Pages

10 Hal Menyebalkan dari Tumbuh Dewasa - Versi Saya


So scared of getting older, I'm only good at being young. ~ John Mayer, "Stop This Train"

10 Hal Menyebalkan dari Tumbuh Dewasa
oleh: Andina Dwifatma


10. SPT
SPT adalah Surat Pemberitahuan, semacam formulir yang harus kita isi sebagai Wajib Pajak. Iya, itu predikat baru kita sekarang. Wajib Pajak. Keren ya. Kalau sudah bisa bayar pajak, kesannya kita udah sah jadi warga negara. Sudah bisa maki-maki pemerintah kalau mereka kerjanya enggak beres. Bisa protes sama infrastruktur yang jelek, dengan alasan "Kan gue udah bayar pajak!" Ciye. Tapi tunggu sampai formulirnya datang ke meja kita. Formulir itu sendiri ada beberapa buah: 1770, 1770S, 1770 SS, 1721-A1, 1721-A2, tergantung seberapa besar penghasilan kita dan apakah penghasilan itu datang dari satu atau lebih pemberi kerja. Belum lagi istilah-istilah teknis perpajakan lainnya. Ngok.

9. Tagihan
Apalagi buat yang sudah enggak tinggal sama orangtua. Jadi ceritanya kita baru terima gaji nih. Terus kita bikin daftar. Bayar kos/kontrakan? Checked. Bayar asuransi? Checked. Beli makan? Checked. Bayar uang sekolah? Checked. Belanja? Checked. Pulsa? Checked. Nabung? Yah, duitnya abis.

8. Lemak
Waktu masih SMA, kita olahraga minimal seminggu sekali. Pas kuliah, semester satu masih ada lah mata kuliah olahraga di beberapa kampus. Atau, sesekali kita main basket buat ngecengin gebetan. Pas udah kerja, mulai sibuk. Tapi gara-gara rajin baca majalah atau browse artikel kesehatan, kita jadi ngeh olahraga itu mahapenting. Oke, mulai bikin rencana. Seminggu lima kali lari pagi! Eh, kebanyakan. Tiga kali aja deh. Ya ampun, minggu ini sibuk banget. Satu kali aja deh, hari Minggu.

Eh Sabtunya nonton bola bareng di kafe. Pulangnya jam dua pagi. Selamat tinggal, Olahraga. Halo, Lemak.

7. Bangun pagi
Zaman masih sekolah, kita semua adalah manusia pagi. Apalagi pas udah kelas 3 SMA, dapat kelas pemantapan yang dimulai jam 06.15 WIB. Jam 5 udah rapi jali, makan roti sambil minum kopi. Begitu kuliah, pola hidup mulai terbalik: malam jadi siang, siang jadi malam. Biasanya skripsi menjadi kambing hitam. Nah, kalau sudah mulai kerja, biasanya kita terpaksa jadi manusia pagi lagi. Apalagi yang tinggal di ibukota dan biasa berangkat jam 4 atau 5 subuh biar enggak kena macet. Sampai rumah tengah malam. Besoknya bangun pagi lagi.

Ada sih yang dapat pekerjaan yang enggak menuntut masuk pagi (seperti saya sekarang), tapi itu pun akan mengundang tanya dari lingkungan: udah gede kok bangunnya siang? Ntar rezekinya dipatok ayam.

6. Form cuti
Begitu udah dewasa, liburan jadi hal yang sangat mewah. Iya, karena orang dewasa itu tugasnya mencari makan dan mengumpulkan uang. Bukan jalan-jalan dan senang-senang. Kalau mau liburan, harus isi form cuti dulu. Izin ke atasan: boleh libur enggak? Kalau enggak mau pakai form cuti, kita harus rela liburan pas musimnya. Bayangkan pergi ke daerah-daerah wisata berbarengan dengan setengah penduduk Indonesia. Padet. Macet. Ribet.

5. Target
Kapan kawin? Kapan punya anak? Kapan cicil rumah sendiri? Kapan beli mobil? Kapan umroh? Kapan naik haji? Kapan si kecil dikasih adek lagi?

4. Acara keluarga
Kalau udah gede, enggak boleh lagi absen acara keluarga. Sekarang kita udah bukan ABG yang harus diseret-seret mama baru nongol di acara keluarga. Terus sikap kita juga harus lebih jaim. Harus lebih serius. Harus nyambung kalau diajak ngobrol soal kenaikan harga BBM, calon presiden 2014, sampai Eyang Subur. Dan kita enggak boleh lagi malas jawab pertanyaan-pertanyaan no. 5 itu (biasanya datang dari para oom dan tante).

3. Pragmatisme
Kita udah mulai lupa kapan terakhir kali nonton film bagus, baca buku bagus, makan makanan enak, ibadah dengan tenang--pokoknya berbagai hal spiritual yang seharusnya dinikmati dengan penuh kesan. Hidup kita sudah terlalu praktis. Yang kita pikirin selalu bersifat material: kerjaan kantor, tugas kuliah, meeting, dst. Kita juga jadi suka makanan instan, minuman instan, dan apa-apa yang instan. Waktu 24 jam jadi terasa kurang terus. Dan tiap minggu, tahu-tahu sudah hari Jumat..

2. Kegembiraan - ke mana perginya?
Bagian paling menyenangkan dari menjadi anak kecil adalah antusiasme. Setiap hari selalu ada yang baru. Walaupun itu berbahaya (nyodorin tangan ke singa, misalnya) kita tetap excited karena belum pernah kita lakukan sebelumnya. Pertama sekolah, senang. Pertama jadi mahasiswa, senang. Pertama masuk kerja, senang. Lalu banyak hal terjadi. Politik kantor. Kegagalan pribadi. Orang-orang yang kita kenal, mendadak terasa tak akrab lagi. Patah hati berkali-kali. Kita pun tidak sama lagi.

Kadang, begitu ada kesempatan baru muncul, reaksi pertama kita adalah cemas. Takut. Ambil nggak ya? Kalau enggak cocok gimana? Kalau nanti gagal gimana? Rasa gembira ketutup sama kebanyakan pertimbangan. Cih. Siapa suruh jadi dewasa.

1. Tanggung jawab
Kedewasaan identik dengan tanggung jawab. Orang dewasa enggak boleh berpakaian seenaknya, berperilaku seenaknya, dan ngomong seenaknya. Orang dewasa memikirkan orang lain dulu, baru dirinya sendiri. Orang dewasa harus siap berkorban. Orang dewasa enggak boleh ngambek ketika ngerasa bebannya terlalu banyak. Di mana-mana ada tanggung jawab. Siap atau enggak siap. Huft.

Inspirasi dari artikel ini.

6 comments:

  1. Tagihan, Lemak dan Form Cuti itu yang paling nyebeeeliiin andin.. kl inget 3 itu lgs senewen.. mau balik jaman SMP ajaaaah :)))

    ReplyDelete
  2. so true.. apalagi nomer 3, bener2 gatau kemana perginya.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  4. Dan sepertinya hal itu masih akan berlanjut hingga periode thirty-something :((

    ReplyDelete