Pages

Bukan pasar malam

"Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah bisa mencintai seorang manusia, dan orang itu pun mencintai kita, seperti mendiang kawan kita itu misalnya--mengapa kemudian harus bercerai-berai dalam maut? Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam."

(seorang Tionghoa teman seperjudian ayah tokoh 'aku' saat pemakaman, halaman 95)

2 comments:

  1. Pram memang jenius merangkai kata-kata ya. Kalimat itu terdengar jenaka tapi ternyata juga getir krn disana ada terasa jeritan rasa kesepian seorang manusia. Wakkss...

    Anon1

    ReplyDelete
  2. @Anon1: Iya, dan karena sudah lama nggak baca Pram, aku lupa betapa dia bisa menulis dengan begitu jenaka. Masak dia pakai istilah "teman seperjudian" alih-alih "sepermainan" hahahaha...

    ReplyDelete