Pages

Takut

Peringatan: ini postingan baper pilkada DKI. Bagi yang nyinyir karena aku muslim tapi dukung pemimpin Cina kafir, silakan pergi. Bagi yang hobi bully, sana main ke IG Lambe Turah. Bagi yang terbuka untuk diskusi (please, aku sangat butuh hiburan dan pengharapan!) khususnya tentang masa depan negeri ini, dengan senang hati!

Oke.

Buatku ini bukan soal Ahok. Bukan juga soal Anies. Ini semua soal keberagaman dan hak untuk hidup damai di NKRI, apapun agamamu, warna kulitmu, dan bentuk matamu. Seorang kawan aktivis bilang aku baper tidak pada tempatnya. Katanya masih banyak hal yang lebih penting daripada hasil pilgub DKI, misalnya penegakan HAM atau kesejahteraan yang harus merata. Kolega dosen di Surabaya bilang aku naif--katanya ini bukan hanya persoalan identitas, tapi just another party bagi kelompok oligark. Ahok kalah bukan hanya karena sentimen rasial, tapi juga karena kekurangan duit.

(Untuk artikel menarik tentang oligarki di Indonesia, silakan baca tulisan Jeffrey Winters berikut ini.)

Mungkin semua itu ada benarnya. Tapi saat ini yang ada di kepalaku hanyalah: bagaimana nasib kaum minoritas di Indonesia? Dari akun Twitter mbak @JennyJusuf aku membaca, sentimen terhadap WNI keturunan Tionghoa mulai marak lagi.

Seorang anak SD berteriak di TPS "ih, mampus lu yang milih Ahok si Cina kafir!" dan ibunya yang berjilbab hanya tertawa.

Seorang anak SD nangis sepulang sekolah, ingin operasi mata karena "kata temenku kalau Cina nanti masuk neraka".

Seorang WNI perempuan keturunan Tionghoa mengekspresikan ketakutannya akan tragedi 1998 yang mungkin terulang lagi, dan seseorang berkomentar, "well, certainly we would like to fuck you in the ass".

Apakah kalian tidak cemas?

Empat tahun terakhir aku mengajar di sebuah universitas Katolik. Di fakultas, dosen Muslim bisa dihitung dengan jari dan aku salah satunya. Nggak sedikitpun aku mengalami diskriminasi. Shalat, puasa, semua kujalani dengan ringan dan mudah. Beberapa kali saat bulan Ramadan, kawan-kawanku yang kafir itu memasakkan makanan dan menemaniku berbuka di pantry kantor. Satu-satunya batasan di kampus adalah aku enggak eligible untuk jabatan struktural karena enggak punya nama baptis, tapi hei, itu konsekuensi wajar bekerja di kampus dengan kekhasan agama, kan? Toh juga enggak bakal ada dosen Nasrani di kampus Islam yang jadi pejabat struktural. (ada dosen Nasrani di kampus Islam saja sudah bagus.) Makin hari makin banyak muridku yang berjilbab atau bernama depan Muhammad. Dan kami semua bahagia. Belajar dan mengajar tanpa pernah bertanya "apa agamamu?"

Aku mungkin gagal melihat bigger picture dari fenomena pilkada DKI, tapi buatku efek samping yang terjadi di akar rumput, jauh lebih penting. Soalnya, yang kuinginkan hanyalah semua orang bisa hidup di bumi NKRI ini tanpa rasa takut. Bisa mengutarakan apa yang mereka rasakan. Bisa saling berdiskusi, bekerja bareng supaya negara ini jadi makin baik. Bisa sama-sama bangga jadi orang Indonesia. Jadi buatku, memilih pemimpin yang didukung oleh kelompok radikal intoleran dan berharap situasi akan baik-baik saja hanya karena si pemimpin bilang dirinya moderat, adalah hal yang terlalu konyol.

Ah, betapa inginnya aku enggak baper sama semua ini. Betapa inginnya aku berpikir "bodo amat, siapapun pemimpinnya bukan urusanku" atau "yang penting ngurusin hidup sendiri"--tapi aku enggak bisa. Semua tentang keberagaman, toleransi, hidup berdampingan, begitu penting untukku. Makanya hasil pilgub DKI menghancurkan hatiku dengan sangat, sangat, keras.

Setelah ini, anak bangsa yang bersih dan punya niat membereskan negeri, akan berpikir beribu kali untuk terjun ke ranah publik hanya karena dia warga keturunan dan tidak beragama Islam. Setelah ini, jangan heran kalau presidenmu makin keras dituduh keturunan Cina, kafir, PKI, pengusung Komunis Gaya Baru (yang dengan cerdas mereka singkat jadi KGB itu) dan segala jenis fitnah berbau SARA. Setelah ini, nggak usah kaget kalau kita kembali harus murung dan diam di bawah opresi pemerintahan militer. Setelah ini, agamamu bukan lagi urusan pribadimu dengan Tuhan, akan ada orang-orang yang terus nyinyir, sok tahu tentang apa yang paling benar.

Kadang aku berpikir Indonesia memang enggak ditakdirkan untuk jadi bangsa yang besar. Baru kita mau maju dua langkah, mundurnya sepuluh langkah. Mungkin kita selamanya akan stuck di ngomongin kafir, konspirasi Cina, dan bumi datar. Congratulations!


4 comments:

  1. hai andin, kmrn uda ngasi komen bbrp kalimat tapi kayanya ga masuk ya.. hehe

    iyap, walo ga ada hubungan apa apa sama DKI kecuali kakak yang berKTP sana dan semangat banget di grup WA keluarga hehehe..
    apapun, entah ada yang merancang endonesia kita mundur ke masa medieval atau secara naluri dan alami memang belum bisa bertolak.
    Kebetulan aku uda hampir 2 th rantau di negraa maju yang nyatanya lebih milih hal hal yang lebih pantas di prioritaskan secara umum, baik oleh pemerintah sampai sosial yang paling kecil. penggunaan energi, pencegahan penyakit, sistem sekolah, pengelolaan sampah, blablabla kamu tau lah.. dan mari slalu ada untuk menjaga harapan ke arah yang tidak mundur ya , ndin . cheers!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kupikir kita baru bisa ngomongin hal-hal seperti penggunaan energi, pencegahan penyakit, sekolah, dll, begitu kita sudah kelar ngomongin agama. Selama masih berkutat di situ-situ aja ya enggak akan maju. Terus terang aku menuju hilang harapan sih Mil...

      Delete
  2. Halo Mbak Andin. Saya muslim, tidak milih siapa-siapa, lha wong kertas suara Pilkadanya saya rusak karena semua calonnya mewakili kepentingan keluarga yang itu-itu juga yang sudah lama terkenal rusak.. (saya memang tidak tinggal di DKI hehe..)

    Menggoreng isu sensitif untuk kepentingan kelompok sepertinya bakal terus dicoba orang (apalagi kalau terbukti efektif), tidak hanya di Indonesia tapi juga di banyak tempat lain (termasuk yang secara fisik jauh lebih maju spt negerinya Paman Donald Drunk itu). Dari dulu.

    Kasus Pilkada DKI menarik. Ahok (good governance, anti korupsi/pembodohan dst) kalah, itu fakta. Tapi bahwa ia punya banyak fans [muslim]—termasuk dari luar DKI bahkan mereka yg tinggal di luar negeri (juga fakta bahwa Jokowi pernah menang di Solo/DKI, sekarang malah RI-1) rasanhya juga tidak bisa dikesampingkan. Maksud saya, this is an ongoing battle (antara yang ingin Indonesia maju vs yang cari untung sendiri melulu, selain ada juga yang cuma ikut-ikutan tanpa aware apa yang sebenarnya terjadi). Dan namanya battles, kadang menang, kadang kalah, begitulah.

    Intinya, meski dalam beberapa hal saya seiya dengan para kolega dll itu, soal penyikapan saya akur 100% dengan Mbak Andin (yang sebatas bisa coba berbuat sesuatu, meski cuma sekadar artikel di blog)—we can't afford being ignorant. Jadi kalau HATI Mbak Andin sakit (terasa perih dll), semoga lekas sembuh, tapi tolong jangan sampai hancur, karena sebagaimana kita butuh Menteri Susi/Sri Mulyani dll termasuk para pejuang di KPK, kita semua juga butuh orang-orang seperti Mbak Andin. :) Salam.

    PS: Maaf kalau kepanjangan, ini masih nambah. Kalau belum lihat, mungkin bisa googling "youtube gus mus kacang ijo". Lebih ditujukan utk mereka yg suka dibodohin para pembuat onar sih. Semoga menghibur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kutukamus. Maaf ya baru balas, kemarin-kemarin hiatus dari blog. Terima kasih untuk komentarnya. Karena terbawa perasaan, saya lupa bahwa namanya perang ya, kadang menang kadang kalah. Saya akan mencoba untuk tidak patah arang untuk Indonesia. Anda juga ya.

      Delete