Pages

Di Pasar Malam

Di depan rumah ibuku, setidaknya seminggu sekali, selalu mangkal rombongan pasar malam. Aneka wahana permainan, jajanan, pakaian, aksesoris, balon dan permen aneka rupa, digelar begitu saja di ruas jalan. Tidak perlu karcis masuk. Lagu demi lagu (minggu lalu: "Entah Apa yang Merasukimu" versi house music) disetel keras-keras. Aroma gorengan bercampur harum micin dan parfum murahan menguar di udara, menimbulkan suasana yang akrab seketika.

Pasar malam digelar pada Jumat, hari jatah ibuku menjemput Nina dari daycare. Tentu saja Nina selalu merengek minta main di pasar malam dan ibuku, seperti semua nenek di muka bumi ini, tidak sanggup menolak permintaan cucu. 😀

"Nina mau main odong-odong yang ada mukanya," kata anakku, mencoba mendeskripsikan wahana kesukaannya.

Odong-odong yang dimaksud anakku adalah kereta-keretaan sederhana yang digerakkan dengan aki motor. Di setiap gerbong ada kepala karakter kartun yang enggak mirip-mirip amat dengan aslinya, dilengkapi setir-setiran yang terbuat dari roda plastik bekas. Ongkos naik: 5.000 rupiah untuk tiga lagu.


Masha kayak lagi high

Permainan lain yang jadi favorit anakku adalah memancing ikan. Berbeda dengan area bermain di mal-mal seperti Fun Zone atau Fun World dan Fun-Fun lainnya, memancing ikan di pasar malam itu literally pakai ikan hidup, biasanya nila kecil-kecil warna merah atau oranye. Ikan-ikan itu ditaruh di kolam plastik besar, dikasih oksigen biar umur panjang, lalu dipancing dengan jaring rakitan yang diikat erat dengan tali rafia ke kayu bekas. Ikan yang tertangkap boleh dibawa pulang dengan biaya 5.000 rupiah seekor.

Nina sangat fokus kalau lagi main ini. Kadang diajak ngomong enggak mau noleh, ham-hem-ham-hem saja kayak bapak-bapak lagi baca koran pagi. Herannya, Nina tidak pernah mau membawa pulang ikan hasil tangkapannya.

"Cuma mancing aja kok," katanya, seolah memberi gambaran apa yang akan dia lakukan terhadap hati cowok-cowok beberapa belas tahun ke depan.


Masukkan ikan ke dalam keranjang..

Pasar malam menghadirkan keramaian yang tanpa syarat dan kebersamaan yang tidak dibuat-buat. Orang-orang datang beramai-ramai, membawa cerita masing-masing. Ketika menemani Nina melukis (kanvasnya pakai gabus dibingkai selotip warna-warni, btw, sangat kreatif ) aku melihat seorang anak yang sampai mengkeret karena diatur-atur oleh ibunya. Rupanya si ibu kesal karena anak ini memilih warna-warna yang tidak lazim bagi lukisannya.

"Langit kok ungu! Langit tuh biru, ngerti nggak kamu? Di tempat les kan, udah diajarin?" Si ibu mengomel. Kasihan si anak. Kapan lagi boleh menggambar langit warna ungu kalau bukan saat umurmu lima tahun?


Minion versi hulk

Ada juga sepasang kakek-nenek yang datang tanpa cucu tapi berkeliling ke semua wahana, tersenyum-senyum melihat anak-anak begitu asyik menikmati dunia mereka. Hal ini rasanya sulit dibayangkan terjadi di wahana permainan di mal yang tertutup dan berbayar. Aku juga melihat dengan mata kepala sendiri seorang pengasuh yang cuek main ponsel sementara anak yang diasuhnya berkeliaran seorang diri, tapi berubah sangat manis ketika ibu si anak datang. Pengasuh itu  menggandeng dan mengelus-elus si anak, padahal tadi nengok juga kagak.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah kreativitas penjaja kuliner. Semua makanan yang lagi tren, dijual versi KW-nya. Cemilan ayam goreng renyah berbumbu ala Shihlin, disulap menjadi potongan filet daging-entah-apa dan sate sosis berbalut taburan micin yang gurih. Aneka jajanan itu digoreng dengan minyak yang masa pakainya merupakan rahasia Ilahi. Ada juga minuman teh keju ala-ala dan boba lima ribuan yang konon alotnya agak mirip sandal. Pengunjung juga bisa menikmati es krim berbentuk mirip Cornello (mereknya Pinguin, mungkin agar terkesan dingin beneran karena impor dari Eskimo) dengan jingle berupa.. nada dering iPhone!

Teteteng teng teng teng teng teng teng

iPhone yang dicicil setengah mati oleh kelas menengah, disulap menjadi sesuatu yang bernilai bisnis oleh masyarakat kelas bawah. Apa tidak hebat?

Produk perawatan kulit atau yang lazim disebut skincare pun marak dijual di sini, entah asli atau KW super. Merek-merek seperti Marck's, Kelly, Pond's (yang pasti tidak ada merek SKII atau some.by.mi) digelar di lapak. Toh, pembeli mengerubuti berbagai produk skincare itu dengan antusiasme yang sama dan semangat tampil glowing yang serupa dengan sis-sis dan gan-gan konsumen skincare online shop. Baju cantik dan sepatu sporty yang jelas diragukan keasliannya, tetap dipakai dengan penuh percaya diri dan citra keren yang tak kalah meyakinkan.

Hal ini sama persis dengan ekspresi anakku ketika main odong-odong aki motor dan melukis di atas kanvas gabus: sama bahagianya dengan saat main Choo-Choo Train di Bintaro Xchange, main kolam bola di Aeon, atau main perosotan di Lotte Mart. Dia menikmati dirinya yang sedang bermain dan bersenang-senang, tanpa berpikir apakah arena permainan ini cukup heits untuk diposting di Instagram?

Barangkali kebahagiaan memang seharusnya sesederhana itu.

*

Tepat pukul setengah sepuluh malam, lampu-lampu mulai dimatikan. Penjual mulai membereskan lapak masing-masing. Orang-orang yang tadi datang beramai-ramai, pulang beramai-ramai juga. Tidak ada yang ditinggal sendirian. Pram benar: aku juga ingin dunia ini seperti pasar malam..

No comments:

Post a Comment