Pages

Dompet Koin

Rabu (18/11) lalu, saya melintas Jalan Sudirman, tepatnya di depan Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, hendak menyeberang ke arah BRI lewat jembatan. Lagi asyik berjalan, tak sengaja saya bertatapan dengan seorang nenek. Umurnya kira-kira lewat 70 tahun, rambutnya putih keabu-abuan, mengenakan rok kain dan kaus sederhana, gigi depannya tinggal satu buah. Matanya sipit (belakangan saya tahu si Nenek memiliki darah Tionghoa) dan senyumnya ramah. Ia duduk di bangku alumunium dekat halte bus.

Di sebelah nenek itu ada tas plastik putih ukuran besar. Isinya rajutan tempat ponsel, dompet koin, dan kepala boneka warna-warni. Saya dekati dia.

"Berapaan, Nek?"
"Tempat ponsel 25ribu, dompet koin 20ribu, kepala boneka 5ribu. Ada ikat rambut juga."
Saya duduk di sebelahnya, memilih-milih barang. "Ini jahit sendiri?"
"Iya."
"Kok hebat, Nek? Saya aja yang masih muda enggak bisa jahit."
Si nenek ketawa. "Kan belajar. Lagian bukan hebat namanya, tapi sekadar biar bisa makan. Masak mau minta-minta. Itu juga belajarnya susah karena udah tua. Jahit, bongkar, jahit, bongkar, tapi lama-lama bisa."
"Nenek tinggal di mana?"
Ia menyebut nama sebuah gang yang belum pernah saya dengar.
"Di deket sini?"
"Iya itu di belakang kampus."
"Tinggal sendiri?"
"Iya."
"Anaknya ke mana?"
"Cuma satu, perempuan. Sudah mati."
"Sakit apa Nek?"
"Bukan sakit, tapi gila. Itu.. gara-gara kerusuhan '98. Kan rumah dijarah, toko juga dibakar, kita jadi enggak punya apa-apa lagi. Terus dia jadi gila, ngomong sendiri, mungkin enggak tahan. Lama-lama sakit terus mati."
"..."

Saya memilih dua tempat koin warna pink dan satu ikat rambut warna hitam. Si nenek menyebut harga, saya membayar, dan kami berpisah. Sebelum saya pergi, si nenek mengucapkan selamat jalan. Saya membalasnya dengan senyum paling manis yang saya punya.

4 comments:

  1. Hebat juga nenek ini. Anaknya aja ngga kuat, kok dia bisa kuat gitu lanjutin hidup ya?
    Salut.

    ReplyDelete
  2. Ya bang, aku sampai merinding waktu ngobrol sama dia. Tegar banget. Kalau lewat depan Univ. Atma dan ketemu dia, beli dagangannya ya :)

    ReplyDelete
  3. Barangkali yang membuatnya bertahan adalah kecintaan pada hidup.

    ReplyDelete