Pages

Dari Pasar Santa

Kalau saya ngaku baru kali ini ke Pasar Santa, kalian masih pada mau baca blog ini nggak?

Yah, saya memang segitu nggak gaul-nya. Padahal nama Pasar Santa sudah begitu sering saya dengar, terutama lewat aneka kuliner anti-mainstream dan warung kopi bayar suka-suka. Apa daya, memang sudah lama saya tak rajin menjamah pusat-pusat kebudayaan dan ruang-ruang perhipsteran. Bukan tak ingin; hanya kemacetan jalan dan linunya tulang saat terkena angin malam, sering bikin segan. (( TUA ))

Maka itu, saya girang ketika mendapat undangan berbagi di acara #MenulisDiPasar, 25 Oktober lalu. Ceritanya, Ubud Writers & Readers Festival bekerjama dengan Toko Buku POST Santa, menggelar acara bincang-bincang nan ikrib seputar tulis-menulis. Acara ini rutin diadakan di toko buku tersebut, kali ini temanya mengembangkan karakter dalam cerita fiksi.

Saya dan Kamerad Norman Erikson Pasaribu memanfaatkan waktu tiga jam untuk berbagi pengalaman kami (yang sebenarnya masih seiprit ini) tentang suka duka mengembangkan karakter. Dengan bantuan PPT sederhana dan mikrofon yang kemudian mati , kami mengajak peserta diskusi untuk berani mengambil inspirasi karakter dari mana saja, dan mengembangkannya sebebas mungkin.

Ciluuuk.. baaaa!


Apa sih, karakter itu? Mengapa dalam sebuah cerita perlu ada karakter? Dari mana datangnya inspirasi karakter? Kalau sudah dapat inspirasi, bagaimana mengembangkannya? Bagaimana cara agar kita betul-betul mengenal karakter kita? Kalau karakter kita terinspirasi dari tokoh nyata, apa yang harus dilakukan untuk sedikit menyamarkannya? Bagaimana jika karakter menolak jalan cerita yang kita pilihkan untuknya?

Kurang lebih hal-hal itu yang kami bahas di acara kemarin. Akun Twitter @post_santa mengutip sebagian kecil di antaranya. Seperti biasa, berbagi di acara seperti ini jatuhnya bukan saya yang "mengajari" para peserta, melainkan sebaliknya. Pertanyaan dan ide cerita yang mereka bacakan, justru membuat saya dapat banyak pencerahan. Lagipula, saya mendapat kesan, semua orang yang hadir kemarin itu bisa menulis, bahkan mungkin lebih baik dari saya dan Norman!

Bertemu orang baru dan mengobrol panjang adalah bagian terbaik kedua dari menjadi pengarang. Yang pertama? Tentu saja, menaklukkan layar Microsoft Word yang berpendar-pendar tengah malam, mengisinya pelan-pelan, dari kata menjadi kalimat menjadi paragraf menjadi bab menjadi cerita..

2 comments:

  1. minggu, 25 oktober 2015, saya dan isteri juga pertama kali ke pasar santa, ttp sayang banyak yang tutup.

    ReplyDelete
  2. Mungkin kepagian? Sepertinya rata-rata toko buka di atas jam 13.

    ReplyDelete