Pages

Ruang Untuk Idealisme



“I became a journalist to come as close as possible to the heart of the world.”
(Henry R. Luce,1898 –1967)

Ketika Ignatius Haryanto menulis tentang kebimbangan calon jurnalis pada halaman kata pengantar buku ini, terbayang di kepala saya kutipan dari Henry R. Luce di atas. Luce adalah pendiri media raksasa Time Incorporated pada pertengahan tahun 1960-an. Sebelumnya, ia mendirikan majalah Fortune pada Februari 1930, majalah Life pada1936, House & Home pada 1952, dan Sports Illustrated pada 1954.

Saking berpengaruhnya Luce, Dwight Macdonald –salah satu pekerjanya di majalah Fortune- memanggilnya "Il Luce", sebuah plesetan sarat makna dari julukan diktator Italia Benito Mussolini, Il Duce.

Menjadi jurnalis untuk berada sedekat mungkin dengan dunia selama ini adalah apa yang terbayang tentang profesi tersebut. Berdekatan dengan masyarakat, melihat dengan mata kepala berbagai fenomena sosial, dan menuliskannya sejujur mungkin. Idealisme, barangkali itu kata kuncinya. Profesi jurnalis di mata saya adalah sebuah profesi yang mulia, yang meski sering dipandang sebelah mata dan memeroleh metafora menyebalkan seperti ‘nyamuk pers’, tetap saja punya kontribusi besar bagi masyarakat.

Ruang Publik, Voice of The Voiceless
Bagaimana persisnya kontribusi itu? Idealnya, opini publik harus bisa diakomodasi dalam sebuah tempat yang bernama ruang publik. Seidman (1989) dalam Ibrahim (2004: 1-6) mengutip definisi ruang publik menurut Jurgen Habermas, yaitu “..semua wilayah atau ruang kehidupan sosial yang memungkinkan kita untuk membentuk opini publik.”

Dalam pandangan Habermas, masyarakat ideal bukan masyarakat tanpa kelas seperti yang dicita-citakan Karl Marx, melainkan sebuah masyarakat komunikatif di mana setiap individu dalam lapisan masyarakat bisa mengemukakan opini atau pandangannya tanpa dihakimi pihak lain. Situasi ini tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran ruang publik.

Berbicara dalam teori yang saya dapat di bangku kuliah inilah, menarik untuk memperhatikan karya-karya nominator dan pemenang Mochtar Lubis Award (MLA) 2008. Jika dicermati, benang merah kompilasi karya ini ada pada keberanian para penulisnya untuk memperhatikan dan menuangkan gagasan tentang hal-hal yang tidak dominan.

Misalnya saja karya “Politik Pendidikan Penebus Dosa” (Asrori S. Karni, Gatra) dalam kategori Pelayanan Publik. Asrori menulis tentang pendidikan keagamaan yang ternyata selama ini diperlakukan tidak adil masalah subsidi, dan lain-lain. Menarik untuk mengungkap sisi lain pendidikan di Indonesia, setelah selama ini kita sudah terlalu disibukkan dengan wajib belajarnya sekolah negeri. Kalaupun ada wacana tandingan, paling-paling tentang sekolah alam, sekolah non-formal, dan sekolah-sekolah lainnya yang tidak mau masuk tatanan kurikulum. Siapa yang pernah (atau mau) bicara tentang sekolah agama? Para pelaku pendidikan keagamaan sendiri kesulitan menyuarakan pendapatnya (“Jangankan alokasi bantuan, penawaran saja tidak ada,” halaman 46), malah beberapa pasrah saja (“Karena bagi kami, dana itu adalah uang rakyat. Cuma, kami tidak sampai minta-minta kepada pemerintah,” halaman 47).

Ciri voice of the voiceless juga muncul dalam artikel “The Lost Generation” (Muhlis Suhaeri, Borne Tribune), kategori Pelaporan Investigasi. Isunya sensitif, yakni tentang pembersihan etnis oleh Orde Baru. Sudah dilupakan orang, bahkan generasi seumur saya mungkin tidak tahu pernah ada Pasukan Gerilya Rakyat Serawak-Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS-PARAKU, halaman 131-137). Benang merah artikel ini adalah mengungkap apa yang tidak terungkap, misalnya bagaimana rakyat yang tinggal di daerah konflik begitu sibuk membantu pemerintah sehingga sampai tua tidak sempat sekolah (halaman 158-167), bagaimana tentara melancarkan taktik provokasi terselubung supaya warga membenci gerilyawan (halaman 154-158), penampungan pengungsi yang hanya sanggup makan bulgur, sejenis makanan ternak (halaman 195-201), dan lain-lain.

Saya jelas mengagumi investigasinya yang luar biasa. Terbayang ia menyeberangi Kota Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Pontianak, lanjut ke Kuching, Serawak, dan Malaysia. Terbayang susahnya medan, lamanya waktu penelusuran, dan suka dukanya mewawancara narasumber yang jumlahnya pasti tak sedikit. Hasilnya adalah serial artikel yang komprehensif dan mendalam. Semua ini memberi gambaran bahwa menjadi jurnalis jelas bukan pekerjaan mudah, tapi layak dijalani. Karya Muhlis jelas menimbulkan kesadaran akan sejarah hitam bangsa ini, sesuatu yang tidak perlu diulangi oleh generasi kami.

Beberapa Kritik
Ada sejumlah kritik yang ingin saya sampaikan terhadap artikel-artikel dalam buku ini. Yang pertama untuk artikel Muhlis Suhaeri. Kenapa judulnya harus dalam bahasa Inggris? Tentu saja pertanyaan ini bisa dijawab dengan skeptis ‘kenapa tidak?’ tapi saya percaya bahwa kalaupun judulnya “Generasi yang Hilang” tidak akan mengurangi greget artikel ini. Selain Muhlis, ada karya “Save Our Airport” (Gatot Rahardjo, Angkasa). Apakah penggunaan bahasa Inggris atau non-Inggris menjadi perhatian dewan juri MLA? Jika ya, seperti apa? Jika tidak, mengapa?

Yang kedua, tentang artikel berbau tindak korupsi. Sejauh yang saya tahu, Mochtar Lubis “terkenal” akan kegigihannya melawan korupsi. Sudah dua kali beliau dicekal gara-gara keberaniannya mengungkap korupsi. Yang pertama ketika beliau membongkar kasus suap Lie Hok Thay kepada Roeslan Abdulgani pada tahun 1956, dan kedua pada 1968 waktu beliau melancarkan investigasi mengenai korupsi di Pertamina yang dipimpin Letjen Dr Ibnu Sutowo, jumlahnya mencapai 2,3 miliar dollar AS. Tetapi mengapa dari sekian banyak artikel dalam buku ini tidak ada satupun yang mengungkap affair korupsi?

Secara keseluruhan buku ini memberi nafas lega bagi para calon jurnalis. Mencermati karya demi karya ini menimbulkan kesadaran bahwa rupanya jadi jurnalis tidak hanya berpotensi sebagai nyamuk yang nakal dan bikin gatal, tapi juga bisa menyuarakan gagasan-gagasan yang terpinggirkan. Masih ada ruang untuk idealisme.

Sekadar Bacaan
Ibrahim, Idi Subandy, Dari Nalar Keterasingan Menuju Nalar Pencerahan, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra. 2004.


Disajikan pada Diskusi dan Bedah Buku “Menuju Jurnalisme Berkualitas” yang diselenggarakan oleh HMJ Komunikasi Undip, Rabu 6 Mei 2009.

2 comments:

  1. salah satu juri dalam buku ini guru Anda, tampaknya

    ReplyDelete
  2. Ya. Tepatnya juri kategori tulisan feature, yakni Yusi Pareanom. Sungguhpun saat menulis catatan pengantar ini, saya belum berguru padanya. Masih berada di zaman kegelapan.

    ReplyDelete