Pages

Jokowi

Disclaimer: tulisan ini tidak di-endorse oleh siapapun dan, baik penulis maupun blog ini, tidak terafiliasi dengan partai manapun.

Gubernur DKI Joko Widodo selalu punya tempat spesial di hati saya. Dari banyak narasumber yang pernah saya wawancarai, Jokowi adalah salah satu yang paling enak diajak bincang-bincang. Di Loji Gandrung, rumah dinasnya sebagai Walikota Surakarta saat itu, kami mengobrol hampir dua jam sambil foto-foto. Ketika artikel tersebut kemudian mendapat penghargaan, Jokowi bahkan menyempatkan diri menelepon untuk memberi selamat :)

Sesungguhnya yang paling berkesan dari wawancara hampir dua tahun silam itu adalah kesan mengenai pribadi Jokowi. Bukan, dia bukan tipe narsum polos yang enggak bisa mengontrol jawaban. Kebalikannya; Jokowi tahu persis seperti apa cara menghadapi wartawan. Menurut saya, Jokowi bisa jadi media darling bukan tanpa alasan. Jawabannya mempesona karena apa adanya, langsung, jujur, dan enggak muter-muter. Kalau salah, dia mengakui. Ketika saya tanya soal sampah menggunung di TPA Putri Cempo, misalnya, Jokowi tidak berkelit. Di lain pihak, dia juga bukan tipe narasumber narsis yang kesenengan kalau banyak diliput.

"Saya itu justru takut," kata Jokowi hari itu. "Saking banyaknya media yang mau wawancara dan liputan ke Solo, saya kuatir dikira mbayar mereka. Padahal sama sekali tidak."


Saya juga enggak dibayar, lho.

Setiap wartawan punya bullshit-detector dalam berhadapan dengan narasumber, tapi bersama Jokowi, detektor saya enggak nyala. Memang dia mem-PR-kan Surakarta dengan baik --kami ditunjukkan foto pelayanan pembuatan KTP, pemindahan PKL, dll-- tapi ketika bicara visi kota yang baik, transportasi massal, dan ekonomi rakyat, saya bisa merasakan Jokowi tulus.

Teman-teman pernah nggak sih, ketemu orang yang ngomong hal-hal idealis dengan kejujuran sedemikian rupa, sehingga kita jadi yakin kalau dia  enggak lagi nge-bullshit, melainkan memang berniat baik? Itulah yang saya rasakan pada pertemuan pertama kami. Sejak saat itu, saya sudah yakin Jokowi akan jadi orang besar.

Di tengah himpitan haters dan juga fanboys-fangirls, saya senang Jokowi sampai sekarang masih setia pada komitmennya tentang tata kota. Kekhawatiran dia soal mobil low cost green car (LCGC), misalnya, menggambarkan bahwa dia lebih pro penanggulangan kemacetan daripada pro industri. Hanya saja, Jokowi (dan Ahok) harus mengimbangi ketidaksetujuan pada LCGC dengan peningkatan kualitas dan kuantitas transportasi massal yang signifikan. Sejak dulu saya percaya, sebuah kota dikatakan layak ditinggali bila kualitas transportasi massal-nya baik, bukan ketika semua warganya bermobil.

Saat ini, mereka yang sinis bilang kalau sampai Jokowi nyapres, itu artinya dia benar-benar kutu loncat. Surakarta ditinggal, Jakarta ditinggal. Haters menyerang dengan segala cara, bahkan ada pihak yang komentar Jokowi enggak nasionalis hanya karena Megawati dulu menyetujui privatisasi Indosat. Well, semua orang boleh bilang apa saja, tapi saya sangat yakin bahwa ini momentum yang tepat untuk kita punya pemimpin yang amanah. Kalau tahun 2014 lewat, kita harus nunggu 10 tahun lagi (presiden terpilih pasti mau extend masa jabatan sampai dua periode) dan siapa yang bisa menjamin popularitas Jokowi masih moncer?

Terus Jakarta gimana? Kan, ada Ahok. Dan, ini berandai-andai saja ya, kalau Jokowi jadi presiden, kebijakan mengenai Jakarta akan lebih mudah diwujudkan karena koordinasi lebih baik.

Saya bukan, sekali lagi bukan, fangirl Jokowi. Saya rakyat kecil yang ingin punya pemimpin amanah dan sanggup kerja keras untuk rakyat. Dan harapan itu saya letakkan di pundak beliau.

6 comments:

  1. we are called 'fan' becouse selebrity are 'hot'

    Jokowi mana ada 'hot-hot'-nya. Jadi jangan kawatir Mbak Andin disebut Fan Jokowi, alesan tadi sudah jelas.

    hehehe...

    ReplyDelete
  2. Waduh, untung tampang Jokowi enggak kayak Ari Wibowo atau Roy Marten. Hahaha...

    ReplyDelete
  3. Mbak Andina,

    Saya nemu blog mbak Andina setelah saya browsing google untuk "Jokowi haters".

    dan saya langsung jatuh cinta dg gaya penulisan mbak Andina. *
    bull-shit detector* *jempol*

    setelah gajian saya mau ke toko buku cari novelnya. semoga masih kebagian.

    salam kenal,

    ReplyDelete
  4. Halo, Mbak Lala. Trims sudah mampir dan baca. Nanti cerita2 ya kalau sudah baca Semusim, dan Semusim Lagi :)

    ReplyDelete
  5. Mbolak-Mbalik isi blog ini. Asyik, bener-bener asyik. Seperti makan kerupuk yang renyah, tak terasa dari tengah malam nyampe adan subuh.

    Kayanya wajah Teh Andina sangat akrab dimemoar saya. Bentar, dimana ya saya pernah ngeliat... Think. Mungkin di TV kali ya.

    Sejenak komen ini mampir untuk memperkenalkan diri, saya Irpan Ilmi. Salam kenal, semoga bisa membangun jaringan.

    Paling suka sama artis yang ngeblog, dengan alasan, dia masih meluangkan banyak waktu, pengalaman, dan pengetahuan untuk dunia, selain membuat gosip. Hehehehe.

    Ok, saya cari dulu tulisan teteh yang lainnya. Tambah menginspirasi saya untuk menulis.

    #Terus berkarya, terus menginspirasi.

    ReplyDelete
  6. Halo mas Irpan Ilmi, salam kenal dan selamat datang di blog ini :) enjoy!

    ReplyDelete