Pages

Demi sejuta topan badai! Bulan Maret sudah hampir berakhir, dan saya tak menulis apa pun yang berarti di blog ini. Yah, daripada enggak ada sama sekali, mari kita meracau saja.

Satu-dua hari ini saya sedang merasa tertampar oleh George Harrison, yang dalam lagu Any Road berkata, "If you don't know where you're going, any road will take you there." Terjemahan bebasnya kurang lebih begini: ketika kita enggak punya tujuan, kita pasti berhasil mencapainya. Buat saya, kalimat itu brilian banget. Ironi yang menohok persis di ulu hati.


Btw, lagu ini ditulis ketika saya berumur dua tahun, lho.


Sebenarnya kalau mau jadi fatalis, boleh-boleh saja hidup ini enggak punya tujuan. Murni bertahan hidup. Makan, berak, bercinta. Bercinta, berak, makan. Terus pas sudah mati ya dimakan cacing. Tapi dasar manusia kebanyakan mikir. Enggak mau sekadar hidup. Maunya hidupnya berarti. Tapi yang namanya berarti itu kayak apa, sih?

Berarti dan berprestasi. Saya sekarang ada di umur yang masih pingin jadi seseorang. Masih pingin dapat nama. Masih pingin meraih ini, meraih itu. Pekerjaan masih cari yang bergengsi. Artinya, di perusahaan yang terbesar di industrinya. Masih pingin sekolah tinggi-tinggi. Masih pingin pernah pergi ke situ, pergi ke sini. Masih pingin dikagumi. Masih pingin selalu jadi yang terbaik.

Tapi sekarang pun saya sudah tahu, bahwa suatu saat nanti segala keinginan itu akan membuat saya capek sendiri. Pengakuan, apakah itu? Keberhasilan meraih segala keinginan?

Sekarang saya lagi jadi kayak pengembara yang sampai di ujung jalan dengan banyak cabang. Paling sedikit ada lima. Jalan mana yang harus diambil? Masing-masing punya konsekuensinya sendiri. Awalnya sih, semangat, menebak-nebak jalan mana yang akan membawa saya pada keberhasilan, kemasyhuran, kemenangan?


Hmmm...


Hitung punya hitung, ukur punya ukur, tawar punya tawar: semuanya sama saja. Lebih tepatnya, sama-sama membingungkan. Dan saya enggak tahu apa yang saya inginkan. Saya enggak tahu mau ke mana, dan harus ngapain. Saya kehilangan ukuran-ukuran keberhasilan, atau lebih tepatnya, ukuran-ukuran itu enggak lagi menarik buat saya. Rasanya kepingin jadi bunga teratai saja. Lebih sederhana hidupnya.

Yah, gitulah. Capek juga mengejar-ngejar arti hidup. Barangkali pada akhirnya semua prestasi, uang, dan aset, tidaklah bermakna. Yang penting adalah kenangan bahwa saya pernah ingin berbahagia.

8 comments:

  1. Dooh dalam banget. Enjoy ajalah Non, jangan kebayang omongan Hugo itu terus.

    Anon1

    ReplyDelete
  2. bagus tulisannya
    akhir2 ini aku juga merasa yg sama, pekerjaan dan ukuran keberhasilan di sisi lain seperti dua sisi mata uang, menyatu, tapi ga pernah saling ketemu
    selalu ada ambisi baru setelah yang satu terpenuhi

    semoga cepet sembuh :D
    aku ngopi quotes nya buat tumblr ku
    many thanx

    ReplyDelete
  3. Nadin, Selamat menjalani hidup apa adanya, bersahaja, dan penuh kebahagiaan. G'Luck, Nona Teratai.

    ReplyDelete
  4. @anon1 Tau aja nih saya terhantui Hugo Cabret melulu. Btw suka deh sama pengucapan namanya. Hyugo Kebrey. Asik.

    ReplyDelete
  5. @roni Sepertinya situasi ini akan terus berulang selama kita masih hidup dan punya keinginan.. Btw, Sherlock nya sudah ditonton? Bagus?

    ReplyDelete
  6. @Dini makasih ya, nanti datang loh tanggal 22. Undangan kutitipkan Angka. Kuumumkan di milis juga.

    ReplyDelete