Pages

Bukan Pasarmalam

"Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah bisa mencintai seorang manusia, dan orang itu pun mencintai kita..., mengapa kemudian kita harus bercerai-berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam." (Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam, Jakarta: Lentera Dipantara, 2007, hlm. 95)



Semalam kutamatkan buku ini untuk kesekian kali. Meski orang selalu menyebut Tetralogi Buru, selamanya karya Pram favoritku adalah Bukan Pasarmalam. Pada buku ini ia tampil beda. Realisme garis keras yang jadi gayanya, ia padukan dengan renungan-renungan tentang jiwa manusia dan eksistensi kita yang rapuh. Dan karena yang menulis itu Pram, jatuhnya menyentuh. Aku terpesona dan lekas terpengaruh.

Seperti paragraf di atas. Sehabis membacanya, aku merasa gamang karena ternyata hidup ini, o, betapa kejamnya. Kau lahir sendiri, mati juga sendiri, tapi dalam hidup kau "dipaksa" bertemu banyak orang. Dan karena Tuhan menganugerahi kau perasaan, maka kau menyayangi beberapa dari mereka: orangtuamu, saudaramu, pasangan hidupmu, anakmu, sahabatmu, gurumu... lalu kematian merenggut mereka. Satu per satu. Atau kematian merenggutmu dari hidup mereka. Apa bedanya? Kesedihan selamanya jadi kesedihan yang sulit tertanggungkan.

Apa, sih, maunya hidup ini? Alangkah senang kalau kita bisa hidup tanpa berperasaan. Pasti kita tidak perlu bersedih hati kalau ditinggal mati orang yang kita cintai. Dan orang yang mencintai kita pun tidak perlu susah kalau kita tinggalkan. Kita juga tidak perlu mengatur perasaan. "Bencilah sewajarnya dan cintai secukupnya," kata orang bijak. Tapi siapa yang bisa mencintai secukupnya? Cinta selalu bergelora, dan kalau masih bisa dikendalikan berarti bukan cinta namanya.

Sekarang coba dengar apa kata Eden Ahbez tentang cinta (yang kemudian dinyanyikan dengan sangat baik oleh Nat King Cole dalam Nature Boy): the greatest thing you'll ever learn is to love and be loved in return. Kalian yang pernah jatuh cinta pasti mengamini ini. Ketika kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati, dan orang itu balas mencintai kita dengan sepenuh hati pula, rasanya hidup ini sudah lengkap. Ada rasa hangat di dalam dada, dan pikiran jadi tenang. Semua kegelisahan tentang menjalani hidup jadi terasa tak berarti.

Kalau begitu, mana yang lebih baik? Hidup dengan berperasaan atau tidak berperasaan? Mungkin punya perasaan itu salah satu survival skill kita dalam menjalani hidup. Dan merasa kehilangan orang yang kita cintai adalah risiko eksistensi kita di muka bumi ini. Risiko kesadaran. Dan hidup memang bukan pasarmalam.

2 comments:

  1. Aku juga suka sekali kalimat pembukanya itu. Aku ingin dunia ini seperti pasar malam.

    Kalau harus memilih antara Tetralogi Pulau Buru dengan buku ini agak susah menurut saya karena jenis atau latarnya berbeda. Yang satu lebih ke pengalaman empirik dan politik yg ini lebih ke filosofi hidup. Aku tidak mau memilih dari antara keduanya.

    Seadainya suatu saat kamu menjadi Menteri Pendidikan saya mohon agar buku-buku Pram dijadikan sebagai buku teks bacaan wajib para siswa sekolah.

    Cheers,
    Anon1

    ReplyDelete
  2. Anon1: Dua novel Putu Wijaya yang kusukai adalah "Pabrik" dan "Telegram". Dalam "Pabrik", Putu sangat realis. Dalam "Telegram", lho, dia main-main betul dengan para tokoh dan alur. Misalnya saja, si protagonis ternyata pacaran dengan sosok yang ternyata cuma ada di imajinasinya *spoiler alert*

    Pram tidak bermain sejauh itu. Dia tetap setia pada gaya realis. Hanya, yang membuatku jatuh hati pada Bukan Pasarmalam, ia menyelipkan renungan-renungan 'filosofi hidup' (meminjam istilah Anda) yang sangat mengena. Kupikir, hanya ini karya Pram yang bermuatan demikian. Koreksi kalau aku salah.

    Kukira Pram sedang sangat sedih ketika menulis ini.

    Btw, buku wajib adikku waktu SMA adalah.. Laskar Penyanyi, eh, Pelangi :((

    ReplyDelete