Pages

Mengintip Ponsel Orang

Di kereta kita bisa bertemu bermacam-macam orang. Kalau beruntung, kadang kita mendengar celotehan 'ajaib' yang mengundang senyum. Percakapan ini bisa terjadi antara sesama penumpang, atau seorang penumpang bicara cukup keras di ponselnya sehingga menjadi 'radio' gratis yang siap menghibur Anda sepanjang perjalanan. :)

Sedangkan kalau kurang beruntung, Anda bisa terjebak dalam kereta yang super penuh. Sulit bergerak. Lalu orang di depan Anda mulai mengeluarkan ponsel dan texting di depan mata. Kadang-kadang, seberapa keras pun Anda berusaha menghindarinya, mata Anda akan terpacak pada layar ponsel itu. Dan terbacalah percakapan yang seharusnya bukan urusan Anda...

Kawan saya Nina baru-baru ini saya mengalami situasi serupa. Sore itu kereta penuh. Nina naik gerbong khusus wanita. Ia berdiri menempel pada ibu-ibu berambut bondol ala Demi Moore. Tak lama, si ibu sibuk mengeluarkan dua buah ponsel dari tas tangannya. Ponsel yang satu layarnya retak-retak seperti tanah kena kemarau panjang. Ponsel yang satu lagi adalah BlackBerry lama yang masih pakai trackball--konon bisa dioles minyak kayu putih kalau macet.

Kereta berhenti. Penumpang masuk lagi. Nina tergencet sehingga layar BlackBerry si ibu tepat ada di depan hidungnya.

'Demi Moore' menekuni layar ponsel retak itu, lalu sibuk memencet-mencet BlackBerry. Rupanya ia menyalin pesan dari ponsel retak, ke ruang chat BBM dengan seorang kawan. Pesan tersebut dalam bahasa Inggris dan ia tak tahu artinya.

Nina menggeser tubuhnya sedikit. Oh, pesan itu dari seorang lelaki bule! 'Demi Moore' ingin tahu apa maksud kalimat-kalimat si bule, dan temannya mencoba menerjemahkan.

"Kalimat pertama: I like your smile. Your eyes are beautiful."
"Aku suka senyummu. Matamu cantik. Wah, elo lagi dirayu."
"Bisa aja nih bule. Terus: I want to see you when I come to Jakarta."
"Dia mau ketemu elo pas ke Jakarta lagi."
"Dia juga bilang; I want to sleep with you, why don't you come to Malang?"
"Busyet! Aku pingin tidur sama kamu, .. elo disuruh datang ke Malang!"
"Hah! Bule gila nih dasar!"

Nina mengulum senyum. Apakah ia 'mengikuti' percakapan si ibu dengan kawannya sampai akhir, saya tidak tahu. Hanya ketika ia menceritakan hal ini, saya menyebutnya tukang usil, mau tahu urusan orang. Nina membela diri. Katanya, saya tidak tahu betapa sulitnya menahan godaan melihat layar ponsel orang di depan mata, apalagi bila pembicaraannya seru.

"Kalau ibu itu bicara soal belanja sayur atau panci, aku juga enggak bakal ngintip," kata Nina.

Saya manggut-manggut.

9 comments:

  1. Senang rasanya jika ibu dosen menulis blog lagi

    ReplyDelete
  2. Senang rasanya jika blog saya dibaca lagi.

    ReplyDelete
  3. akhirnya ada postingan baru.
    percaya ga sih kalo daku hampir seminggu tiga kali masuk blog inih dan kuciwa karena ga ada posting baru terus.
    keep blogging lah, Din! *sokakrabbiarin* :P

    ReplyDelete
  4. Ya ampun, terharu. Beneran. Baiklah, saya akan rajin-rajin meracau di sini, hehe. Terima kasih sudah mampir, ya!

    ReplyDelete
  5. hi hi seru nih!!! mungkin harus pakai HP jadul yang layarnya masih ijo-ijo itu, biar susah kalo ada yg intip ((: ... cool share Mba

    Mba Andina kira2 Semusim Dan Semusim Lagi ada terusannya ga? sepertinya, tapi ini cuma menurut ku lho!, ada celah di tokoh Ibu, mungkin Si Ibu itu ada cerita di masa lalu, entah mengapa saya tertarik sangat dengan tokoh Ibu dalam novel itu

    Tetap di tunggu nih karya yang lainnya, setelah saya baca Semusim... pasti karya yang lainnya Mba, saya yakin pasti keren. sip dech salam berkreasi, mudah2an sukses selalu bersama Mba Andina (:

    ReplyDelete
  6. Halo Mas Maddie, trims ya sudah baca. "Semusim, dan Semusim Lagi" sementara ini belum ada terusannya, tapi saya sedang menyiapkan novel kedua. Sampai jumpa di sana, ya! :)

    Sukses terus untuk Anda.

    ReplyDelete
  7. yes! that's aww aww aaw awesome ((:
    sip Mba Andina Nuhun (:

    You're Rockin' Dope (y)

    ReplyDelete
  8. Kelakuaaaaan.Hahaha. Sama sih cuy, gue juga. Bahkan gue pernah curi baca yang lagi sexting.

    ReplyDelete
  9. Oi, benar teman mbak itu. Susah memagari diri utk tidak melirik layar hp orang, apalagi kalau kalo situasinya mendukung haha.. Tabik :)

    ReplyDelete