Pages

Tanggapan Untuk Artikel Pindai "Kereta Sudah Bukan untuk Kami"

Pagi ini saya membaca sebuah artikel di situs keren Pindai.org, berjudul "Kereta Sudah Bukan untuk Kami" tulisan Rusdi Mathari. Menurut twit admin Pindai, artikel ini termasuk salah satu dari lima tulisan yang paling sering dibaca.

Setelah meluncur ke TKP, saya akhirnya memutuskan menulis tanggapan untuk artikel tersebut. Tadinya mau ditulis di kolom "comment" saja, tapi gagal verifikasi entah mengapa :(

Hasrat untuk menanggapi tulisan Mas Rusdi disebabkan oleh dua hal: pertama, ini tulisan yang bagus; kedua, saya penumpang setia KRL, moda transportasi yang menjadi fokus artikel.

Saya sudah naik kereta sejak belum jadi KRL seperti sekarang. Sejak masih beli karcis yang musti disobek petugas di dalam kereta. Sejak masih bebas beli gorengan, popmie, air mineral botolan dan kopi panas di gelas plastik, di dalam stasiun. Sejak orang boleh merokok di mana saja, sambil ngobrol nunggu kereta. Oh ya, trayek saya jalur Serpong-Tanah Abang.

Semasa masih ngantor di daerah Kebayoran, kadang saya naik kereta ekonomi juga, yang bodinya dicat oranye. Saya sering berdiri di gerbong tanpa kursi, bareng pedagang sayur dan penjual kursi rotan. 

Mungkin dalam tulisannya, Mas Rusdi memang hanya ingin mengkaver sudut pandang mereka yang tersisih akibat perkembangan kereta. Tapi, izinkanlah saya menuliskan sudut pandang seorang komuter yang tiap hari mengandalkan KRL untuk beraktivitas.

Bagi saya, kereta sekarang jauh, jauh lebih nyaman. Di dalam stasiun terasa lebih aman. Sebagai mantan perokok (plus sekarang lagi hamil), mungkin tak terbayangkan oleh Mas Rusdi betapa LEGA rasanya stasiun bebas rokok. Saya nggak perlu deg-degan janin saya kenapa-napa karena ibunya jadi perokok pasif. Ngomong-ngomong, buat mereka yang nggak merokok, kesembur asapnya itu menyiksa banget lho, Mas. 

Dari stasiun tempat saya naik (Sudimara/Jurangmangu), para perokok dan pengopi biasanya nongkrong dulu di warung depan stasiun. Kadang saya ikutan ngopi di warung kalau masih ada jeda lima-sepuluh menit sebelum kereta datang, sambil mencomoti gorengan.

Para satpam (yang enggak semuanya ceking ah, Mas) juga ikutan nongkrong di sini. Beberapa kali saya naik dari Rawa Buntu, di samping stasiun berderet ibu penjual nasi uduk, lontong sayur, kopi,.. dan kami semua makan di sini: pegawai kantoran, para PNS berseragam, satpam, dan mahasiswa. Paling nikmat minum kopi tubruk hitam yang dihirup pelan-pelan sambil nunggu pengumuman kereta datang.

Nggak, Mas, saya nggak pernah beli kopi di Starbucks meskipun ada di depan mata di Stasiun Sudirman. Menurut saya kopi Starbucks nggak enak dan kemahalan. Saya juga selalu berupaya membeli air mineral botol di ibu-ibu pedagang depan stasiun daripada Alfamart/Indomaret, meskipun biasanya lebih mahal seribuan rupiah. Atau bawa air dari rumah/kantor sekalian biar irit.

Kami nggak lantas jadi borjuis-borjuis kecil lantaran naik KRL yang "bagus" dan "adem" ini, kok.

Saya berdoa setulus hati agar kereta untuk petani dan pedagang segera diaktifkan. Dan saya berharap Mas Rusdi tidak memandang KRL sekadar sebagai produk kapitalisme yang jahat dan mengisap darah rakyat kecil. Kami para penumpang KRL ini pun rakyat, dan sangat terbantu dengan sistem perkeretaapian yang sekarang.

No comments:

Post a Comment