Pages

#Book 4: Disgrace



WARNING: SPOILER ALERT.

David Lurie seorang profesor di sebuah universitas di Cape Town, Afrika Selatan. Kariernya sebagai pengajar hancur berantakan setelah dia terlibat skandal seks dengan seorang mahasiswi bernama Melanie. Awal hubungan David dengan Melanie begitu simpel: hujan-nawarin tebengan-main ke apartemen-makan malam-musik klasik-nonton film-seks. Tapi, keadaan menjadi kacau setelah Melanie melaporkan David ke pihak universitas. David menolak membela diri karena merasa tak banyak gunanya. Depresi dan seorang diri, David mengunjungi putrinya, Lucy, yang memilih jalan hidup non-mainstream yakni menjadi petani di desa. Lucy menanam sayur-sayuran untuk dijual di pasar tiap pagi, dengan bantuan seorang petani lokal bernama Petrus. Lucy juga punya anjing-anjing peliharaan yang perawatannya dikonsultasikan ke pakar hewan setempat, Bev Shaw. David mencoba beradaptasi dengan kehidupan barunya sembari menyusun buku opera (yang dia yakin tak bakal laku) dan berkenalan dengan orang-orang desa. Di dalam hati dia merasa sayang karena anaknya bergaul dengan orang-orang tak berpendidikan. David mencoba mengkonfrontasi putrinya, tapi Lucy justru marah-marah. Kehidupan jadi petani sangat ideal buatnya. Hubungan mereka yang sedang tegang itu bertambah gawat setelah rumah Lucy kemalingan dan Lucy diperkosa. David histeris. Apalagi, saat kejadian itu, Petrus yang seharusnya membantu jaga rumah malah tidak ada di tempat. David bertambah stres ketika dia akhirnya tahu bahwa 1 dari 3 pria yang memperkosa Lucy kenal baik dengan Petrus. David memukul dan mengkonfrontasi pria itu, tapi Lucy justru melarang ayahnya lapor ke polisi. David memohon-mohon agar Lucy mau kembali ke kota bersama dia dan hidup sebagai apa saja asalkan tidak di desa itu yang jelas-jelas berbahaya. Lucy menolak. Menurut dia itu konsekuensi pilihan hidupnya, sekaligus "harga yang harus dibayar menjadi orang kulit putih". Tak mengerti jalan pikiran Lucy, David kembali ke kota. Dalam perjalanan pulang dia mampir ke rumah Melanie, mahasiswi yang pernah ia tiduri itu, untuk minta maaf dan menjelaskan pada orang tuanya tentang skandal mereka. Setelah momen makan malam yang super awkward, David pulang ke apartemen--hanya untuk menemukan bahwa tempat tinggalnya itu sudah dirampok habis-habisan. Dia lalu kembali ke universitas untuk mengambil barang-barangnya; kantor dia sudah ditempati dosen baru yang lebih muda. Bev Shaw telpon dan mengabari: Lucy hamil. David kembali ke desa. Tak mengejutkan, Lucy memutuskan untuk mempertahankan si bayi. David lalu memutuskan untuk membantu Bev Shaw di klinik hewan liar, bagian suntik mati hewan-hewan yang sudah tidak punya harapan hidup. Bagian favoritku di novel ini adalah kalimat terakhirnya:

Bearing in his arms like a lamb, he re-enters the surgery. 'I thought you would save him for another week,' says Bev Shaw. 'Are you giving him up?'
'Yes, I am giving him up.'

"Disgrace" adalah salah satu novel paling disturbing yang pernah kubaca seumur hidup. Protagonis kita dihajar habis-habisan. David Lurie bukan hanya sudah jatuh tertimpa tangga, tapi masih dilanjutkan dengan terpeleset, tertabrak motor, kecopetan, dan seterusnya dan seterusnya. Konon, itu ciri utama novel J.M. Coetzee, yakni si protagonis tertimpa kemalangan bertubi-tubi. Coetzee suka memposisikan manusia dalam kondisi paling gelap, paling down, paling sesak, dalam kehidupan, lalu seolah menantang: now what? Buku ini pemenang Booker Prize dan empat tahun setelah diterbitkan pada 1999, Coetzee memenangi Nobel Prize in Literature . Tapi, tanpa itu pun, "Disgrace" salah satu novel yang sangat layak baca. 

No comments:

Post a Comment