Pages

Breakfast With Socrates



Judul: Breakfast With Socrates
Penulis: Robert Rowland Smith
Penerbit: Profile Books Ltd, London
Cetakan: Kedua, 2010
Jumlah halaman: xiv + 189


Aku mengenal Socrates sebagai filsuf yang selalu bertanya. Filsafat baginya adalah tindakan mencari tahu itu sendiri, meskipun curiosity itu nantinya menuntun dia menuju kematian (dengan cara menenggak racun). Tapi, buku ini bukan tentang sejarah hidup Socrates, pemikiran, ataupun metode filsafatnya. Buku ini semacam upaya ngobrol tentang kehidupan sehari-hari, yang ternyata tidak terlepas dari filsafat. Atau, lebih tepatnya, dijadikan titik masuk membicarakan filsafat. Nama 'Socrates' mungkin dipilih karena dianggap paling familiar, paling kuat branding-nya (kalau sebut nama dia pasti langsung kepikiran filsafat), atau mungkin karena dia guru Plato dan Aristoteles, dua filsuf Yunani paling beken.

Karena judulnya "kehidupan sehari-hari", bab demi bab dirancang seperti urutan kegiatan dari mulai bangun pagi, siap-siap, berkendara ke kantor, bekerja, makan malam, belanja, mandi, baca buku, nonton TV, masak, sampai tidur malam dan bermimpi. Awalnya, sih, aku agak skeptis dengan buku ini. Nggak pernah suka pada buku-buku "serius" yang sok dikemas "ringan". Pengalaman berkata, buku-buku macam itu jatuhnya malah pretensius dan tidak bisa dinikmati. Sebagai buku "bermuatan berat" dia gagal bikin pintar pembaca, sebagai hiburan juga tidak menyenangkan. Begitulah.

Tapi, buku ini beda. Aku jatuh cinta sejak halaman pertama. Bab satu, "Waking up" (tentu saja tentang bangun pagi) sangat informatif. Kita diajak bertamasya ke pemikiran Descartes sampai Kant, Hegel sampai sampai Marx. Yang paling kuingat dari bab ini: keadaan bangun pagi adalah aksi filosofis karena ini pertemuan langsung antara kesadaran dan eksistensi kita sebagai manusia.

".. when we wake up, we're not only returning to consciousness, we're also regaining the ability to prove it." (p. 6) Smith juga membicarakan bagaimana 'bangun' adalah konsep yang esensial untuk agama Kristen. Dari tiga tahap dalam hidup Yesus (kehidupan, penyaliban, kebangkitan kembali), tahap terakhir itu yang paling esensial. Yesus menjadi Kristus setelah ia dibangkitkan kembali.

Bab "Getting ready" tak kalah seru. Ketika kita bersiap-siap menuju kantor/kampus/sekolah, kita sesungguhnya seperti menuju medan perang. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Jangan-jangan di jalan kita kecelakaan. Sampai kampus ternyata kuliah dibatalkan. Di kantor disambut atasan dengan surat pemecatan. Keluar rumah adalah bertarung dengan ketidakpastian.

Toh, kita tetap bersiap-siap. Soalnya, secara alamiah kita ingin bisa mengatasi segala hal yang terjadi, meskipun kemungkinan yang terjadi itu mustahil tertebak. Lalu kita panik. Jadi control-freak. Nah, di sinilah sesungguhnya kita kehilangan nilai kita yang paling berharga sebagai manusia. Kalau hidup sudah diatur serapi-rapinya, buat apa Tuhan menciptakan kita (kalau kalian percaya) dengan satu skill bernama "kreativitas"?

".. up its sleeve the day hides surprises, and each time it pulls one out, you have to think on your feet: you'll be required to use some-in-the moment discretion, which will reveal a human, an adult, and a noble freedom on your part." (p. 17)

Makanya, jangan kaget kalau mengalami hal buruk, seperti tiba-tiba diputusin pacar atau tesis nggak kunjung ACC *uhuk*. Justru itu kesempatan untuk menjadi "a noble adult" dan menggunakan kreativitas, bekal terbaik yang pernah diberikan Tuhan pada kita. Pengakuan: sebagai control-freak, bab ini sangat membantuku lebih rileks dalam menjalani hidup. Ternyata tidak semua hal dalam hidup ini bisa kita kendalikan, dan memang tidak perlu, sebab justru dalam suasana tak terkendali itu, nilai kita sebagai manusia diuji.

"The more you prepare, the more you reduce your own likelihood of error, which is good; but the more you reduce your likelihood of error, the more you roll back your freedom, which is bad. The trick is to set the tension between the two forces at an optimum, like getting a good balance of bass and treble." (p. 17)

Kesimpulan: buku ini bagus karena membantu kita memberi makna pada hidup, yang dari hari ke hari berjalan cuma begitu-begitu saja.

1 comment:

  1. ka dina beli buku ini dmn?kok susah bgt dicari...ga dapet2

    ReplyDelete