Pages

Happythankyoumoreplease


Melihat sampul DVD seperti ini langsung terbayang tipikal film-film Woody Allen. Tapi...

.. film ini nggak sekeren You Will Meet a Tall Dark Stranger, meskipun ya tidak jelek sekali sampai membuat kita pingin melolong di tengah-tengah film bagaikan Jacob Black ditinggal kawin Bella Swan. Film ini menghadirkan sensasi semacam habis pergi kencan sama cowok manis yang bajunya keren, obrolannya nyambung, selera makannya bagus, sopan--tapi besok paginya kita lupa nama dia. Toni atau Tono, yah? Eh, atau Tino? Boro-boro ingat nomor teleponnya. Fun but forgettable. 

HappyThankYouMorePlease menawarkan menu pergulatan enam muda-mudi New York berusia 20-an, menuju kedewasaan. Perkenalkan: Sam Wexler (Josh Radnor), penulis in the making; Annie (Malin Akerman) yang menderita sindrom gangguan kekebalan tubuh sampai kepalanya botak; dan pasangan Mary Catherine (Zoe Kazan)-Charlie (Paulo Schreiber) yang sudah berpacaran selama berabad-abad. Sam dan Annie sahabatan (friendzone level 1.000), sedangkan Mary Catherine sepupuan sama Sam.

Oke. Cerita dimulai dengan adegan Sam bersiap-siap mau ketemu editor sebuah penerbitan. Di hari yang penting ini, sebagai calon penulis besar yang menggebu-gebu, tentu saja Sam... bangun kesiangan. Ini nih, klise pertama. Kenapa di setiap hari besar dalam hidupnya, seorang protagonis selalu bangun kesiangan? Supaya telat? Supaya deg-degan? Supaya seru? Supaya apa? Hah? Hah?

Anyway.

Di dalam subway, Sam yang lagi resah gelisah tak menentu, tak sengaja berpandangan dengan anak kecil supercute, Rasheen (Michael Algieri). Si bocah terlihat bepergian dengan seorang ibu-ibu gendut dan beberapa anak kecil. Entah karena melamun atau apa, Rasheen telat turun di stasiun yang seharusnya. Melihat dia terpisah dari ibu dan saudara-saudaranya, Sam pun nggak sampai hati.

Meskipun dia harus menghadiri sebuah pertemuan mahapenting yang bisa jadi akan mengubah peruntungannya, Sam pun rela mengantar Rasheen dulu ke kantor polisi. Eh, Rasheen enggak mau. Ternyata perempuan yang terlihat bersama dia di subway tadi bukan ibunya. Anak-anak kecil itu juga bukan saudaranya. Rasheen enggak tahu ibunya siapa. Dia bahkan enggak tahu berapa umurnya, atau kapan ulang tahunnya.

Rasheen selama ini hidup dari orang tua asuh satu ke orang tua asuh lain. Sedih deh. Menghadapi fakta seperti ini, Sam yang cerdas, baik hati, lagi tidak sombong, mengambil sebuah keputusan yang sangat berani dan sangat logis, yakni....

MEMELIHARA RASHEEN. Alias, membiarkan Rasheen tinggal di rumahnya dan ke mana-mana sama dia, sampai nanti dia tahu musti diapain itu anak.


Seolah-olah Rasheen adalah seekor hamster.

Bersenjatakan Rasheen, Sam berhasil menggaet Mississipi (Kate Mara), pelayan kafe/penyanyi indie yang cantik jelita. Sam juga sempat berpikir mau mengadopsi Rasheen tapi batal karena prosedurnya ribet. Sebagai sahabat baik, Anna selalu ngingetin Sam untuk menyerahkan Rasheen tapi Sam selalu nunda. Sam seneng lihat Rasheen bakat menggambar, dan bela-belain beli krayon dll di toko Mary Catherine buat si bocah. Sam lalu ditangkap polisi (hukum New York bilang, menyimpan anak kecil lebih dari empat hari padahal kita bukan walinya = penculikan) dan Rasheen nemu keluarga adopsi baru.

Terlalu banyak klise dalam film ini, padahal sampulnya (plus label Sundance Film Festival) telanjur melambungkan harapan. Ngerti sih kalo Josh Radnor pingin bikin film pertama yang sepintas kelihatan santai padahal kontemplatif. Tapi IMHO dia nggak terlalu berhasil. Cerita per individunya lumayan asyik (Sam yang bergulat jadi penulis, Anna yang mencari cinta sejati, dan Mary Catherine-Charlie yang berusaha mempertahankan hubungan), tapi ketika digabungkan, hmm kok nyambungnya enggak pas, ya?

Anna si gadis bersurban ceritanya dikejar-kejar sama cowok pengacara bergelar Sam #2 (Tony Hale). Sam #2 suka motret Anna secara candid dan nggak bosen-bosen tiap hari ngajak ngobrol Anna meski selalu dikasih muka asem. Seperti umumnya cewek berusia duapuluhan, Anna lagi sebel sama dirinya sendiri karena selalu jatuh ke pelukan cowok-cowok nggak jelas (dalam kasus dia: sang mantan yang anak band). Akhirnya, dia memutuskan untuk kasih Sam #2 kesempatan.

Karena merasa sakit, Anna berpikir dia enggak layak dicintai cowok mana pun, termasuk Sam #2. Lalu Sam #2 meminta Anna untuk memejamkan mata, dengerin apa yang mau dia bilang. Lalu mengocehlah Sam #2 tentang cintanya buat Anna, gimana pertama kali lihat Anna dia langsung merasa "Okay! This is it! Ini dia cewek yang gue cari!", gimana dia selalu motret Anna karena merasa Anna adalah pemandangan terindah dalam hidupnya, gimana sakitnya Anna enggak akan jadi masalah buat dia, dan segala ucapan "let me love you" lainnya.

Barangkali ungkapan "cowok itu jatuhnya di mata, cewek itu jatuhnya di kuping" benar adanya, soalnya pas Anna membuka mata, mendadak Sam #2 berubah menjadi cowok paling cakep sejagat raya. FYI sebelumnya Sam #2 adalah tipikal cowok pengacara yang selalu pake jas, rambutnya tipis, perut rada buncit, pipi chubby, pokoknya enggak keren deh.


Sam #2 sebelum.


Sam #2 sesudah.

Oh iya, judul film ini datang dari pengalaman Anna. Jadi dia pernah disetirin sama supir taksi orang India, yang bilang bahwa Anna tuh punya potensi besar dalam dirinya. Untuk memaksimalkannya, Anna harus banyak-banyak bersyukur. Caranya antara lain dengan bilang "thankyoumoreplease" setiap kali dia mengalami hal yang baik. Lahh, kalau "hal yang baik" itu semacam dapat cowok cakep ala James McAvoy gitu sih, saya bakal bilang MORE MORE MORE MORE MORE PLEASEEEEE!!!!!!

Ehem.

Sudah bisa ditebak bahwa Anna dan Sam #2 hidup bahagia selamanya. Hore, inner beauty menang! Quote Anna yang paling klise adalah ketika dia nelepon Sam (#1) habis jadian. Kata Anna, "Sadness be gone, let's be people who deserve to be loved, who are worthy, cause we are worthy." Aduh, berasa lagi di kelas super-nya Mario Teguh. Dan ke-klise-an ini diikuti dengan ke-klise-an berikutnya: Sam jadi merasa dirinya super duper messy,dan harus melakukan sesuatu untuk membuat dirinya dicintai. Sam pun nyamperin Rasheen dengan membawa seperangkat alat gambar, dan dateng ke acara nyanyinya Mississipi. Lagi-lagi, hidup bahagia selamanya.

Tentang pasangan Mary Catherine-Charlie juga nggak kalah klise. Mereka ini jenis pasangan yang saking lamanya pacaran, sudah enggak tahu lagi mau ngapain. Charlie mau pindah ke Los Angeles (LA) karena merasa kurang berhasil di New York, tapi Mary Catherine sebagai New Yorker sejati tentu saja enggak mau. Di LA kurang hip, kurang gaul, kurang funky, dan kurang trendy. Dimulailah periode berantem-berantem cihuy, yang selesai begitu saja dengan kehamilan Mary Catherine. Charlie enggak peduli lagi mau tinggal di LA kek, di New York kek, di Wonogiri kek, pokoknya mereka berdua mau punya anak. Yay! Another hidup bahagia selamanya.



Karena aku adalah solusi.

Tiga plot di atas seperti jalan sendiri-sendiri, terus digabungin sekenanya cuma dari percakapan-percakapan biasa. Bakal lebih asyik kalau tiga orang itu sekalian diceritakan nggak saling kenal. Atau kalaupun mau bersinggungan, dikasih konflik apa kek yang bikin semua tokoh stres dan mules. Film ini berjalan datar, terlalu datar, sehingga ketika film selesai, kita bakal terdiam sebentar di bangku penonton dan bilang ke diri sendiri, "Eh, udah ya? Oke, pulang ah."

Dear Josh Radnor,we are not really happy, but thank you, and more practice, please. Good luck.

No comments:

Post a Comment