerangan yang bisa diharapkan dari orang yang enggan menderita karena cinta?

Sang pejuang pun mengukur diri sendiri; selama ia tak sanggup membawa bulan dan lautan, sepertinya hubungan mereka tak akan ke mana-mana.

Ia memilih pergi, dengan meninggalkan pesan yang ciamik:

Percuma saja berlayar
Kalau kau takut gelombang
Percuma saja bercinta
Kalau kau takut sengsara

Empat baris kalimat tersebut jelas merupakan pengejawantahan dari salah satu aspek filsafat Nietzsche: katakan 'ya!' pada hidup. Berlawanan dari filsafat Schopenhauer yang cenderung gelap dan pesimistis, Nietzsche hendak berkata bahwa tak ada gunanya manusia menolak kehidupan karena hanya ini yang kita tahu.

Nietzsche tak hendak membawa manusia pada angan-angan akhirat yang serba-bagus dan serba-sempurna; ia ingin mengajak kita menghadapi dunia ini, hari ini, pada detik ini. Memang hidup ini sulit, berat, penuh rintangan, dan bagaimanapun hebatnya kita melawan, toh akan tetap berakhir dengan kematian. Tapi, justru karena itulah kita harus memberinya makna.

Begitu juga dengan cinta. Semanis-manisnya pasangan, akan ada saatnya kita terluka karena dia. Dan sekuat-kuatnya kita menjaga hubungan, akan ada saatnya berpisah, entah itu karena ketololan diri, atau oleh maut. Kesedihan dalam hubungan cinta adalah niscaya, tapi tak berarti kita jadi harus menghindarinya.

Katakan 'ya!' pada gelombang lautan yang mungkin akan mengempaskanmu sampai remuk redam. Katakan 'ya!' pada kesengsaraan bercinta yang mungkin akan membuat hatimu hancur luluh. Jangan takut pada penderitaan dan rasa sakit karena itulah justru tanda-tanda kau sedang hidup. Amor fati, ego fatum. Aku mencintai nasib, karena akulah nasib.

3 comments: