Pages

Kalau enggak bikin catatan akhir tahun, rasanya enggak oke. Sekali-kali ngikutin apa yang lagi hip, ah.


Ketika saya menuliskan catatan ini, waktu menunjukkan pukul 15.58 WIB di tanggal 31 Desember 2011. Artinya, yap, tahun 2011 tinggal delapan jam lagi. Delapan jam! Woohh! Cukup untuk tidur pulas  9gagging telponan nulis sesuatu, dong.

Catatan ini adalah catatan suka-suka menjelang akhir tahun. Kenapa disebut catatan suka-suka? Ya karena bikinnya tentu suka-suka penulisnya. Karena saya bukan tipe yang gemar membuat rencana, catatan ini enggak akan berisi daftar prestasi/pencapaian yang ingin saya raih tahun depan. Enggak seru, ya. Well, namanya aja suka-suka.

Oke, kita mulai dari kesan-kesan tentang tahun 2011. Enggak tahu apa kalian merasakan hal yang sama, tapi tahun 2011 buat saya berjalan dengan sangat amat super duper cepat sekali. Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Merem sebentar, tahu-tahu sudah pagi. Baru ngeluh Senin, tahu-tahu sudah Jumat lagi. Whuzzz!



Secepat aku!

Saking cepatnya tahun ini berjalan, saya mengalami beberapa momen epic saat menyadari segala sesuatu yang terjadi, sudah terjadi satu tahun lalu. Misalnya, soal ulangtahun si Papah. Suatu malam di bulan Desember, si Mamah heboh karena mau pesen seloyang kue. Saya yang tadinya santai, jadi terpana saat tahu kue tersebut dimaksudkan untuk perayaan bertambahnya umur.

"Hah? Kok Papah ulang tahun lagi sih?"
"Maksudnya?"
"Kan kemarin baru aja ulang tahun! Dikadoin CD The Beatles When I'm Sixty Four sesuai umur!"
"Yee, itu udah tahun lalu!"

Udah. Tahun. Lalu. Ya Allah.

Kata Einstein, waktu cepat berlalu ketika kamu sedang bersenang-senang. Apakah itu artinya tahun ini saya bersenang-senang? Hmm, iya juga sih. Banyak sekali berkah Tuhan. Dari nerbitin buku Cerita AzraLenka, sampai dapat Anugerah Adiwarta. Juga ketemu pacar yang baik dan ganteng. Dan mengurangi konsumsi you-know-what dengan sangat drastis. Dan menyelesaikan draf pertama novel pertama.

Tapi bukan berarti semua menyenangkan, lho. Tahun 2011 juga lumayan menguras emosi. Saya patah hati berat dua kali, dikatain heartless bitch oleh dua perempuan yang berbeda, kehilangan komunikasi dengan beberapa orang yang tadinya dekat di hati, dan belum berhasil mendapatkan beasiswa master. Well, sebenarnya sih baru nyoba satu kali. Ke Australia. Dan tadi pagi dapat surat begini:



Anda belum beruntung.

Oh, well, better luck next time. Awalnya sih rada kecewa, tapi lalu terpikir berkah demi berkah yang saya dapatkan di tahun ini. Bagaimana bisa mengeluh, ketika banyak sekali yang Tuhan berikan? Lagian, berhasil terus enggak seru lah. Sesekali harus 'kalah', supaya berusaha lebih keras >> mudah-mudahan enggak terdengar seperti Mario Teguh.

Sudah ada beberapa rencana di kepala terkait nyari beasiswa. Pertama, mau nyobain Fulbright-DIKTI ke Amerika. Terus pingin juga nyobain Erasmus Mundus Master's of Journalism. Tapi, untuk EM (dan juga Chevening), saya harus punya skor IELTS. Nah, boleh juga dipertimbangkan untuk ngambil tes IELTS tahun depan. Cuma mahalnya itu loh. Ada yang mau kasih donasi? Hehe.

Apa lagi, ya? Yah, di atas sudah dibilang bahwa saya enggak punya resolusi khusus. Tapi harapan boleh, kan? Saya berharap negara ini disayang sama Tuhan, dan dijauhkan dari pemimpin yang isi kepalanya sosialis, isi perutnya kapitalis, dan isi celananya liberalis. Semoga keadilan, dalam bentuknya yang paling mungkin, bisa menghampiri kita.

Selebihnya, biarkan dunia berjalan seperti biasa, sebab seperti yang seseorang pernah katakan pada saya: life is hard, and then we die.

2 comments:

  1. Halo kak Andina! Seneng deh kalau baca-baca blog kakak hehehe. Salam kenal ya kak, btw. Saya sudah lama tahu kakak sih, sejak kakak dulu sering nulis di Suara Merdeka. Tapi tak apalah salam kenal lagi ;)

    ReplyDelete
  2. Halo Faela! Selamat membaca ya, salam kenal juga :)

    ReplyDelete