Pages

Deep and meaningless

Saya punya teori bahwa setidaknya satu kali dalam masa kehidupannya, setiap orang pasti pernah jatuh cinta nggak kira-kira. Ciri-cirinya mudah saja: gelap mata. Banyak hal di dunia, tetapi cuma dia yang menarik dan penting buat kita.


Sebagaimana teori pada umumnya, gagasan di atas dirumuskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman. Apakah saya pernah jatuh cinta model begitu? Oh, tentu saja. Meski tingkat kekecean sedikit di atas rata-rata, saya tetaplah seonggok manusia. Dan itu terjadi DUA kali, Sodara-sodara. Pertama di tahun 2006, kedua di tahun 2009. Dua-duanya pria baik. Dua-duanya pria pintar. Dua-duanya menawarkan kisah cinta yang endingnya sudah ketebak: berantakan.


Tapi saya enggak akan nulis detailnya. Selain rasanya sepahit ngunyah Parasetamol, malem ini saya lebih tertarik ngomongin soal sensasi jatuh cinta "deep and meaningless" itu. FYI "deep and meaningless" itu lagunya band Rooster, sekumpulan abege Amerika ganteng bersuara apik dengan wajah tirus dan poni lurus, mengusung musik rock dengan taste jadul, yang sayangnya sekarang sudah bubar.




Kami mellow tapi kami ganteng.

"Deep and meaningless" ini lagu Rooster yang liriknya paling ngenes. Bercerita seputar pahitnya ditinggalin begitu saja padahal kitanya udah cinta mati terkiwir-kiwir. Coba saja klik videonya, dan rasakan sensasinya. Apalagi pas bagian "Well you hit where it hurts and you fool me so bad, but I'd do it again to relive what we had.." -- hmm, udah deh, itu kalimat paling sedih.

Adakah Pembaca pernah mengalami sensasi yang sama?

Dari sekian banyak orang di dunia ini, yang kita lihat cuma dia. Semua yang dia lakukan/katakan/rasakan jadi hal-hal paling penting yang selalu kita pikirin. Kalau dia marah/ngambek/diem kita panik, dan jadi sibuk bertanya-tanya, apa sih salah kita? Semua yang dia bilang rasanya selalu benar. Saat dia senang karena apa yang kita lakukan, wuuoooh, kitalah orang paling bahagia di dunia! Pokoknya semua yang dia lakukan is magic. Terus kita jadi nurut banget. Disuruh angkat telpon subuh-subuh, nurut. Disuruh dateng ke kafe ini padahal kita lagi ribet, nurut. Disuruh pulang cepet karena mau dijemput padahal kerjaan masih banyak, nurut.


"Aku terjun dari lantai 52 sesuai yang kamu minta, Sayang!"

Tapi seiring dengan bertambahnya umur dan pengalaman hidup, saya jadi tahu bahwa sensasi-sensasi kayak gitu bukanlah cinta. Kalo kamu gemetar dengar suaranya di telepon, perut kamu mules tiap kali kalian janjian mau ketemu, kamu berusaha keras untuk nggak salah ngomong biar dia nggak marah (kamu takut banget bikin kesalahan di depan dia), kamu mengorbankan segala-galanya termasuk waktu tidur kamu demi ngobrol sama dia, iya, itu bukan cinta.

Itu.. apa ya, namanya? Kekaguman berlebihan? Bisa jadi. Yang jelas itu bukan cinta. Dari apa yang dengan murah hati Dia berikan sekitar setahun ini, saya jadi tahu bahwa cinta itu sangat pengertian. Cinta itu memberi. Cinta itu sama sekali tidak egois. Cinta itu menjaga. Cinta itu beda sama takut. Ketika kita cinta sama seseorang, kita ingin jadi yang terbaik buat dia. Bukan karena kita cemas setengah mati dia bakal ninggalin kita, tapi karena memang kita ingin dia jadi lebih baik dengan kehadiran kita.

Sok-sok Mario Teguh dikit nggak papa, ya. Salam kuper.

Jadi, balik lagi ke teori saya: setiap orang pernah jatuh cinta gelap mata nggak kira-kira, setidaknya satu kali dalam kehidupannya. Setelah periode itu terlewati, baru deh kita punya wisdom; bisa merasakan kapan kita jatuh cinta dan kapan kita kagum doang tapi dibela-belain begitu rupa. Ada saatnya kita bisa melihat ke belakang dan ketawa lebar, "HUAHAHA! BEGO BANGET SAYA DULU MAU DIGITUIN!"

Lalu terus melangkah dan menemukan apa yang berharga.

2 comments:

  1. review yg menarik tetang cinta, aaakkk..
    jadi kangen rasanya jatuh cinta model begitu, kaki gemeter kalo ketemu, hati mencelos dan otak langsung membeku gak bisa mikir..ya, mungkin itu yg namanya kagum berlebihan, bukan cinta, i'm agree..

    ReplyDelete
  2. Dan cinta akan menunjukkan dirinya sendiri. Kagum berlebihan nggak akan cukup buat mempertahankan sesuatu untuk waktu yang lama. Bukan begitu? Hehe..

    ReplyDelete