Pages

What I Talk About When I Talk About Marriage


Jadi itu judulnya aja yang sok Enggres biar keren.
Iseng-iseng setelah beresin kerjaan, saya mau nulis sedikit catatan soal pernikahan. Peringatan: tulisan ini adalah hasil karya seorang newbie, mengingat saya sendiri baru kurang lebih tiga bulan menikah. Ibarat karyawan, baru saja lulus probation alias masa percobaan.



Berhasil, berhasil, berhasil, horee!
Orang sering bilang menikah itu enaknya cuma 1%, 99% sisanya wueeenakkk banget. Lebay ah. Menikah itu bagi saya bukanlah soal seks gratis kapan saja, atau perayaan status sosial, atau biar ada yang ngurusin.
Menikah itu adalah ketika kamu memutuskan bahwa ada orang yang bisa kamu jadikan partner untuk bersama-sama menjalani kehidupan ini.
Bukan rahasia kalau keputusan saya menikah mengundang keheranan banyak pihak. Pasalnya (ciye pasalnya lho), saya selalu bilang bahwa menikah itu ribet dan melajang itu lebih simpel. Memang iya. Sampai sekarang pendapat saya masih sama.
Tapi, ketika kamu bertemu orang yang tepat, kamu malah akan sulit membayangkan menjalani sisa hidup kamu tanpa dia.
Setelah menikah memang jadi harus mikirin tempat tinggal sendiri, belanja sendiri, masak sendiri, dst. Tapi apa iya kalo enggak menikah terus kita enggak pingin punya tempat tinggal sendiri, dengan segala kerepotan-tapi-nyenengin itu? Kalau bicara soal psikologi ruang, punya tempat tinggal sendiri itu berarti kedaulatan. Dan saya enggak yakin ada orang yang ingin selamanya enggak berdaulat.
Nah, punya partner yang tepat bakal membuat segalanya 1000x lebih menyenangkan.
Partner yang tepat adalah orang yang tulus sayang sama kamu dan mau bikin hidup kamu lebih mudah. Partner yang tepat adalah orang yang setia sama kamu dan enggak menyisakan ruang di hatinya untuk orang lain (I learned this the hard way, believe me..) Partner yang tepat adalah orang yang bikin kamu berhenti nyari dan bilang dalam hati ala Farah Quinn, “this is it!”
Ih, unyu-unyu yah :’)
Tapi tugas kita (dan partner) enggak berhenti di hanya saling menemukan. Setelah itu, kata kuncinya cuma satu: kompromi. Pernikahan itu kompromi terus-menerus, yang bisa jadi sangat menyenangkan ketika kamu sungguh-sungguh mencintai partner kamu. Kamu akan terlatih untuk menekan ego pribadi kamu, memahami orang lain, dan hasilnya kamu akan jadi orang yang bisa berbagi. Menurut saya itu modal penting dalam kehidupan yang cuma sebentar ini.
Terus kapan dong partner yang tepat itu datang? Gih Google gih.. *ketawa kejam tapi bersahaja*

6 comments:

  1. Baru ketemu kamu
    Baru tingak-tinguk tentang kamu
    Baru menjajaki gimana kamu
    Baru baca surat kepada calon pacar
    .
    .
    Kok ketemu artikel ini
    ...patah hati... hiks!

    ReplyDelete
  2. Hehehe... dimaafken dgn segala senang hati. Ya udah aku cari buku Semusim ajah. Udah ada di Gramedia kan mestinya sekarang. Btw biar telat, selamat menempuh hidup baru ya. Semoga segala sesuatunya seperti yg kamu harapkan.

    ReplyDelete
  3. Yap! Sudah ada di Gramedia mulai 22 April lalu. Terima kasih untuk ucapannya ya...

    ReplyDelete
  4. Selamat atas pernikahannya. Smoga langgeng, dan dikarunai keluarga yang bahagia.

    ReplyDelete