Pages

Investasi wakaf? Wad de fak af?

Berhubung sedang bulan Ramadhan, jadi saya menahan segala nafsu, termasuk nafsu untuk nge-blog.. *ngeles* Oke, oke, yang sesungguhnya terjadi adalah seperti biasa sebuah ketidakdisiplinan. Punya blog itu yah ibaratnya punya pacar. Agar bisa mengurusnya dengan baik, memang harus diniatin.

Postingan berikut ditulis lewat tengah malam karena tak kunjung bisa memejamkan mata.

Beberapa hari lalu, saya melintasi Jalan Fatmawati di sore hari. Ceritanya sedang berkendara bersama si Pacar, habis dari rumah nenek di Cipete, mau ke Bekasi lewat tol. Tengah macet indah, terpandanglah sebuah spanduk di kiri jalan:


Spanduk di ujung sebuah gang.

Jika gambar kurang jelas, saya kutipkan secara verbatim tulisan di spanduk tersebut: AYO BERWAKAF UANG. UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN INVESTASI AKHIRAT.

Bahwa agama telah berubah ujud menjadi industri, bukan sesuatu yang baru lagi. Bukankah untuk tahu bulan Ramadhan telah tiba, kita cukup menyalakan televisi. Ketika Deddy Mizwar sudah mulai wara wiri dengan iklan obat sakit maag-nya, dan sirup kental warna merah mulai divisualisasikan dengan sangat menggairahkan sebagai menu berbuka, nah, bulan suci sudah di depan mata.

Belum lagi parade ustad, kiyai, habib, yang sumpah kadang saya heran di mana letak kepintaran mereka. Saya pernah iseng nonton salah satu da'i yang sama sekali nggak ada potongan jadi pemuka agama. Kurus, (maaf) tonggos, gesturnya cenderung berlebihan (dia suka melambai-lambaikan tangan seperti orang kena ayan), dan seringkali menyela khotbahnya dengan jatuh tiba-tiba agar jamaahnya tertawa. Semacam Olga Syahputra versi bisa ngaji.

Eniwei, banyak sekali kebodohan di bulan puasa yang kalau dirinci mungkin akan membuat kita pingin kayang dari Kelapa Gading sampai Bekasi. Nah, spanduk di atas termasuk salah satunya. Kenapa menyuruh orang berwakaf dengan iming-iming itu sebagai investasi? Kenapa tidak mendorong orang berwakaf demi wakaf itu sendiri?

Saya jadi ingat prinsip ekonomi cinta-nya Erich Fromm. Bahwa ketika kita memutuskan mencintai seseorang dan membangun hubungan kita berdasarkan prinsip 'saling memberi dan menerima', sesungguhnya di situ tengah berlangsung proses kapitalisme. Dengan sekian ons rasa sayang dan perhatian yang kita berikan, kita mengharapkan akan menerima sekian ons rasa sayang dan perhatian yang sama, syukur-syukur bisa lebih. Paulo Coelho (tumben-tumbenan nih saya mengutip dia, biasanya selalu saya cela karena dia mirip Mario Teguh, versi bisa nulis) pernah bilang, "Kita menderita karena merasa telah memberikan lebih dari yang kita terima."

Tapi itu cinta kepada sesama. Untuk sesuatu yang berujud serupa, barangkali manusia memang tidak bisa menghindarkan diri dari hitung-hitungan materialisme. Tetapi masak iya dalam beragama kita juga akan menggunakan prinsip yang sama? Apakah kita berwakaf karena tahu ada sekian persen jatah kaum tak mampu dalam rezeki kita, atau supaya kita memperoleh tempat yang layak di surga--itu juga kalau ada?

Itulah hebatnya kapitalisme. Ia telah merasuk dalam setiap sendi kehidupan manusia. Sampai-sampai hidup yang hanya perjalanan sebentar ini saja telah berhasil disulapnya menjadi semacam pasar saham, di mana kita bisa menabung pahala dan berinvetasi surga.

Filsuf Immanuel Kant dalam teorinya tentang etika pernah menjelaskan tentang konsep imperatif kategoris, yakni berbuat suatu kebaikan bukan karena motif tertentu, melainkan karena kebaikan itu memang baik pada dirinya sendiri. Dan dalam hal ini, Kant, yang kalau tidak salah ingat adalah seorang Nasrani taat, menurut saya sangat jauh lebih dekat dengan konsep keislaman daripada badan zakat yang spanduknya sempat saya potret di atas.

Wallahualam.

4 comments:

  1. ati2 ah ntar diajak buka bersama bareng fpi loh :))

    ReplyDelete
  2. Ah enggak apa-apa, sekalian silaturahim sama Habib Rizieq hahaha. Btw met lebaran yaa :)

    ReplyDelete
  3. Kamu pasti lebih tau banyak tentang Coelho, emang orangnya seperti apa? Maksudmu hanya bisa menulis, apakah tidak bisa berbuat juga? Please share...


    Anon1

    ReplyDelete
  4. @Anon1 Haha, maksudnya, Paulo Coelho adalah Mario Teguh versi penulis. Mario Teguh bicara, Paolo Coelho menulis, tapi inti dari "ajaran" mereka sama: petuah-petuah hidup nan motivasional untuk para pendengar dan pembaca yang bagaikan muter-muter kayak gasing nyari pedoman hidup. Dan baik ujaran Mario Teguh maupun tulisan Coelho seringkali klise, sehingga saya tidak tahan. Untuk lebih mantapnya, sila follow Twitter yang bersangkutan di http://twitter.com/#!/paulocoelho

    ReplyDelete