Pages

Kompas Minggu: Surat Terbuka Buat Jokowi

Pak Jokowi, biarlah orang kecil menikmati mobil murah karena nantinya kebijakan yang Bapak tolak ujung-ujungnya malah menjadi senjata lawan untuk menjatuhkan Bapak. Sepanjang Bapak yang saya yakin bisa maksimal mengatasi kemacetan, saya jamin ujung-ujungnya rakyat akan mengikuti kebijakan Bapak dengan naik transportasi massal.

Bapak tentu sudah melihat, betapa antusiasnya orang naik bus transjakarta meskipun masih belum nyaman. Jadi, Bapak tinggal memperbaiki manajemen kedatangan bus agar menjadi teratur, mengatasi halte yang panas ataupun jembatan penyeberangan ke halte yang gelap. Harus ada survei kepuasan pelanggan terhadap transjakarta yang pasti akan menghasilkan banyak masukan.

Saya jamin mobil murah itu tidak irit bahan bakar. Sebagai pengguna salah satu mobil yang diklaim irit, nyatanya bensin boros dalam kondisi macet di Jakarta maupun Bandung. Produsen mobil tidak pernah mengujinya di Ibu Kota saat panas dan macet. Kalau tes berlangsung dalam kondisi Jakarta, saya pastikan hasilnya mengejutkan.

Penentu kebijakan yang tidak pernah blusukan ke lapangan tidak tahu mobil murah akan menggunakan premium bersubsidi, karena tidak mungkin orang membeli mobil murah pakai bahan bakar yang mahal.

Lihat saja perilaku orang kaya, mereka membeli mobil mahal, tetapi sebagian besar menggunakan bensin premium bersubsidi. Mobil pelat nomor merah sengaja pelatnya agak sedikit dihitamkan atau sama sekali diganti hitam untuk bisa membeli premium bersubsidi.

Orang di daerah demi membeli mobil murah akan ramai-ramai menebang pohon dan arahnya jelas: hutan semakin gundul dan pemanasan global makin luas. Akibatnya, pola musim berubah dan topan makin sering muncul di Jepang, Amerika, dan Eropa.

Sudah jelas subsidi akan membengkak. Kandungan mobil yang tidak 100 persen lokal juga mengurangi cadangan devisa sehingga transaksi berjalan defisit dan akhirnya negara semakin bangkrut.

Jadi, Pak Jokowi, biarkan sajalah para pengambil keputusan itu menanggung sendiri dampaknya.

I NYOMAN ANDI ANDIKA
Kompleks AL Dewa Kembar, Jakarta

Seperti dimuat dalam Harian Kompas Minggu, 29 September 2013, halaman 23.

No comments:

Post a Comment