Pages

Pilgub

Meskipun enggak megang KTP Jakarta, boleh kan mengomentari pemilihan gubernurnya?

Saya enggak berencana ngomentarin kinerja, program, atau afiliasi politik para calon gubernur (cagub) itu. Saya hanyalah rakyat jelata yang tidak punya akses pada kekuasaan, dan hanya mengenal para cagub dari koran dan tivi.


(Eh, kecuali Jokowi. Saya sempat ketemu beliau di rumah dinas Walikota Surakarta di Loji Gandrung, Solo, dan ngobrol lama. Tapi itu sudah lama. Beliau bisa jadi sudah berubah. Beliau bukan lagi Jokowi yang dulu. Beliau udah jadi orang yang beda. *drama*)


Yang menarik buat saya adalah bagaimana para cagub berkampanye, memperkenalkan dirinya pada rakyat. Juaranya masih tetap Fauzi Bowo alias Kumis alias Foke. Saya mengagumi manajer komunikasi kampanye dia. Sejak pilgub periode lalu, Foke sudah menyihir rakyat dengan slogan, 


"COBLOS KUMISNYA! COBLOS KUMISNYA! COBLOS KUMISNYA SEKARANG JUGA!"


Dan sekarang Foke menguasai televisi, radio, bahkan bioskop dengan lagu Fokelah Kalau Begitu. Saya jadi korbannya. Pergi nonton ke XXI malam-malam, berniat mulia mencerdaskan diri dengan nonton Lewat Djam Malam-nya Usmar Ismail, eh malah disuguhi orang-orang dengan kumis palsu joget-joget sambil memuji kinerja Foke. Ada Kak Rhoma segala. Ampun deh.


Memang, sebagian warga sudah sadar bahwa sepotong kumis ternyata tak sanggup membereskan Jakarta (ini kata teman saya, penyair dan cerpenis Zen Hae, lho). Pertanyaannya: warga yang mana?


Saya salut sekaligus kasihan lihat Faisal Basri yang dengan cerdas selalu mengutip data setiap bicara. Salut karena ada harapan bagi Jakarta untuk punya gubernur pintar. Kasihan karena, hey, apa mayoritas rakyat mengerti dan peduli pada data dan fakta yang dibeberkan Faisal? Jangan-jangan bagi mereka yang penting adalah jingle kampanye yang menempel di telinga,


"FOKELAH KALAU BEGITU! FOKELAH KALAU BEGITU! FOKELAH KALAU BEG BEG BEGITU!"


Manajer komunikasi kampanye Foke tampaknya paham benar, yang paling penting adalah bicara pada semua kalangan dengan bahasanya masing-masing. Dan enggak perlu materi yang cerdas. Rakyat enggak ngerti kok. Kasih saja lagu-lagu yang catchy. Biar nanti waktu nyoblos keinget terus.


Dan saya juga dibuat kagum oleh jajaran selebriti yang diendorse Foke untuk kampanyenya. Mandra, Sutiyoso, Bang Rhoma, okelah enggak heran. Tapi Prof. Arief Rachman Hakim? Band Pee Wee Gaskins? Kevin Vierra? Ya ampun.


Untuk kalangan menengah ke bawah, Foke sudah punya iklan mengharubiru yang pakai lagu insya allah-insya allah itu. Untuk kalangan perantau asli Jawa, ada iklan wayang pakai dalang dan ibu-ibu sinden. Untuk kalangan kelas menengah, ada iklan di XXI. Untuk kalangan pemilih pemula, ada logo I LOVE KUMIS yang modelnya kayak I LOVE NY tapi pakai logo le mustache itu.


Cerdas. Cerdas banget. Berapa ya dana kampanyenya? Ah enggak mau mikirin. Bobo lagi aja.

3 comments:

  1. "Berapa ya dana kampanyenya?" Gotcha! Pasti jadi gak bisa tidur.

    Anon1

    ReplyDelete
  2. Gak bisa tidur dan pingin bikin obat perontok kumis dalam semalam.

    ReplyDelete