Pages

Hal-hal yang Tak Lagi Sama Ketika Kau Menuju Kepala Tiga

Postingan kali ini kutulis untuk menangisi merayakan periode umur 20-an yang akan segera berakhir. September nanti aku akan berusia 29 tahun, dan September tahun berikutnya, ya Tuhan, aku resmi jadi orang tua  dewasa! Lewat artikel yang terinspirasi dari Buzzfeed ini, aku ingin berbagi bahwa, seperti peralihan usia dari 19 ke 20, menjelang usia 30 banyak perubahan yang terjadi dalam diri. Hal-hal yang tadinya membingungkan, tiba-tiba jadi jelas. Perkara-perkara yang tadinya begitu sibuk kita pikirkan, mendadak tak lagi relevan. Tak ketinggalan, perubahan fisik yang kerap kali membuat kita tersadar: damn, I am getting older!



Ouch...

Jadi, inilah hal-hal yang tak lagi sama ketika kau menuju kepala tiga:
   
1. Opini Orang Lain
Sepanjang usia belasan dan periode awal 20-an, pendapat orang lain rasanya begitu penting. Kamu berjuang untuk dapat diterima dalam pergaulan. Meskipun kamu sering mengutip puisi Chairil Anwar, diam-diam kamu tak ingin jadi binatang jalang yang dari kumpulannya terbuang. Akibatnya, kamu cenderung sangat self-conscious. Bagaimana kalau orang tersinggung dengan perkataanku tadi? Bagaimana kalau dia pikir aku nyolot? Bagaimana kalau aku dikira sombong? Bla bla bla.... Guess what? Ketika umurmu mendekati kepala tiga, opini orang lain jadi tak segitu pentingnya. Selama kamu nyaman dengan dirimu dan tak mengganggu mereka, bodo amat apa yang orang lain pikir. Ada orang suka sama kamu? Makasih banyak. Ada orang enggak suka sama kamu? Emang gue pikirin! :P

2. Kekurangan Diri
Ini masih berkaitan dengan poin pertama. Waktu masih muda, kekurangan diri membuatmu cemas. Kamu browsing kanan-kiri, cari cara untuk mengeliminir kekuranganmu. Misalnya, kamu merasa diri emosian. Lalu kamu ikut kursus anger management atau ikut seminarnya Adjie Silarus supaya kamu bisa sadar penuh dan hadir utuh (apa pula itu). Menjelang 30, kamu akan sadar bahwa kekuranganmu itu ya, bagian dari dirimu. Enggak ada gunanya mengingkari hal itu. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mengenali dan menerima diri sendiri.

3. Makanan
Kamu mulai sadar, maksudnya beneran sadar, bahwa pola makan sehat itu penting. Kamu mulai berhenti merokok, mengurangi porsi alkohol, dan mengkonsumsi sayur-sayuran karena kamu tahu badan kamu butuh itu--bukan karena dinyinyirin orangtua atau pacar.

4. Drama Percintaan
Dulu patah hati bisa berbulan-bulan, meringkuk di pojok kamar sambil dengerin Love Hurts-nya Nazareth. Sekarang? Kamu 'musuhan' sama drama-drama enggak jelas dalam hubungan romansa. Prinsip percintaanmu sederhana: yang pasti-pasti aja, deh. Kalau cinta, ayo. Kalau enggak, dadah.

5. Begadang
Pesta sampai subuh terus paginya kuliah jam delapan? Cih, siapa takut! Tapi sekarang? Jam sepuluh malam, mau melek aja udah susah. Zzzzzz...

6. Musik 
Kamu enggak ngerti kenapa suara-suara kayak robot rematik bisa disebut musik. Dan kamu enggak bisa move on dari Noel Gallagher meskipun Oasis udah bubar.

7. Keluarga
Entah sudah menikah atau belum, pada usia menjelang 30-an inilah kamu akan benar-benar menyadari bahwa family comes first. Kamu udah kerja cukup lama untuk tahu bahwa kalau kamu tiba-tiba resign, perusahaan akan dengan mudah cari gantinya. Tapi kalau kamu enggak cukup memperhatikan keluarga kamu, di mana mereka harus cari ganti kasih sayangmu? Ciye.

8. Uang
Kamu berhenti jadi pembelanja impulsif. Mulai mikir daripada beli barang mahal buat gaya, mendingan yang biasa saja tapi fungsional. Tapi, di sisi lain, kamu enggak keberatan bayar lebih buat kenyamanan. Saat travelling, kamu pilih hotel yang bagus. Minimal yang kasurnya enggak kutuan dan tidurnya enggak satu barak rame-rame. Terus kalau harga tiket Garuda sama maskapai lain beda tipis, pasti kamu lebih pilih naik Garuda.

9. Pencapaian
Waktu masih muda, kamu selalu ingin membuktikan diri. Prestasi membuatmu merasa hebat, penghargaan membuatmu merasa kuat. Tapi menjelang 30, you know what, semua itu enggak penting lagi. Kalau kamu dapat pujian, entah lisan atau dalam bentuk award, kamu tahu semua itu sifatnya subjektif aja. Dipuji atau dicaci, enggak akan mengurangi nilaimu sebagai manusia.

Apa lagi, ya? Berbagi yuk, di comments.

15 comments:

  1. semuanya tanda-tanda sudah dewasa..

    ReplyDelete
  2. Berat badan!

    Lama-lama berdamai dengan ukuran ketika masih di awal 20-an hahaha :D

    ReplyDelete
  3. Eh, kayaknya salah komen deh.

    Maksudnya sadar kalau ya udah deh, ngak perlu jadi size zero juga buat happy (walau nggak pernah size zero juga sik) :D

    ReplyDelete
  4. @Kak Jessica: IYA! Trus satu lagi: enggak lagi cranky berlebihan ketika menghadapi situasi yang kurang menyenangkan. Paling cuma angkat bahu dan bilang, 'oh well, shit happens' :))

    ReplyDelete
  5. usia mengubah cara berpikir seseorang. dulu aku pernah gak percaya hukum ini

    ReplyDelete
  6. Saya baru 26 tahun. jadi belum bisa berbagi tentang masa-masa peralihan ke usia 30.

    ReplyDelete
  7. @Pak Zaenal: Namun ternyata hal itu benar adanya ya Pak? Apa perubahan terbesar yang Bapak rasakan selama seiring dengan pertambahan usia? Also, can you share what happened in your late 20's and early 30's? :D

    ReplyDelete
  8. Like this post a lot! :D
    Apa lagi ya yang bisa kutambahkan? Kayaknya udah kesebut semua kok, di atas.

    ReplyDelete
  9. welcome to the club :)
    eh tapi meskipun demikian, kadang-kadang daku masih merasa seperti gadis belia berusia belasan lho. entahlah :)

    ReplyDelete
  10. @Dini: Ayo tambahin Din, dari pengalaman pribadi mungkin? Hehehe...

    ReplyDelete
  11. @Yessi: Kalau aku sering merasa, "little girl at heart" hehehe... Mungkin itu bagian dari upaya kita menolak tua? :))

    ReplyDelete
  12. Hmm... Kalau yang aku rasain sih:

    1. Makin jarang (dan makin banyak alasan) buat olahraga. Otomatis badan melar.

    2. Pertemanan mulai surut. Dalam artian, dulu di awal 20-an bisa kenal begitu banyak orang dan bergaul dengan banyak kalangan, teman nongkrong banyak, tapi semakin kita bertambah usia, kegiatan hang-out mulai berkurang. Teman yang dulunya akrab, sekarang satu per satu pergi dan melanjutkan dunianya, entah karena berkeluarga atau sibuk dengan pekerjaan. Yang bertahan hanya beberapa sahabat yang kenal kita luar dalam.

    3. Semakin banyak hal yang menimbulkan nostalgia. Kalau ingat jajanan masa kecil, permainan, lagu yang dulu populer, dsb., kita jadi terkenang masa lalu dan kadang-kadang pengen balik ke masa itu. (Mungkin ini juga alasannya banyak event dan buku bertema generasi 90-an laris manis di pasaran.)

    4. Makin dewasa, konsekuensinya ada beberapa hal yang bikin kita ga sebebas dulu. Berganti dengan kewajiban, tanggung jawab, atau paling tidak, hal yang lebih pantas untuk dilakukan oleh orang seumur kita. Aku ga pandai ngejelasinnya, tapi ibaratnya kalau ngeliat remaja-remaja bisa berisik bareng gengnya atau ngegila, kita cuma bisa mikir: "Dulu aku pernah ngalamin itu." (Gila, tua banget ya pikiranku?)

    Begitulah kira-kira. Oh iya, terkait poin di tulisanmu yang bilang kalau menjelang kepala tiga umumnya berhenti jadi impulsif buyer, itu terjadi padaku. Tapi cuma satu hal yang ga bisa berhenti meski usiaku menjelang kepala tiga: Aku tetap impulsif kalau beli buku. :)) Meski berusaha ga menimbun juga, sih.

    Makasih sudah menulis artikel ini ya, An. ;)

    ReplyDelete
  13. @Dini: 1. Same here. Berangkat dan pulang kantor aja udah capek, boro-boro mau olahraga :))

    2. Di sisi lain, teman kantor jadi teman nongkrong. Jadi berasa dapat geng baru.

    3. Bukan kadang-kadang lagi, tapi selalu! Kangen masa-masa belajar sambil bermain, saat hidup belum serumit sekarang. Kalau kata S07, "hidup memang tak seindah waktu kita muda dulu, umur terindah pasti kan berlalu"

    4. Dalam hal ini aku sepakat sama quote berikut: you never really grow up, you just learn how to act in public :))

    Dan untuk membuat segalanya lebih cihuy, aku baru sadar: 1995 itu 20 tahun yang lalu!

    ReplyDelete
  14. Wah ini bener banget hampir semua telah saya rasakan hahaha.. Hanya yg soal traveling saya masih cari flight yg murah dan seneng tidur di barak rame-rame, penampilan bodo amat yg penting nyaman buat diri sendiri semakin amburadul perasaan semakin seksi, temennya jadi itu-itu aja males haha hihi lagi...ada yg negur syukur ga ya udah :D

    ReplyDelete
  15. @Wening: Katanya sih, makin tua kita makin ngerasa nyaman sama diri sendiri. Mungkin periode 30-an adalah titik awal menuju ke sana :)

    ReplyDelete