Pages

Buku (3)

Meskipun ingin sekali bisa membaca dua buku dalam sepekan, kadang aku tidak dapat menahan diri untuk membaca buku yang sama berulang-ulang. Kebiasaan yang sesungguhnya tidak terlalu berguna. Bukankah waktu yang terbuang untuk membaca buku lama, bisa untuk membaca buku-buku baru yang sudah mulai berdebu seperti kisah cintamu?

Tapi, itulah istimewanya buku bagus: setiap kali dibaca, selalu memberikan sensasi yang berbeda. Ada satu cerpen Etgar Keret yang judulnya "Crazy Glue", ceritanya tentang seorang istri yang membeli lem super. Lem ini saking supernya diklaim bisa mengelem benda apapun, termasuk manusia. Suaminya mencibir dan mengatai istrinya kurang kerjaan. Istrinya ngambek dan menuduh suaminya sinis karena punya wanita lain. Sepulang kerja, suaminya menemukan semua furnitur di rumah dilem ke lantai, dan sang istri mengelem kakinya sendiri, gelantungan dari langit-langit. Dia lalu berusaha menarik sang istri turun, tapi yang ada malah dia ikut bergelantungan. Mereka lalu tertawa bersama.

Pertama kali aku baca cerita ini (sebelum nikah) aku pikir ini hanyalah Etgar Keret being Etgar Keret, dengan segala kegemarannya pada cerita yang bizarre. Waktu aku baca kedua kalinya (setelah nikah) aku jadi bisa merasakan hal lain: "crazy glue" mungkin metafora  hubungan suami-istri yang kayak apapun enegnya, sebelnya, marahnya, tetap aja enggak bisa dan enggak mau pisah. Seperti kata e-cards favoritku, "love is spending the rest of your life with someone you want to kill & not doing it because you'd miss them". Inilah, Pembaca, makna pernikahan yang sesungguhnya, hahaha..

Buku bagus juga bisa menjadi pelipur lara  dan obat kala pusing melanda. Waktu stres mengerjakan tesis, misalnya, aku memutuskan membaca ulang 7 seri Harry Potter (HP). Setelah itu, pikiranku jadi segar lagi dan tesisku selesai. Ketujuh seri HP sampai sekarang tersimpan manis di Kindle-ku, jika sewaktu-waktu dibutuhkan (udah kayak P3K aja).

Di bawah ini adalah buku-buku yang sudah kubaca berkali-kali sepanjang hidup:

Harry Potter - J.K. Rowling


Yer a wizard, Harry!
Buku pertama yang kubaca dari seri ini adalah Harry Potter dan Kamar Rahasia (2000). Waktu itu keluarga besar sedang kumpul Hari Raya, dan sepupuku dari Jakarta (aku tinggal di Semarang bersama Nenek) membawa buku ini. Kupinjam dan kutamatkan dalam semalam. Besoknya aku dimarahi Nenek karena kesiangan dan tidak solat Subuh. Setelah sepupuku kembali ke Jakarta, aku langsung ke Gramedia dan membeli Batu Bertuah (dan Kamar Rahasia-ku sendiri). Sejak itu, aku rajin mengumpulkan seri ini setiap kali terbit yang baru. Koleksi HP-ku tersampul rapi, berjajar di rak buku seperti harta karun. Namun karena sudah pindah rumah berkali-kali, koleksi itu sekarang tersebar entah ke mana. Premis "from zero to hero" di novel ini sebenarnya bukan barang baru, tapi ada sensasi yang entah kenapa bikin kangen. Sampai sekarang aku masih nangis waktu baca Hagrid kasih Harry hadiah berupa buku foto orangtuanya, masih marah waktu Bellatrix bunuh Sirius, masih senyum-senyum najong waktu Ron pingsan dan ngigau manggil nama Hermione, bukan Lavender pacarnya.. Hmm, mungkin HP memang se-nostalgik itu.


Atheis - Achdiat K. Mihardja

Rusli...
Buku pertama yang bikin aku berpikir "hah orang boleh ya gak percaya Tuhan??" Buku yang cukup mengguncangkan hati dan pikiran karena bacanya pas SD. Banyak adegan yang memorable di sini, bandelnya Rusli, foto Lenin (kalau gak salah) terpajang di ruang tamu, pernikahan Hasan-Kartini yang kacau balau, sampai Anwar yang sengak. Dulu aku innocently pilih buku ini dari rak buku perpustakaan sekolah karena sampulnya berdarah-darah ala Goosebumps-nya R.L. Stine. Eh ternyata, isinya sama sekali lain....!


The Stranger - Albert Camus

Mother died today, or maybe yesterday, I can not be sure

Mersault dan segala keanehannya adalah magnet utama novel ini. Aku seneng banget cara Mersault menarasikan pikirannya. Oddly beautiful; lihat aja kalimat pembukanya! Adegan penembakan yang jadi turning point cerita ini juga indah banget. Camus lihai mengkontradiksikan narasi umum (Mersault menembak berkali-kali) dan narasi pribadi Mersault (dengan sinar matahari yang menyilaukan matanya). Pertama kali baca buku ini kayaknya waktu kuliah, dan selalu balik lagi, balik lagi. The Stranger adalah buku yang mengilhamiku menulis novel pertama (dan semoga bukan satu-satunya) Semusim, dan Semusim Lagi.


Affair - Seno Gumira Ajidarma


Affair, sebuah jalan buntu
Buku ini semacam kitab suci yang selalu kubaca kalau mau nulis esai. Gaya nulis Seno di buku ini adalah kesukaanku: apa adanya, jujur, nakal, dan nyaris tanpa pretensi ngilmiah apapun. Kalau kamu baca Kentut Kosmo dan esai-esainya di Tempo & Kompas akhir-akhir ini, kamu akan tahu apa yang aku maksud. Seno di Affair adalah Seno yang rileks, dan ingin nyinyir aja tanpa perlu memberi konteks teoretis dari hal-hal yang dia amati. Salah satu esai Seno di buku ini tentang terorisme, mengilhamiku menulis skripsi. Di buku ini Seno menulis tentang apa saja, dari mulai sayur buntil, air terjun dalam ruangan, sampai "panduan" untuk Homo Jakartensis yang ketiban sial naksir pasangan orang...


Seribu Senyum dan Setetes Air Mata - Myra Sidharta




AKU NGEFANS BANGET SAMA BU MYRA. Nuff said.


Pemikiran Karl Marx - Franz Magnis-Suseno



Kubawa ke mana-mana sampai lecek. Buku pertama yang membukakan pikiran bahwa ketidakadilan itu terstruktur dan berbasis ekonomi. Baca buku ini waktu SMA atau kuliah (lupa). Aku beli dua seri lanjutan, yaitu Dalam Bayangan Lenin dan Dari Mao ke Marcuse, tapi enggak selesai-selesai sampai sekarang. Mungkin enggak ada waktu baca, atau mungkin karena semakin tua semakin ke tengah! Hahahahha...

Kalau kamu, buku apa yang kamu baca berkali-kali?

2 comments:

  1. mba, di cerpen Crazy Glue, bukannya si suami memang selingkuh ya? kalo nga salah, ada pembicaraan di telpon pas di kantornya bukan ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang. Aku enggak bilang sebaliknya kan?

      Delete