Pages

Menjadi Saksi

Tidak berada di Indonesia pada saat pilpres tahun ini sempat membuat saya kecewa. Sudah terbayang kegembiraan politik yang pasti akan terlewatkan. Ternyata, justru kali ini saya bertemu dengan orang-orang hebat yang tetap ingin melakukan sesuatu untuk negerinya meski terpisah jarak ribuan kilometer. Kelompok relawan ini antara lain terdiri dari dari para WNI yang sudah dapat permanent residence di Australia (sebagian berprofesi dosen dan jurnalis), mahasiswa yang sedang tugas belajar, anggota LSM peraih beasiswa, dan suami/istri yang mendampingi pasangannya menempuh studi.

Begitu menginjakkan kaki di Melbourne, saya langsung bergabung dengan mereka. Mulai dari aksi damai gelar dukungan, orasi di tengah rintik hujan, baca puisi, sampai nyanyi lagu-lagu kebangsaan sambil kedinginan karena suhu di bawah lima derajat celcius. Saya melihat sendiri bagaimana para relawan ini tidak dibayar, malah keluar uang buat cetak kaus, pin, dan stiker. Salah seorang di antara mereka, Windu Kuntoro, sampai memodifikasi plat mobil pribadinya menjadi seperti ini:


Tapi kenapa pas merem, Pak..

Berada di tengah kawan-kawan relawan membuat saya jadi lebih bersemangat. Rasanya senang bisa menyumbangkan sesuatu untuk mengawal kegembiraan politik meski jauh dari Indonesia. Maka itu, ketika ada tawaran menjadi saksi penghitungan suara untuk pihak calon presiden-calon wakil presiden nomor urut dua, saya langsung menyanggupi.

(Ada artikel bagus di The Guardian oleh jurnalis-dosen Tito Ambyo tentang partisipasi warga yang luar biasa di pilpres kali ini, silakan simak di sini ya.)

Jadilah hari Rabu (9/7) itu saya nongkrong di Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di 72 Queens Road. Setelah berbuka puasa dengan roti lapis dan kopi tubruk juga tak lupa selfie para saksi langsung ngepos di TPS masing-masing. Oh ya, untuk pilpres kali ini disediakan 15 TPS dan saya kebagian TPS 07, pas banget untuk Presiden Indonesia ke-7 :)


Penampakan TPS sebelum kami acak-acak

Jam 19 teng, kotak-kotak suara mulai dibawa masuk dan diletakkan di masing-masing TPS. Para petugas kemudian membuka kotak suara di hadapan para saksi. Setiap kotak suara dikunci dengan gembok yang dilapis erat dengan stiker lambang KPU.

Masih segelan ya Kak

Kelar dibongkar, surat suara dihitung satu per satu. Jumlahnya harus sama persis dengan berita acara pada saat pencoblosan 5 Juli lalu. Di sinilah muncul kebingungan. Berdasarkan berita acara, di TPS 07 seharusnya ada 418 surat suara, tapi penghitungan awal secara manual menghasilkan 416 suara. Nah lho, yang dua lagi ke mana dong? Saya dan saksi capres-cawapres nomor urut satu sempat resah dan gelisah. Kami sampai merunduk-runduk ke lantai dan sudut meja, siapa tahu melayang dan jatuh ke sana.


Bahkan Kopiko ikut bantu cari
(Ternyata dua surat suara itu nyelip, Saudara-saudara. Baru ketahuan ketika pencatatan hasil suara. Syukurlah.)

Pencatatan suara berlangsung lancar. Saya dan saksi capres-cawapres nomor urut satu tidak terlibat ketegangan, malah ngobrol santai ngomongin Piala Dunia dan tetap foto-foto. Tiap sebentar beliau melihat catatan saya dan bertanya, "Sudah berapa suara?" Di kanan dan kiri kami terdengar teriakan-teriakan khas, yang sesekali mengundang tawa.

"Prabowo, sah!"
"Jokowi, sahh!"
"Jusuf Kalla, juga sahh!" --> rupanya ada yang nyoblos wajah JK, hehe..

Selama proses penghitungan, baru saya sadari pentingnya saksi, terutama dalam mencocokkan antara turus yang dibuat petugas dengan turus di buku catatan kita. Bukan apa-apa-- petugas juga manusia, kadang-kadang ada human error yang sangat bisa dimaklumi tapi harus dikoreksi. Misalnya, turus tak sesuai kolom, surat suara terlewati, salah hitung, dan seterusnya.

Saksi juga bisa berargumentasi ketika ada kasus khusus. Di TPS saya, ada yang mencoblos seperti ini:

Beda tipis antara nyoblos dengan nyobek

Merujuk pada aturan bahwa surat suara hanya dikatakan tidak sah antara lain jika tercoblos di kedua kotak, atau tercoblos di luar kotak, saya berpendapat surat suara itu sah untuk pasangan capres-cawapres nomor urut dua. Sayangnya, bagian bawah surat suara itu sobek. Saya pun jadi mahfum bahwa surat suara ini memang tidak dimaksudkan untuk sah.

Dari lima surat suara yang tidak sah di TPS saya, semuanya hampir sama: dibolongi di bagian wajah capres-cawapres nomor urut dua. Dan ketika saya bilang "dibolongi" maksudnya benar-benar bolong. Ada juga yang nyoblosnya udah kayak mau bikin steak: surat suara ditusuk-tusuk dengan penuh semangat sampai akhirnya sobek dan dianggap tidak sah.

Adapun suara abstain terbaik di TPS 07 dipegang oleh pemilih yang satu ini:


Kelamaan tinggal di luar negeri jadi maki-makinya bahasa Enggres

Kira-kira pukul 21 waktu setempat, proses penghitungan selesai. Di TPS 07, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa memperoleh 46 suara, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla 367 suara, dan suara tidak sah 5 suara. Total 418 suara. Para saksi langsung memotret papan rekapitulasi untuk dokumentasi.


Penampakan hasil akhir TPS 07

Hasil resmi pilpres 2014 di Melbourne: Prabowo-Hatta 744 suara, Jokowo-JK 5.489 suara, tidak sah 33 suara. Total 6.233 suara. Dengan kata lain, Prabowo-Hatta meraih 11,93% suara dan Jokowi-JK 88,06%.

Saat postingan ini ditulis, kita semua sedang harap-harap cemas menunggu pengumuman resmi dari KPU, 22 Juli nanti. Informasi penukangan suara yang berseliweran di akar rumput melalui media sosial dan broadcast message kadang bikin hati miris dan takut- ya, bagaimana jika suara yang sudah kita berikan dengan ikhlas ini ternyata tidak dihitung dengan benar? Bagaimana jika ada pihak-pihak yang cukup tega mempermainkan amanah rakyat? Bukankah, mengutip film Gangs of New York: tidak penting siapa yang memilih, melainkan siapa yang menghitung?

Barangkali tak ada lagi yang bisa kita lakukan sekarang kecuali berdoa, sebanyak-banyaknya.

No comments:

Post a Comment