Pages

12.55


Andina Dwifatma

Aku ingat siang itu. Hawa panas menggantung di udara dan membekap kepala, membuat tengkuk terasa berkeringat dan lengket bagai ketan kelapa. Lelaki itu berbisik padaku bahwa ia belum sikat gigi. Kami berdua tertawa. Aku juga belum. Kami baru saja tiba dari sebuah perjalanan semalaman, dan tidak ada yang sempat berpikir tentang hal remeh semacam kotoran gigi.


Di salah satu kafe di stasiun kami duduk berhadapan. Lelaki itu memesan kopi hitam tanpa gula. Aku juga. Tapi aku menambahkan gula pada kopiku, dan langsung menyesal karena telanjur memesan kue keju sebagai temannya. Serta merta ia berceloteh tentang bagaimana makanan manis sebaiknya tidak dimakan bersama kopi yang bergula. Dan bagaimana kopi hitam baru enak jika pahit rasanya. Lalu ia menukar kopiku dengan kopinya. 

"Tetapi kopiku manis," kataku.
"Tidak apa. Aku akan tetap meminumnya," balasnya.

Suara kereta terdengar dari kejauhan. Sebuah rangkaian gerbong memasuki perhentian. Yang lainnya pergi meninggalkan. Apa yang masih bisa dikatakan tentang perjalanan? Di suatu tempat pernah kudengar seseorang berkata, "Sebuah perjalanan adalah petualangan jika engkau tahu ke mana harus pulang."

Di kepalaku berdentang sebuah melodi yang tidak asing, dari sebuah lagu yang pernah kudengar di masa kecil. Kuketuk-ketukkan jariku pada pinggiran meja. Dum dum dum. Ia bertanya apa yang sedang kukerjakan, dan kukatakan aku sedang mengenang. Ia mengangguk lalu mereguk kopinya. Rasanya sudah begitu lama aku mengenalnya.

Lalu kami bicara tentang banyak hal. Ia melepas topi petnya dan mengipas-ngipaskannya ke wajah. Panas belum juga berkurang. Aku mengambil tisu basah dan membersihkan wajahnya yang lengket. Lalu tanganku sendiri. Ia terdiam lalu memandangi kopinya, yang tadinya kopiku, seolah-olah itu Samudera Hindia dan ia ingin menenggelamkan diri ke dalamnya. Aku memandanginya yang sedang memandangi kopi. Dan Sebuah Mata memandangiku yang sedang memandanginya memandangi kopi.

Tetapi sebentar lagi pukul satu siang. Aku menandaskan kopiku. Ia menghabiskan kopinya. Kami berpandangan. Begitu banyak yang harus dibicarakan, begitu banyak yang harus dikatakan, begitu sedikit waktu, dan begitu sedikit keberanian.

"Bolehkah aku tetap menemuimu, jika suatu saat aku datang ke kota ini lagi?"
"Tidak perlu."
"Aku mengerti."

Lalu aku dan lelaki itu bangkit, keluar dari kafe. Stasiun tidak seberapa ramai. Orang-orang melintasi kami, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, dengan tragedi masing-masing, dengan kegetiran yang tidak mungkin dibayangkan. Cerita kami hanyalah sepotong kecil di antara ratusan yang lain. Dan kenangan tentangnya akan tersimpan rapi di suatu sudut ingatan, yang mungkin tidak akan pernah disentuh lagi.

"Berbahagialah."

Lelaki itu tersenyum padaku. Itulah sebuah senyum yang akan selalu kuingat sampai akhir hayat. Kami berpelukan sekilas. Aku tidak ingin berkata apa-apa lagi. Sesuatu di hatiku berteriak-teriak, tetapi aku seperti tuli. Aku melangkah ke kanan dan ia pergi ke kiri.

"Jaga dirimu baik-baik."

Dan aku tidak pernah menoleh lagi.


Jakarta, Oktober 2010-September 2011
Sebuah cerita singkat untuk Aulia Latif

2 comments:

  1. Ouchh. Maksudmu? Kalau maksudmu segamblang yang kamu tuliskan, aku hanya ingin berucap be strong because you're such a strong woman.
    I'm sorry for both of you.

    Anon1

    ReplyDelete
  2. @Anon1 Ini cerita satu tahun lalu kok :)

    ReplyDelete