Pages

Menolong Tanpa Mengekspose?


Era Tolong! sudah berlalu. Kini, eksploitasi kemiskinan yang berjalan searah mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Pada masa kejayaannya, Tolong! sering dinilai sebagai acara yang mentah-mentah mengeksploitasi kemiskinan. Kaum papa ditampilkan sebagai kaum yang begitu ‘murah’, sehingga rela memohon sampai menangis tersedu-sedu demi beberapa butir telur ayam, segenggam beras, atau sekian perak uang. Semua drama tersebut tujuannya hanya satu: menguji apakah masyarakat kita masih punya hati nurani.

Persoalan hati nurani ini ternyata begitu pentingnya, sehingga Tolong! jadi sangat laris. Entah berapa banyak iklan yang masuk ke dalam kantong stasiun teve yang bersangkutan. Kemudian, karena kita hidup di Indonesia (yang bermental Mpok Aty alias latah), bermunculanlah reality shows lain yang mirip-mirip.

Ada acara yang ‘korban’-nya dikasih uang setelah dikerjai habis-habisan sampai mukanya merah, mbrebes mili, terus nangis beneran. Yang mengerjai ini berpakaian seperti rentenir Barat, topinya hitam tinggi mirip topi sulap, pakai jas, tak lupa kumis tebal biar seram. Cara bicaranya pun dibikin (sok) menakutkan. Ada lagi acara yang sebenarnya cuma mau menolong merenovasi rumah, tapi harus didramatisir dulu supaya yang punya rumah itu, minimal, menitikkan air mata. Mengharukan!

Pada akhirnya masyarakat jadi jengah sendiri. Mungkin mulai tidak tega melihat sesamanya dieksplotasi, mungkin sekadar membutuhkan tayangan baru ketika yang lama sudah jadi membosankan. Dari sini paradigma reality show bertema sosial mulai bergeser. Dimulai dari acara Jika Aku Menjadi (JAM) yang mengajak seorang talent hidup bersama ‘rakyat kecil’ selama beberapa hari.

Dalam tayangan produksi Trans TV itu, talent akan tinggal bersama seorang tokoh dari kalangan berprofesi gurem, makan makanan yang sama, tidur dan mandi di tempat yang sama, juga membantu pekerjaan sehari-harinya. Di tangan JAM, masyarakat tidak diposisikan sebagai si kaya yang menolong si miskin, melainkan diajak melebur ke dalam realita kehidupan yang sungguh-sungguh dihadapi oleh kaum yang seringkali disebut ‘kurang beruntung’ itu.

Acara lain pun mengekor. Tayangan merenovasi rumah yang sempat kita singgung di atas, juga ikut dimodifikasi. Talent harus hidup bersama dengan pemilik rumah sebelum rumah tersebut diperbaiki. Persis JAM, acara bedah rumah sekarang mengajak penonton untuk menceburkan diri dalam realita kehidupan mereka yang hendak dibantu. Tujuannya pun, rasanya, tak jauh beda: biar kita tak sekadar menolong, melainkan juga merasakan sendiri seperti apa susahnya kehidupan kaum miskin.

Namun, apakah dengan demikian permasalahan ekploitasi selesai? Apakah hanya dengan mengubah konsep acara, kita jadi bisa menolong kaum miskin tanpa harus mengeksposnya? Apakah itu berarti sebuah kemajuan dalam dunia televisi, khususnya reality show bertema sosial, sudah dicapai? Belum tentu.

Ambil contoh tayangan JAM edisi Sabtu (22/11) kemarin. Richardo, seorang mahasiswa kota, menemani Cala, seorang buruh batu kapur. Bersama Cala, Richardo memecah batu, memikulnya dalam jarak yang tak dekat, menghancurkan kemudian membakarnya. Richardo yang kecapaian setengah mati, kagum dengan semangat kerja Cala yang dipanggilnya dengan sebutan ‘Bapak’. “Walaupun sudah tua, Bapak masih tetap bersemangat. Jadi malu kalau kita yang masih muda ini sudah malas-malasan,” narasi Richardo.

Kekaguman ini terus berlanjut saat Cala mengajak Richardo mengambil pasir di pinggiran sungai dengan gerakan akrobatik mirip di sirkus. Lagi-lagi, Richardo ternganga saat tahu bahwa penghasilan yang diterima Cala untuk kerja seberat itu sangatlah tidak seberapa. “Cuma limapuluhribu, pemirsa! Itupun masih dibagi lagi untuk pemilik perahu,” mahasiswa kota itu memberi penekanan pada nominal uang yang diperoleh Cala, barangkali untuk mempertegas betapa sedikit jumlah tersebut.

Selanjutnya, ada adegan yang mungkin dimaksudkan akan menyentuh. Cala sekeluarga makan bersama di beranda rumahnya yang sederhana, tentu saja Richardo ada bersama mereka. Ia ternganga untuk kesekian kalinya setelah tahu bahwa hidangan makan siang yang disiapkan istri Cala adalah nasi, pete, dan laron kering.

Richardo menggigiti binatang kecil tersebut sambil menatap kamera penuh haru. “Enak kok Pak, enak,” jawabnya terbata-bata ketika Cala menanyakan apakah Richardo menikmati makan siangnya. Hal yang tak Cala perhatikan adalah tatapan Richardo ke arah kamera, yang seolah hendak berkata: lihatlah, betapa kasihannya keluarga miskin ini, laron pun mereka keringkan lantas dijadikan lauk makan siang!

Dari komentar dan narasi Richardo, jelas bahwa ia menjadikan hidup Cala dan keluarganya sebagai cerminan untuk selalu bersyukur. Cala yang hidup susah pun masih bersemangat untuk bekerja, apalagi mahasiswa kota seperti Richardo yang hidupnya jelas lebih enak. Tetapi, di balik ‘pesan moral’ semacam itu, tidakkah hal ini makin mengukuhkan perbedaan status ekonomi dan sosial mereka?

Kemiskinan Cala dalam hal ini hanya bermakna karena ia dihadapkan dengan narasi dan komentar Richardo yang penuh rasa heran dan haru. Susahnya hidup Cala hanya berfungsi sebagai cerminan hidup Richardo yang lebih beruntung. Status Cala sebagai kaum papa yang tetap bersemangat menjalani hidupnya dijadikan titik pijak bagi Richardo untuk selalu bersyukur. Maka, sekali lagi, kemiskinan diekspos.

Lantas mungkinkah menolong orang miskin tanpa mengekspos kemiskinan mereka? Jawabannya, kalau menolongnya lewat media, jelas tidak mungkin. Bukankah media selalu memoles kenyataan yang ditangkapnya, untuk dijadikan kenyataan versinya sendiri, yang sering kali diklaim lebih real daripada the real ‘rea’l? Sia-sia saja kalau kita berharap akan ada tayangan yang murni menolong kaum miskin.

Meskipun kaum miskin memang banyak terdapat di negara kita, ternyata kehadirannya di layar kaca masih harus mengundang air mata. Dan memang harus begitu. Kalau tidak, orang malas dong nonton teve. Dengan demikian, pertolongan yang diberikan stasiun teve tidak boleh asal menolong, melainkan melalui tahap-tahap dramatis yang akan menyentuh hati pemirsa. Apakah pertolongan yang diberikan dengan syarat masih tetap bisa disebut pertolongan? Tanyakan itu pada hati nurani kita.

Lagipula, jenis pertolongan macam apa yang diberikan JAM? Richardo mengajak Cala bermobil, di pinggir jalan raya ia memberi kejutan dengan berpura-pura hendak mengisi angin ban. Ternyata, kedai tambal ban tersebut dihadiahkan tim JAM untuk Cala. Tulisan ‘Tambal Ban Cala’ bersanding dengan logo JAM. “Bacanya apa, Bapak?” tanya Richardo, penuh harap Cala akan terharu menerima pemberiannya.

“Saya nggak bisa baca!” polos Cala. Nah!

(dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 30 November 2008)

No comments:

Post a Comment