Pages

Kemarin saya ngetwit begini: "Terkagum2 dengan banyaknya orang yang enteng berbagi kehidupan pribadi di Twitter. Dan berpikir berapa banyak masalah yang timbul karenanya."


Lalu disambung: "If you need to express yourself that deep, why don't you have a diary. Or a blog. Seriously."

Beneran deh. Makin lama Twitter makin memprihatinkan. Bukan sekali dua linimasa saya dibanjiri aneka curhatan yang menurut saya harusnya lebih pantas ditulis di buku harian. Sempat terpikir untuk menutup akun Twitter seperti Facebook dulu, tapi saya masih butuh jejaring sosial yang satu ini karena kecepatannya dalam hal mengakses informasi--termasuk dalam hal pekerjaan.


Jadi gimana dong? Ya enggak gimana-gimana. Saya nulis posting ini sekadar untuk meredakan kekesalan hati. Dan mencoba menjawab pertanyaan, kenapa orang bisa dengan enteng memposting kehidupan mereka di Twitter. Dari mulai patah hati, dimarahin ortu, kepala pusing, habis keramas, makan kacang hijau, atau sekadar ngantuk.



"Aduh, tweeps, aku kepleset nih di TransJakarta. Sakit banget deh!"

Memang, orang bisa berkelit dan bilang, "Hei, ini kan negara bebas! Boleh dong mau ngapain aja, selama enggak ganggu orang! Lagian Twitter, Twitter gue. Kalau situ enggak suka, ya tinggal unfollow. Gitu aja kok repot!"


Iya, iya. Dan dalam beberapa kasus, itulah yang saya lakukan. Terpaksa unfollow, meski itu teman sendiri (yang sebenarnya enggak enak kalau enggak di-follow balik). Tapi males juga kan kalau tiap kali linimasa kita dibanjiri dengan twit-twit macam: "Gue rapuh banget, enggak bisa sendirian. Hati gue sakit banget" atau "Hari ini lagi-lagi bokap mukulin gue dan nyokap" atau "Kenapa sih lo nggak mau balikin lagi sama gue? #nomention"

Belum lagi kalau yang bersangkutan suka jawabin pertanyaan dari akun-akun @SoalCinta atau @TwitSingleHappy dan sejenisnya. Kamu akan dipaksa mendengarnya menjawab pertanyaan macam "Apa yang akan kamu lakukan kalau mantan ngajak kamu balikan, tapi kamu udah punya gebetan lagi?" atau, "Apa sih yang paling sulit kamu lupakan dari mantan kamu?" -- dengan metode RT.

Saya enggak akan ngebahas soal boleh atau enggaknya hal itu dilakukan. Selama Menporninfo belum bikin peraturan soal konten Twitter yang wajib berunsur syariah (misalnya), maka semua orang bebas meng-twit apa saja yang mereka mau. Saya hanya tertarik menjawab pertanyaan "mengapa".

Mengapa orang butuh sekali didengarkan? Mengapa ketika seseorang sedih karena baru putus cinta, dia harus mengatakannya ke seluruh followers nya? Apa pentingnya hal itu untuk diketahui? Apa yang diharapkan; simpati, solusi, sekadar perhatian? Dan mengapa pula orang harus meng-update setiap hal kecil dalam kehidupannya: bangun pagi jam berapa, sarapan apa, pergi ke kampus naik apa, di kampus ketemu siapa, makan siang di mana, pakai baju apa, dst. Kecuali kamu Justin Bieber, orang enggak akan peduli kok kamu hari ini pakai kaus merah atau ijo.



Tapi celana dalem aku tetep ungu, dong.

Awal-awal menjadi pengguna Twitter, saya juga sempat meng-abuse jejaring sosial yang satu ini. Ngetwit nggak penting, curhat colongan, dan seterusnya. Tapi sekarang saya sadar, fungsi Twitter adalah untuk berbagi informasi. Makanya sekarang saya gunakan Twitter untuk link postingan di blog, kasih rekomendasi tautan artikel keren, berbagi informasi album musik atau film yang lagi bagus, sampai ke informasi seru-seruan macam twitpic gambar pantat truk, stiker angkot, atau grafiti jalanan lucu.

Yang kayak gitu saya rasa lebih berguna daripada memuntahkan seluruh perasaan dengan segamblang-gamblangnya. Apalagi sampai berantem dan saling memaki di Twitter. Menurut saya, itu lebih norak daripada Jambul Khatulistiwa Terowongan Casablanca Gorong-Gorong Sudirman-nya Syahrini. Ketika kita punya masalah dengan orang yang kita sayangi, temui dia dan ajak bicara baik-baik, jangan main #nomention sambil berharap dia kesentil. Itu kekanak-kanakan banget.

Ah, saya rindu masa di mana orang enggak perlu check-in (I'm at BlaBlaBla with 9 others..) ketika tiba di restoran, kafe, atau acara musik. Saya rindu masa di mana kita naksir orang dan masih bisa penasaran di mana dia sedang berada sekarang, lagi ngapain, sama siapa... Enggak kayak sekarang, di mana kita tinggal menguntit linimasa dia dan bisa tahu dia lagi pakai kolor warna apa, dia habis makan ayam terus dagingnya nyelip di gigi geraham kanan atas, dia digigit nyamuk terus bentol di lengan kiri.... Pokoknya hal-hal yang nyokapnya aja belum tentu tahu (kecuali kalau nyokapnya punya Twitter juga).

Saya juga rindu waktu di mana saat orang sedang sedih, patah hati, atau jatuh cinta, mereka akan membuat puisi, menulisi buku harian sambil dengerin lagu, senyum-senyum sendiri. Bukan menyampah di linimasa supaya dapat mention dari para followers yang rame-rame nanya "lagi naksir siapa sih?" Itu juga bukan karena para followers benar-benar peduli, tapi karena sama-sama kurang kerjaan. Enggak tahu lagi apa yang harus dilakukan selain Twitteran, Twitteran, dan Twitteran.

Makanya, kalau kamu merasakan hal yang sama, sebaiknya berhati-hatilah dengan orang yang kamu follow. Sebisa mungkin jangan mem-follow orang-orang yang twitsnya enggak bikin kamu tambah pintar atau terhibur. Soalnya, ketika nalar awam berkata jejaring sosial seperti Twitter merevolusi kehidupan kita karena sifatnya yang mempermudah dalam mengakses informasi, kita harus bertanya lagi:


Informasi yang seperti apa?

2 comments:

  1. Ya itu semua kan fenomena ndin, kalo pengamatan kamu ky gitu ya gpp.. mungkin sm kaya TV misalnya, aku jg udah sm sekali ga penah nonton TV, tapi ak masih mengamati fenomena yg ada di TV, observing things is always fun, dan produktif, setidaknya buat bahan nulis, hehe.. imo ya akan susah sih kl km hrs menarik diri dr semua hal yg kamu ga suka..dan masih ada fasilitas "mute" bukan? :)

    ReplyDelete
  2. Holden Caulfield berusaha menarik diri dari setiap hal yang tidak dia suka, tapi cuma bertahan beberapa hari :)

    Sampai sekarang enggak pernah tega pakai fasilitas mute. Kayaknya kok enggak fair banget. Kalo memang enggak mau denger dia ngomong apa, ya enggak usah difollow. Hehe..

    ReplyDelete