Pages

Mari menulis cerita: tips dari acara #GatheringGPU


Sabtu (6/4) lalu, saya diajak Gramedia untuk ikut meramaikan acara gathering alias kumpul-kumpul pengarang dan pembaca fiksi GPU. Bersama penulis-penulis kece macam Agustinus Wibowo, Lexie Xu, Asty Aemilia, dan Okky Madasari, saya berbagi pengalaman tentang menulis. Dipandu oleh MC ngocol bin bahenol, Boim leBon, kami menjawab pertanyaan adik-adik (mayoritas yang dateng abege unyu) seputar penulisan novel, cerpen, dan cerita perjalanan (kalau yang ini mah bagiannya mas Agus).



Mereka tidak tahu sedang dikibuli oleh gadis ini.


Coba tebak? Saya sangat excited dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul! Tadinya saya pikir yang bakal ditanyain itu standar-standar aja, tapi ternyata para peserta acara gathering GPU bisa menanyakan hal-hal yang seru. Saya sebagai pembicara juga jadi enggak sabar mau jawab, sampai kadang-kadang rasanya pingin nyambar mic dari penulis lain. Ah, tau gitu bawa mic sendiri dari rumah. :-D


Berikut saya rangkumkan beberapa poin dari hasil diskusinya. Semoga bisa berguna bagi yang nggak sempat hadir. Juga buat yang hadir tapi enggak sempat bikin catatan.

Supaya novel bisa selesai..
1. Bikin outline. Ini penting banget. Banyak penulis kawakan yang berpendapat, dalam menulis itu enggak perlu outline. Tulis saja, nanti akan ketemu sendiri jalan ceritanya. Saya termasuk tipe penulis yang selalu bikin outline. Memang, jalan cerita pasti akan berubah. Tapi, dengan punya outline, kita bisa lihat apakah cerita kita bulat, utuh, logis, atau tidak. Outline juga akan memandu kita dalam eksplorasi tiap bab cerita.

2. Jangan takut salah. Jangan takut jelek, jangan takut enggak ada yang suka, jangan takut enggak ada yang mau nerbitin, dan takut-takut yang lain. Musuh utama dalam menulis cerita adalah rasa takut. Dalam fiksi, kita mestinya bebas bereksplorasi. Lagipula, kita menulis karena memang suka, kan?

3. Tekad. Ini klise tapi benar. Beberapa peserta ngeluh enggak sempet nulis karena sibuk kuliah. FYI saya menyelesaikan novel Semusim, dan Semusim Lagi sambil kerja jadi wartawan DAN kuliah pasca DAN menjadi istri. *lho* Saya biasanya nulis di sela-sela nunggu narasumber, habis liputan, di antara deadline kantor, jam pergantian kelas, .. di mana saja dan kapan saja ada waktu. Guru dan sahabat saya Seno Gumira Ajidarma adalah wartawan, dosen, fotografer, kolumnis, esais, novelis, cerpenis. See? Sebaiknya kita enggak membayangkan jadi penulis itu seperti seniman yang hidup santai ala bohemian. Menulis adalah kerja keras.

Supaya bisa menghindari klise..
Terus terang saya sebel sama cerita-cerita yang diawali dengan 'matahari terbit' dan ditutup dengan 'bulan muncul malu-malu di sudut langit'. Ada apa sih dengan awal cerita dan pemandangan alam? Apakah kita akan  masuk penjara kalau tidak mengawali cerita dengan matahari dan menutupnya dengan bulan?

Ada pertanyaan yang bagus sekali dari Dodi, salah seorang penulis yang antologinya Waktu Pesta saya kasih endorsement: jika tak ada lagi yang baru di dunia ini, bagaimana dengan orisinalitas? Memang, kata orang bule, there is nothing new under the sun. Saya percaya itu. Jadi, yang tersisa bagi kita para penulis adalah kebaruan dalam mengungkapkan hal-hal yang sudah 'basi' itu. Misalnya, kisah cinta. Ada berapa banyak pengarang yang menuliskan kisah cinta? Kenapa tetap ada yang mau baca? Pasti karena gaya penceritaannya lain. Atau twist-nya baru. Misalnya, Mbak Asty kasih contoh, kisah cinta yang diceritakan dari sudut pandang kucing peliharaan. Seru dan baru.

Jadi main-mainlah dengan cerita kita. Buka dan tutup cerita dengan hal-hal yang belum pernah dicoba: resep masakan, statistik, undang-undang, komposisi bahan di makanan sachet, mars PKK, apa saja yang menurut kita unik, selama nyambung dengan cerita. Kita juga bisa main-main dengan sudut pandang. Tulis ulang cerita dongeng putri-dan-pangeran dari sudut pandang raksasa jahat, misalnya. Jika fiksi menganugerahi kita dengan berbagai kemungkinan, kenapa masih bertahan dengan yang standar?

Supaya bisa bernapas panjang..
Berkali-kali saya mengakui diri sebagai penulis bernapas pendek. Saya selalu bikin cerita pendek, dan kalaupun menulis novel, tidak pernah selesai. Setelah berobat ke Klinik Tong Fang.. eh, salah, setelah mempelajari triknya, akhirnya saya bisa menyelesaikan novel solo perdana.

Terus apa dong triknya?

Pertama, outline. Sudah dibahas di atas ya. Kedua, selalu berhenti ketika kita masih tahu apa yang akan kita tulis besok. Ini tips dari Hemingway. Jangan nulis sampai kita kehabisan bahan, terengah-engah, dan lemas tak berdaya. Misalnya kita sedang nulis bab 3. Terus kita sudah kepikir apa yang mau kita tulis di bab 4. Berhenti. Stop. Matikan komputer. Jalan-jalan. Berenang. Pacaran. Makan enak. Tidur. Apa aja. Besok, saat mulai lagi, kita akan mengawali dengan rasa excited karena sudah tahu apa yang akan kita tulis. Kalau kita hajar terus sampai sumur ide kita kering, kita akan mengalami fase stuck karena enggak tahu lagi apa yang mau ditulis.

Terakhir, berkomitmenlah dengan draf naskah novel. Jangan ditinggal kelamaan. Jangan dicuekin. Draf novel itu sama saja seperti skripsi atau tesis, semakin lama kita tinggalkan semakin sulit kita selesaikan. Saya pernah meninggalkan naskah novel dalam waktu lumayan lama, dan saat mulai lagi, rasanya kayak berhadapan sama benda asing. Harus kenalan lagi, dan itu makan waktu. Ada saatnya nanti kita akan benci setengah mati karena naskah kita enggak kelar-kelar. Jangan tergoda untuk meninggalkannya sekalian. Kalau kita cinta dan setia sama naskah kita, dia juga akan balik mencintai kita.

nb: Semusim, dan Semusim Lagi akan mulai edar di toko buku tanggal 22 April nih. Nanti pada baca yaa :-)

20 comments:

  1. Bikin tatto *Fans berat andin*

    ReplyDelete
  2. Mbak Andina, makasih banyak ya formulanya, aku sedang berjuang menyelesaikan novelku ni, haha. Selama ini juga merasa bahwa hanya kuat nulis cerpen tapi setelah berpuluh-puluh draf coba-coba dan selalu tumbang pada bab awal, kali ini sudah menemukan "nafas panjang itu". Eh, aku baru cek info "Semusim, dan Semusim Lagi" di laman gramedia Mbak, gak sadar judul "Semusim, dan Semusim Lagi" itu dari sajak Sitor. Aku suka sajak beliau meski memang belum sebanyak menyukai GM, hehe. Ternyata benar ya, Mbak inspirasi itu datang dari mana saja, cuma terkadang banyak yang tidak bisa menangkapnya, termasuk aku, barangkali. :D

    ReplyDelete
  3. kita harus jumpa lagi, di acara yg lebih bocooor ...!

    ReplyDelete
  4. Makasih udah nge-share rangkuman GathGPU, Kak. :D *catat poin-poin pentingnya*

    ReplyDelete
  5. @Wendy Wah senangnya, ini novel pertama kamu? Temanya apa? Iya itu dari sajak Sitor. Aku suka cari-cari puisi lama, dan enggak sengaja baca Surat Kertas Hijau. Kalimat "semusim dan semusim lagi" nempel di kepala dan jadilah novel ini :)

    ReplyDelete
  6. @boimlebonproduction Bochyor, bochyor! :))

    ReplyDelete
  7. @Ayu sama-sama, semoga berguna ya!

    ReplyDelete
  8. Thanks untuk tips nulis kemarin yang sudah disarikan di blog ini, Andin :)
    Suka dengan cara kamu merangkai kata di postingan ini dan sebelumnya
    Will buy your book soon after it hit the book store
    :)

    ReplyDelete
  9. Aku lagi coba nulis tentang 1998, Mbak Andina. Memang sebuah tema yg terlalu berani, dalam artian, tema yg sudah banyak sekali ditulis orang. Ditambah aku lahir tahun 1994, baru umur empat tahun saat kejadian itu, haha. Tapi aku pikir dari banyak yang ditulis itu, masih ada beberapa hal yg terlewat, yg harus kembali disuarakan—dilirihkan. Aku menulisnya hanya dengan ambisi, bisa nulis panjang dan ikut bergerak "melawan lupa" dengan menuliskan orang-orang yang sempat dibungkam zaman. Meski ada kemungkinan mereka yg kutulis ini tidak benar-benar ada, haha. Oya, doakan aku bisa benar-benar menyelesaikannya ya, Mbak. Amiin. :D

    Aku paling suka Sitor yg "Dara" Mbak. Si anak hilang ini memang cerdas dan menghanyutkan.:)

    ReplyDelete
  10. @Mbak Rina: Sama-sama ya Mbak. Semoga nanti suka bacanya :-)

    ReplyDelete
  11. @Wendy: Kata Fitzgerald, sebaiknya kita menulis ketika punya sesuatu untuk disampaikan. ".. bisa nulis panjang dan ikut bergerak 'melawan lupa' dengan menuliskan orang-orang yang sempat dibungkam zaman" adalah motif yang sangat baik utk memulai sebuah karya. Aku yakin bakal keren. Semoga cepat selesai ya :)

    ReplyDelete
  12. halo mb andin salam kenal...:). Saya suka membaca setiap ulasan dan tulisannya mb, keren dan inspiratif! :D

    ReplyDelete
  13. @Selly: Hai Selly, terima kasih ya sudah mampir. Terima kasih juga sudah baca. Semoga bermanfaat :)

    ReplyDelete
  14. Bermanfaat banget mb :)
    Btw mau tanya mb khan katanya kalau kita hajar terus nulis, kita akan mengalami fase stuck karena enggak tahu lagi apa yang mau ditulis, nah tapi saya pikir kebalikannya, kalau saya gak lanjut nulis, menunda gitu, besoknya saya lupa kata2nya mb hehe...bagaimana yah mb cara ngatasin itu? maaf mb sebelumnya merepotkan :D

    ReplyDelete
  15. @Selly: Yang aku maksud dengan "menunda" itu lebih ke alur, Sel. Misalnya kita lagi nulis di bab 4, tapi udah ada bayangan soal alur di bab 5. Mungkin kamu juga udah kepikiran beberapa kalimat keren, ya enggak apa2, tulis aja supaya enggak lupa. Tapi tetep, mulai nulislah keesokan harinya. Selain bermanfaat untuk mengistirahatkan "mesin" alias otak, juga berguna untuk menjaga rasa excited kita, karena setiap hari kita buka laptop dalam keadaan tahu mau nulis apa.

    Buatku, cara ini efektif untuk memperpanjang napas penulisan. Apalagi kalo lagi nulis panjang kayak novel. Tapi, setiap penulis punya cara masing-masing. Temukan yang paling pas buat kamu ya :)

    ReplyDelete
  16. oh gitu, iya sy ngerti skg mb..makasih banyak mb atas masukannya :),semoga kelak bisa ketemu mb langsung hehe...sukses terus buat mb :)

    ReplyDelete
  17. @Selly: Siip, sukses juga buat kamu ya!

    ReplyDelete