Pages

Wartawan

Anak itu sejak kecil ingin jadi wartawan. Alasan utamanya sebab ia suka jalan-jalan dan hampir selalu bangun siang. Ibunya butuh usaha ekstra keras jika ingin membangunkannya shalat Subuh, meski dengan iming-iming "habis itu boleh tidur lagi"--tidak pernah mempan. Kedua, ia tidak suka pakaian formal. Melihat orang dewasa hilir mudik dengan pakaian kerja dan sepatu hak tinggi cetak-cetok membikin perutnya mual.


Maka itu, sejak mengenal huruf dan mulai bisa menulis, ia berlatih reportase. Ia suka mengguntingi gambar-gambar artis dari tabloid anak-anak dan menempelkannya di buku tulis cap Sinar Dunia, lalu berpura-pura mewawancarai mereka. Ia menulis tangan, dengan pulpen Pilot bertinta hitam, sekali-kali merek Snowman. Banyak sudah yang diwawancarainya: boyband Backstreet Boys, pesepakbola Alan Shearer dari Newcastle United yang disukainya, dan George Harrison dari The Beatles. Ia memang lihai menembus narasumber. Tetapi, prestasi terhebatnya adalah mewawancarai Gober Bebek di gudang uangnya yang terkenal. Mereka bicara lama sekali dan ia menuliskan hasil wawancaranya sampai lima lembar.

Lalu waktu terus berlalu dan Tuhan begitu baik pada anak itu. Tuhan mengabulkan hampir semua keinginannya (yang bervariasi antara ingin punya pacar agak banyak sampai bertemu muka dengan penulis idola), termasuk menjadi wartawan sungguhan. Selepas kuliah, setelah sempat menclok sana-sini selama empat bulan, ia melamar menjadi wartawan sebuah majalah ekonomi yang cukup popular. Dan sekarang sudah setahun ia di sana, mempelajari bisnis dan perpajakan dan pasar modal.

Ketika aku menyambutnya pulang malam ini, bisa kulihat dia dalam keadaan letih. Sepertinya bukan badan, tetapi pikiran, sebab ia masih bisa sedikit pecicilan. Setelah meletakkan tas dan minum segelas air putih, ia menoleh padaku dan minta tolong diingatkan kenapa dulu ia mau jadi wartawan. Karena sedang ingin omong-omong rada tinggi, aku menjawab begini:

"Sebab kau ingin berada sedekat mungkin dengan pusat dunia, merasakan segenap peristiwa dengan mata kepala sendiri, bepergian ke mana pun langkah membawa, dan menyesap sari-sari kehidupan tanpa duduk di belakang meja! Kau tahu Henry Luce, si raja media pemilik Time Inc.? Ia bilang, 'I became a journalist to come as close as possible to the heart of the world.'"

Dia diam mendengarkan. Aku melanjutkan,

"Lalu kau bisa menuliskan kenyataan sebagaimana adanya, sebagai tanda kepedulianmu pada masyarakat, untuk membuat hidup mereka dan negara tercinta kita lebih baik adanya. Jurnalis itu pekerjaan mulia, Wahai Gadis! Kau berbuat sesuatu untuk orang banyak. Hidupmu ada kontribusinya. Tidak sekadar numpang makan, tidur, dan berak. Apalagi bisnis dan ekonomi, wahai, itulah inti dari segala inti. Karl Marx tidak main-main ketika bilang bentuk suatu negara amat bergantung pada ekonominya. Materialisme historis, Kawan!"

Aku terus bicara,

"Sistem ekonomi kapitalistik akan membentuk pola negara yang berbeda dengan sistem ekonomi sosialis, itu sudah pasti. Aku tidak bilang negara kita menganut salah satu sistem tertentu, atau sistem yang satu lebih baik dari yang lain. Prosesnya rumit, Kawan, tetapi kau ada di dalamnya, siap untuk mengkritisi segala kebijakan yang tidak ramah pada masyarakat. Kau agen perubahan! Kau gate-keeper informasi! Kau idealis! Masih muda dan berbahaya!"

Aku merasa ada api di mataku. Bung Karno sejenak mewujud dalam dadaku.

Tetapi ia malah memandangku dengan ekspresi geli. Bibirnya tersungging membentuk senyuman setengah miring. Lalu ia memejamkan mata sambil mengangkat kakinya ke atas meja dan berkata,

"Lucu. Kukira dulu aku mau jadi wartawan hanya karena aku susah bangun pagi."

10 comments:

  1. tulisannya cantik, dan seksi, seperti sang penulis! *cipika cipiki

    ReplyDelete
  2. hai.

    mencoba berefleksi, berkaca pada diri sendiri Ndin?

    itu lebih baik, karena banyak orang hanya berjalan tanpa tau kenepa dulu dia memilih jalan itu?

    ReplyDelete
  3. @wan: aduh, jadi tersipu-sipu. jangan cipika cipiki ah. bukan muhrim. hahaha

    ReplyDelete
  4. @Anon: Persis. Seperti seorang musafir yang sesekali perlu berhenti berjalan, duduk di atas pohon sambil kipas-kipas, mengambil jarak dari dirinya sendiri, dan bertanya mengapa ia dulu pergi dari rumah.

    ReplyDelete
  5. kebetulan lagi nyari-nyari di google dan menemukan blog ini. Nice post anyway. salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  6. seperti reminder yg ditulis di post-it.. tercecer dimana-mana, lalu dirangkai kembali..hehe.. km percaya sm konsep dharma? kl km ngerasa enjoy n merasa dimudahkan, ya itulah dharma mu ndin :D

    ReplyDelete
  7. wahai, gadis cantik nan seksi, blognya harap diupdate lagi. :)

    ReplyDelete
  8. @Faelasufa: Terima kasih. Salam kenal juga :)

    ReplyDelete
  9. @Detta: Nahh ini nih, sebelum jawab, mau tanya dulu: konsep dharma itu seperti apa persisnya? Mau dong dijelasin, Wahai Pak-Dosen-Dalam-Balutan-Sepatu-Converse :)

    ReplyDelete
  10. @wan: haha, baiklah, siap jendral!

    ReplyDelete