Pages

Princes Park

Ada dua taman yang selama ini berkesan buat saya, yaitu Taman Suropati di Jakarta dan Taman Balekambang di Surakarta. Yang pertama berkat keberadaan abang-abang tahu gejrot dan pedagang Starling alias Starbucks Keliling (itu, lho, mas-mas bersepeda dengan termos air panas dan serangkaian renceng kopi instan) yang tak pernah gagal membuat sore di Jakarta jadi lebih menyenangkan.

Sedangkan Taman Balekambang selalu menjadi tujuan wajib apabila saya ikut suami pulang kampung. Berbekal jus stroberi yang dijual dekat Stadion Manahan atau setermos kopi dan gorengan hangat, kami biasanya duduk di bangku panjang depan kolam sambil menikmati semilir angin dari sela-sela rimbun pepohonan. Hmm..

Sekarang daftar taman asyik dalam hidup saya bertambah satu. Di depan apartemen sewaan kami di Melbourne, ada taman yang namanya Princes Park (dari sini pula jalan tempat kami tinggal memperoleh namanya, yaitu Park Street). Terbiasa dengan gedung-gedung tinggi dan asap metro mini membuat saya langsung loncat-loncat norak nemu taman ini.

Princes Park terbentang di area yang sangat luas, dengan rerumputan yang terpangkas rapi, kolam, permainan anak-anak di beberapa sudut, peranti senam, jogging track, bike track, bangku-bangku dan pepohonan yang sekaligus jadi habitat burung-burung. Suatu kali, ketika sedang ada sinar matahari (hal yang langka dan paling dinanti saat musim dingin seperti ini) saya bergegas ke taman dan berbaring beralaskan rerumputan, memejamkan mata sambil mendengar ramai cuitan para burung; salah satu momen paling menyenangkan dalam hidup :)


Damai..
Saat sinar matahari nongol sedikit itu pula, orang-orang Melbourne berkeliling di Princes Park, entah jogging atau sekadar supaya anjing mereka bisa lari-larian. Oh ya, saya amati mereka itu penghobi lari kelas wahid. Kadang-kadang di tengah  hujan deras pun mereka tetap lari atau naik sepeda. Jarang saya lihat ada warga Melbourne bertubuh overweight.


To jog or not to jog

Para anjing berlarian girang

Surga para bocah


Taman ini tempat terbaik untuk duduk-duduk baca buku sambil menikmati sinar matahari yang menghangatkan wajah. Terbayang seperti apa ramainya saat musim panas. Semoga nanti Indonesia juga bisa punya banyak taman kece seperti ini...

4 comments:

  1. Semoga.

    Tapi kita tahu bahwa taman, lingkungan, alam adalah cerminan manusianya. Tidak mungkin tercipta sebuah taman yang indah apalagi terbuka tanpa ada kemampuan manuasianya untuk membangun dan MERAWAT setelahnya. Contoh Taman Kota I& II di BSD, awalnya bagus tetapi semakin tidak terawat. Sangat mengherankan orang datang kesana untuk merokok-merokok.

    Saya ingat juga di Monas pernah dilepas burung merpati agar menyerupai taman-taman di kota besar seperti Paris, tapi apa daya burung-burung tersebut habis dimakan kucing... ehh manusia. Rencananya agar orang yang berkunjung kesana bisa kasih makan itu burung sambil rekreasi tp yang terjadi sebaliknya, burung-burung tersebut yang dimakan.

    Jadi memang kita perlu sekali revolusi mental.

    Anon1

    ReplyDelete
  2. @Anon1: Setuju. Apalah artinya pembangunan besar-besaran kalau mental kita masih buruk. Jadi ingat waktu beberapa lalu main ke Ternate, duduk-duduk di pinggir pantai sambil makan pisang goreng di warung. Saya syok berat ketika para pedagang di sana membuang sampah sisa pelanggan mereka KE LAUT. Tenang-tenang saja membuang botol air mineral, plastik camilan, batok kelapa, dst. Ironisnya saya pergi ke sana bersama seorang pegawai pemerintah daerah dan ketika saya minta dia untuk menegur, yang bersangkutan hanya mengangkat bahu sambil berkata, "Di sini sudah biasa begitu, pedagang susah diberitahu."

    :(

    ReplyDelete
  3. Bahkan penduduk kota metropolitan Jakarta yang so called middle class educated herd ini pun tidak kurang sadisnya. Coba lihat di gerbang tol, dari sekian mobil yang bayar tol berapa banyak yang buang karcis tol keluar jendela?
    Aku punya teman kantor yang jadi tebengan saat pulang kantor, selalu melempar karcis tol begitu terima. Aku pun tak sanggup menegur, karena takutku seharusnya kita sudah cukup dewasa mengerti yang namanya buang sampah sembarang itu tidak boleh. Setiap melihat itu aku selalu merasa bersalah.

    Anon1

    ReplyDelete
  4. @Anon1: Apalagi kalau mereka sampai beralasan "udah ada yang nyapu" .. super miris ya. Saran saya tetap dikasihtahu saja temannya.

    ReplyDelete