Pages

Garis Keras

Sebagai perempuan yang awam dunia per-bayi-an, saya pun sukses menjadi ibu baru yang serba canggung dan clueless bagai Dora tanpa peta.

Gugel-gugel ke sana kemari, kagetlah saya: ternyata ada banyak nazis di dunia ibu dan bayi. Dunia yang tadinya saya kira damai, unyu, adem ayem, ternyata tak ubahnya medan perang. Para ibu dan segala penilaian mereka kadang bisa begitu kejam memerahkan telinga, mengiris hati.

Perang ibu alias Mommy War pertama adalah perdebatan ibu rumah tangga versus ibu bekerja. Masing-masing dengan argumentasinya sendiri. Mulai dari yang masuk akal sampai yang munafik.

(Argumen munafik misalnya begini: "Jihadnya perempuan itu ada di dalam rumah. Dengan mengurus anak dan suami, ganjarannya pahala, sesuai kodrat kaum wanita." Berarti situ nggak boleh lho, cari dokter kandungan perempuan, dokter anak perempuan, guru sekolah perempuan. Kan mereka perempuan bekerja? Melawan kodrat, dong?)

Mommy War kedua adalah soal air susu ibu (ASI) versus susu formula. Entah kenapa bagi para pegiat ASI garis keras, susu formula itu seperti racun. Bisa bikin anak diabetes, sakit-sakitan, dan pas besar nanti kalah pintar sama teman-teman sejawat. Sebagai anak yang full minum susu formula sejak lahir sampai sekarang, saya sungguh meragukan klaim-klaim bombastis ini.

Bahwa ASI itu terbaik, ya, setuju. Tapi bukan berarti yang ngasih sufor enggak sayang anak. Mama saya (yang notabene dokter spesialis anak) ngasih sufor ke tiga anaknya karena ASI enggak keluar banyak. Kebetulan setiap kali hamil, Mama pas lagi berjuang: menyelesaikan kuliah, mengabdi di puskesmas, lalu ambil pendidikan spesialis. Kelelahan bahkan sampai pingsan saat ujian. Terus kami mau dikasih air tajin gitu?

Ada ibu yang sudah usaha sampai berdarah-darah (literally and figuratively), eh ASI cuma keluar seiprit. Ada ibu yang terpaksa mengkonsumsi obat dengan efek samping ASI jadi seret. Ada ibu yang sudah bolak balik ke konsultan laktasi tapi si bayi enggak pernah bisa netek dengan benar. Ada banyak alasan kenapa seorang ibu enggak kasih ASI untuk bayinya, dan alasan itu sama sekali tidak untuk dihakimi.

(Sampai hari ini Nina umur satu bulan 5 hari--beratnya sudah naik 1,3 kilo dari berat lahir, yeeey!!--kami masih ada rezeki ASI eksklusif. Saya juga bisa nabung dikit-dikit buat stok ASI nanti kalau sudah balik ngantor. Tapi saya enggak mau maksain juga. Sekeluarnya, sedikasihnya.)

Mommy War lainnya adalah tentang makanan pendamping air susu ibu (MPASI) bikinan sendiri atau instan. Ini juga sama. Seolah kalau seorang ibu sesekali ngasih anaknya makanan bayi instan berarti jadi ibu paling jahat sedunia. Seolah makanan bayi instan itu isinya blenderan MSG campur sakarin. Bahkan cemilan pun harus dibikin sendiri, enggak boleh beli. Seperti susu formula, makanan bayi instan adalah konspirasi perusahaan asing, Freemason dan Yahudi.

Jadi formula ibu sempurna di Indonesia adalah: ibu rumah tangga + tanpa baby sitter atau pembantu + tidak memasukkan anak ke daycare + ASI eksklusif selama 2 tahun bahkan lebih + makanan homemade tanpa tersentuh yang instan sedikit pun.

Dengernya aja udah capek. Susah memang jadi perempuan.

Serial Mommy War ini mengingatkan saya bahwa di ruang publik, fundamentalisme ada di mana-mana. Bahkan untuk urusan yang seharusnya ada di ranah privat. Prinsip garis keras rupanya bukan hanya milik front pembela agama tertentu, tapi juga ibu-ibu yang dikaruniai bayi-bayi unyu.

Dan selamanya para penganut garis keras akan selalu gagal melihat perkara dari beragam sudut pandang, apalagi memberi ruang pada cara hidup orang lain yang mungkin saja berbeda.

1 comment:

  1. Kalo aku prinsipnya : ASI itu harus, tapi tidak boleh dipaksakan :)

    ReplyDelete