Pages

Pembaca yang Tekun

Selama hamil, aku kena Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Jari tangan dan kaki kebas, sulit ditekuk, kesemutan, dan bengkak. Pergelangan tangan ngilu dipakai mengetik. Memegang pulpen atau pinsil masih bisa, tapi tulisan tanganku telanjur sangat jelek. Kawan pengarang Wan Nor Azriq biasa menulis tangan seluruh ide novelnya di sebuah buku tulis, baru disalin (sembari diedit) di komputer. Kucoba meniru. Hasilnya? Kalimat enggak keluar. Rupanya aku sudah jadi pengarang manja. Bayangkan Putu Wijaya dulu ke mana-mana bawa mesin tik segede gaban..

Nina lahir, CTS hilang, berganti jadi mata panda akibat nyusuin ganti popok ayun-ayun sampai bobok dan semua kegiatan per-mama-an itu :)) Efeknya masih sama: enggak ada mood dan energi untuk menulis panjang. Akibatnya, hampir setahun terakhir aku memuaskan diri jadi pembaca. Dan seperti kata Bang Eka, jadi pembaca lebih enak daripada jadi penulis. Setidaknya enggak membuat kita pengen jeduk-jedukin kepala ke kibor saat kalimat yang tepat tak kunjung didapat.

Di antara buku-buku yang kubaca sampai khatam, dua terakhir yang cukup berkesan adalah "Aib dan Martabat"-nya Dag Solstad dan "Tuhan Tidak Makan Ikan"-nya Gunawan Tri Atmodjo.


Payung hitam adalah koentji

Buku Dag Solstad bercerita tentang seorang guru tua bernama Elias Rukla. Yang menarik dari buku ini adalah minim dialog (sama sekali enggak ada percakapan langsung!) dan alurnya yang bergerak mundur dengan rapi. Ceritanya, Elias Rukla sudah lelah mengajar sastra Norwegia klasik untuk anak-anak SMA yang tidak berminat. Di mata para siswa, Elias Rukla lebih mirip benda sejarah daripada sosok guru yang menarik. Kebosanan para murid terhadap Elias Rukla dan pelajarannya diungkapkan secara kentara. Ketika Elias Rukla mengajar, ada yang menguap, tidur, berdecak tak sabar menunggu bel tanda kelas berakhir, mendengus kesal, yah... memang betul, enggak ada yang lebih bikin down daripada ngajar di kelas yang para muridnya pasif dan tak berminat.

Saat hendak pulang, turun hujan. Elias membuka payung hitam di halaman sekolah. Macet. Elias lalu menghantam-hantamkan payung itu ke tanah sembari menyumpah serapah. Ketika ada murid yang ternganga menatapnya, Elias memaki, "Babi!" Seluruh kekesalan ia tumpahkan ke payung tak berdosa itu. Sekujur telapak tangannya berdarah.

Elias Rukla berjalan tak tentu arah. Karena hidup itu indah, seharusnya dia menangis sepuas-puasnya. Tapi dia tidak menangis. Elias berkeliling kota sambil melamun. Dan lamunannya inilah yang menjadi bangunan cerita. Kita jadi tahu kenapa Elias jadi guru, juga cerita tentang sahabatnya, mantan istri sahabatnya yang akhirnya menjadi istrinya, anak sahabatnya yang akhirnya menjadi anak tirinya, kehidupannya semasa masih mahasiswa yang penuh dengan buku pesta dan cinta, apartemennya,.. pokoknya segala hal tentang hidup Elias Rukla.

Aku suka bagaimana Dag Solstad menjaga alur cerita mundur dengan rapi, lalu mengempaskan segalanya di akhir. Kita dibawa ke masa kini dengan cara yang sadis dan mendadak. Setelah sebelumnya asyik mengikuti alur kehidupan Elias Rukla, tiba-tiba kita dikembalikan ke persoalan runyam yang dihadapinya di awal cerita: takut kehilangan pekerjaan karena sudah 'meledak' dengan sangat tak sopan di halaman sekolahan. Bagian favoritku dari buku ini adalah endingnya!

Kurekomendasikan buku ini untuk mereka yang ingin memperluas khazanah sastra dunia. Diterjemahkan oleh Irwan Syahrir dan diterbitkan Marjin Kiri.

Buku kedua adalah "Tuhan Tidak Makan Ikan" karangan Gunawan Tri Atmodjo. Mas Gun ini kawanku, kenalan saat sama-sama menjadi sastrawan sosialita di Ubud Writers & Readers Festival 2015. Penampilannya bersahaja. Komentarnya jenaka. Sebagai sesama pria Solo, Mas Gun langsung akrab dengan penyair Adimas Immanuel dan suamiku.

"Di mana pun, orang Solo akan saling menemukan,"begitu kata Adimas.

Di Ubud, selain foto-foto kami bertukar buku. Di situlah pertama kalinya kubaca buku Mas Gun, Sundari Keranjingan Puisi. Baru-baru ini, dia kembali mengirimiku kumpulan ceritanya ini. Dan menurutku, Tuhan Tidak Makan Ikan jauh lebih bagus dari Sundari!

Ikan juga tidak makan Tuhan

Mas Gun menulis dengan ringan. Tampak sekali dia menikmati proses menulis cerita-ceritanya ini. Ada yang seragam dalam diri para tokohnya: keinginan untuk membuktikan diri yang pada akhirnya gagal dengan mengenaskan. Kegagalan ini ditertawakan tanpa ampun oleh sang pengarang, dan aku sebagai pembaca juga ikut tertawa sampai keluar air mata.

Kesukaanku adalah cerita berjudul "Anak Jaranan". Dari judulnya saja kau bisa menebak kalau ini cerita plesetan, kan? Pada suatu hari yang diberkati, Trijoko si pengarang idealis (alias cuma bisa ngide) berhasil menyelesaikan sebuah naskah drama yang terinspirasi dari sinetron Anak Jalanan. Dia menulis seharian. Yakin sekali ini bakal jadi drama yang super keren. Apa boleh buat, sang istri tersinggung karena merasa sinetron kesukaannya dihina oleh naskah sang suami. Perintah diluncurkan: hapus naskah itu! Trijoko menurut karena: 1) istrinya berprofesi sebagai kepala satpam; dan 2) istrinya pencari nafkah keluarga.

Mas Gun juga menyisipkan humor-humor syegar seperti nama akun Fesbuk "Fredy Surga yang Tak Dirindukan" dan "Grace Senantiasa Bermuhasabah". Juga main-main dengan singkatan RPKAD "Remaja Pembawa Korek Api Doang". Buatku, cerpen-cerpen Mas Gun ditulis dengan jujur, dekat dengan realita, dan enggak sok melankolis filosofis puitis.

"Mas, saya suka cerita-cerita sampeyan. Andai saya Richard Oh, sampeyan sudah tak kasih KLA," ketikku di WhatsApp.

"Duh Mbak, cerita-cerita saya kurang mengharukan untuk dapat penghargaan..."

Wealah!

No comments:

Post a Comment