Yang Mengganjal di "Susah Sinyal"

Aku suka film-film Ernest Prakasa sejak Ngenest The Movie (2015). Film Ngenest bahkan sering kujadikan bahan ajar untuk mata kuliah Sosiologi Komunikasi, khususnya saat membahas keterkaitan konten media dengan isu ‘minoritas’. Bisa dibilang, film ini berhasil membangkitkan minat dan daya kritis mahasiswa tentang konten media--apalagi, mahasiswaku banyak yang keturunan Tionghoa.

Tapi sejak film Cek Toko Sebelah (2016), aku mulai galau. Di satu sisi, ceritanya bagus, akting pemainnya rapi, dan ada banyak percakapan cerdas, khususnya terkait prasangka sosial terhadap ‘Cina’. Coba, di mana lagi ada film yang santai menyinggung Tragedi Mei ’98 di percakapan sehari-hari? Tapi di sisi lain, film ini juga mempertontonkan banyak lelucon nyerempet saru alias sexual innuendo yang membuatku ingin berkata kasar.

Tokoh sekretaris Anita (Yeyen Lidya) digambarkan gemar berbaju seksi, mempertontonkan payudaranya yang besar. Penonton disuguhi adegan slow motion dan cowok ngiler melihat payudara Anita. Salah satu adegan bahkan menunjukkan seorang cowok bengong melihat Anita, lantas meremas-remas dada teman cowok di sampingnya. Adegan ini bikin kepingin muntah--pelecehan seksual yang digambarkan terang di depan mata dan kita disuruh ketawa seolah itu lucu.

JIJIQUE


Tapi sudahlah. Mungkin Ko Ernest sedang khilaf-ah. Mungkin Ko Ernest sekadar ingin meraih lebih banyak penonton. Mungkin Ko Ernest merasa para komika yang meramaikan filmnya itu kurang lucu, atau guyonannya terlalu canggih, sehingga harus dikasih porsi lelucon ngeres yang pasti dipahami semua orang.

Kuputuskan menarik nafas panjang, membaca Ayat Kursi 3x, mengoleskan lip balm, dan semua baik-baik saja.

.. hingga mak tratap, resep lelucon saru ini dipakai lagi di film terbarunya, Susah Sinyal (2017), bahkan dalam jumlah yang lebih masif. Tidak hanya payudara, film ini berkali-kali menyinggung soal hubungan seksual padahal ratingnya 13 tahun ke atas.

Alkisah di penginapan, tokoh pasangan honeymooners pemilik tambak udang (Chew Kinwah) dan istrinya yang seorang pedangdut seksi, bolak-balik mengisyaratkan mereka aktif melakukan hubungan seksual. Ketika disinggung bahwa kamar mereka paling berisik, sang suami bilang, “Dia nih yang berisik. Kalau saya sih bagian ‘kerja’.” Lalu ketika malam-malam pegawai penginapan Yos (Abdur Arsyad) dan Melki (Arie Kriting) mendengar teriakan dan mengira ada yang kemasukan, Melki dengan enteng berkata, “Eh tapi kalau lagi bulan madu, memang ada yang ‘kemasukan’ toh?”

Ha ha. Saya enggak ngerti, apa sih perlunya Ko Ernest memasukkan guyon saru ke dalam film ini? Padahal ceritanya mengalir apik, akting pemainnya sangat alamiah—Adinia Wirasti bikin saya nangis berkali-kali dan Dodit Mulyanto lucunya ampun-ampunan sampai bisa bikin saya berpaling sejenak dari Ega Balboa. Dan saya makin jatuh cinta pada kecerdikan Ernest menjadikan prasangka terhadap ‘Cina’ sebagai bahan lelucon, yang pada akhirnya malah meruntuhkan stereotype yang ada. Kenapa semua yang serba bagus itu musti dirusak dengan sexual innuendo murahan?

Fakta bahwa skenario kedua film itu ditulis Ernest bersama para perempuan—yang pertama dengan Jenny Jusuf, yang kedua dengan istrinya, Meira Anastasia—membuat saya merinding. Masak iya sih, Mbak Jenny tidak keberatan dengan adegan meremas-remas payudara? Masak iya sih, Mbak Meira santai aja dengan adegan perempuan ketumpahan air lantas berkata manja, “Aduh, untung bukan ketumpahan susu, bisa lengket deh.” That is not funny, ladies.

Jangan-jangan benar bahwa lelucon jorok itu sudah diterima sebagai kewajaran, sampai bisa ditertawakan bahkan oleh objek lelucon itu sendiri, yang dalam hal ini adalah perempuan?

Dah ah, marah-marah mulu.

Sampai hari ini aku masih jadi penggemar film-film karya Ernest Prakasa. Dan aku betul-betul berharap, Ko Ernest berhenti menggunakan lelucon sexual innuendo dalam karya-karya blio berikutnya. Percayalah, tanpa lelucon jorok begitu, sampean sudah lucu, kok.

2 comments

  1. Entahlah, kenapa.

    Setelah aku nonton Susah Sinyal kemarin, film ini lagi lagi nggak kusarankan untuk ditonton bareng anak anak sih ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang ya, padahal ini film keluarga dengan tema yang bagus.

      Delete