Pages

Literary Idol of The Month: April



Ernest Miller Hemingway (21 Juli 1899-2 Juli 1961).

Pengarang favorit kita bulan ini adalah Ernest Hemingway. Ia adalah seorang jurnalis, novelis, cerpenis, mantan tentara dan supir ambulans. Banyak naskahnya yang terkenal, di antaranya The Old Man and The Sea, sebuah kisah tentang eksistensialisme tanpa sedikit pun menyebut kata 'filsafat'. Hemingway suka menulis dengan kalimat-kalimat pendek (salah satu nasihatnya yang terkenal adalah 'gunakan alinea pertama yang singkat, bahasa Inggris yang hidup, dan bersikaplah positif'), sangat menyukai kucing, menikah empat kali, bersahabat erat dengan sastrawan F. Scott Fitzgerald (pengarang The Great Gatsby), dan meraih nobel sastra pada tahun 1954. Tujuh tahun kemudian, Hemingway menembak dirinya sendiri.


Dari Hemingway, seorang pengarang bisa belajar membuat dialog-dialog yang baik. Tidak ada satu pun dialog tokoh-tokoh Hemingway yang tidak penting. Ia bahkan bisa membangun jalan cerita, memperkenalkan tokoh, menuju klimaks, dan mengakhiri cerita, hanya dengan dialog belaka--seperti dalam cerita The Killers, yang telah saya terjemahkan dan diedit oleh guru saya, A.S Laksana. Selamat menikmati.

PARA PEMBUNUH
Ernest Hemingway

Pintu restoran Henry terbuka dan masuklah dua orang pria. Mereka duduk di konter.
            “Mau pesan apa?” George bertanya.
            “Tidak tahu,” kata salah seorang dari mereka. “Kau mau makan apa, Al?”
            “Tidak tahu,” kata Al. “Aku tidak tahu mau makan apa.”
            Langit semakin gelap. Di luar jendela, lampu jalan mulai menyala. Dua pria itu mulai membaca menu di konter. Dari ujung konter, Nick Adams memperhatikan gerak gerik mereka. Ia sedang bicara pada George ketika mereka datang.
            “Aku pesan daging babi panggang dengan saus apel dan kentang tumbuk,” pria pertama berkata.
            “Itu belum ada.”
            “Lantas kenapa kau taruh di menu sialan ini?”
            “Itu menu makan malam,” George menjelaskan. “Bisa dipesan mulai pukul enam.”
            George menatap jam dinding di balik konter.
            “Sekarang pukul lima.”
            “Jam itu menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit,” ujar pria kedua.
            “Ia terlalu cepat dua puluh menit.”
            “Oh, peduli setan dengan jam itu,” pria pertama menukas. “Kau punya makanan apa?”
            “Ada berbagai macam sandwich,” kata George. “Kau bisa pesan ham dan telur, bacon dan telur, hati dan bacon, atau seporsi stik.”
            “Aku mau kroket ayam dengan kacang polong dan saus krim dan kentang tumbuk.”
            “Itu menu makan malam.”
            “Semua yang kami mau kaubilang menu makan malam. Kau sengaja, ya?”
            “Kau bisa memesan ham dan telur, bacon dan telur, hati –“
            “Aku pesan ham dan telur,” pria bernama Al berkata. Ia memakai topi derby dengan mantel hitam berkancing di bagian dada. Wajahnya mungil dan putih dan bibirnya tipis. Ia mengenakan syal sutra dan sarung tangan.
            “Aku mau bacon dan telur,” kata pria satunya. Ia kira-kira setinggi Al. Wajah mereka berbeda, tetapi berpakaian seperti anak kembar. Dua-duanya memakai mantel yang terlalu ketat. Mereka duduk mencondongkan badan, kedua siku menempel di konter.
            “Punya minuman?” Al bertanya.
            “Bir, bevo, jahe soda,” George berkata.
            “Maksudku kau punya minuman?”
            “Hanya itu.”
            “Kota ini seru,” kata yang lain. “Apa sebutannya?”
            “Puncak.”
            “Pernah dengar?” Al menanyai temannya.
            “Belum,” kata si teman.
            “Apa yang kalian lakukan di sini pada malam hari?” Al bertanya.
            “Mereka makan malam,” temannya berkata. “Mereka semua datang kemari dan makan malam sepuas-puasnya.”
            “Itu benar,” kata George.
            “Jadi menurutmu itu benar?” Al bertanya pada George.
            “Begitulah.”
            “Bocah pintar. Kau ini bocah pintar, kan?”
            “Begitulah,” jawab George.
            “Kau salah,” kata pria kecil yang lain. “Ya, kan, Al?”
            “Dia bodoh,” kata Al. Ia berpaling pada Nick. “Siapa namamu?”
            “Adams.”
            “Satu lagi bocah pintar,” Al berkata. “Bukankah dia bocah pintar, Max?”
            “Kota ini penuh bocah-bocah pintar,” Max berkata.
            George meletakkan dua piring, satu berisi ham dan telur, yang lain bacon dan telur, di atas konter. Ia menata dua porsi kentang goreng dan menutup pintu kecil yang mengarah ke dapur.
            “Yang mana punyamu?” Ia bertanya pada Al.
            “Kau tidak ingat?”
            “Ham dan telur.”
            “Memang bocah pintar,” Max berkata. Ia mencondongkan tubuh dan mengambil ham dan telur. Kedua pria itu makan dengan tetap memakai sarung tangan. George memperhatikan mereka.
            “Kau lihat apa?” Max menatap George.
            “Tidak ada.”
            “Persetan. Kau menatapku.”
            “Mungkin maksudnya bercanda, Max,” Al berkata.
            George tertawa.
            “Kau tidak perlu tertawa,” Max berkata padanya. “Kau tidak perlu tertawa sama sekali, oke?”
            “Baiklah,” kata George.
            “Jadi pikirnya ini baik-baik saja,” Max berpaling pada Al. “Pikirnya ini baik-baik saja. Itu bagus.”
            “Oh, dia seorang pemikir,” Al berkata. Mereka meneruskan makan.
            “Siapa nama bocah pintar di ujung sana itu?” Al bertanya pada Max.
            “Hei, bocah pintar,” Max berkata pada Nick. “Coba kau pindah ke balik konter bersama temanmu.”
            “Untuk apa?” Nick bertanya.
            “Tidak untuk apa-apa.”
            “Cepatlah, bocah pintar,” Al berkata. Nick pergi ke balik konter.
            “Apa-apaan ini?” George bertanya.
            “Bukan urusanmu,” Al berkata. “Ada siapa di dapur?”
            “Si negro.”
            “Apa maksudmu, si negro?”
            “Si negro juru masak.”
            “Suruh dia masuk.”
            “Untuk apa?”
            “Suruh dia masuk.”
            “Kau pikir kau ini di mana?”
            “Kami tahu persis sedang berada di mana,” pria bernama Max berkata. “Apa kami terlihat bodoh?”
            “Bicaramu bodoh,” Al berkata padanya. “Apa guna bertengkar dengan bocah ini? Dengar,” ia berkata pada George, “suruh si negro kemari.”
            “Hendak kau apakan dia?”
            “Tidak ada. Pakai otakmu, bocah pintar. Bisa apa kami dengan seorang negro?”
            George membuka celah yang terhubung ke dapur. “Sam,” panggilnya. “Ke sini sebentar.”
            Pintu dapur terbuka dan si negro muncul. “Ada apa?” Ia bertanya. Dua pria di konter mengamatinya.
            “Baiklah, negro. Berdirilah di sana,” kata Al.
            Sam, si negro, berdiri dengan celemeknya, menatap dua pria yang duduk di konter. “Ya, tuan,” katanya. Al turun dari bangkunya.
            “Aku akan ke dapur bersama si negro dan bocah pintar ini,” katanya. “Kembali ke dapur, negro. Kau juga, bocah pintar.” Si pria bertubuh mungil mengekor Nick dan Sam, si koki, kembali ke dapur. Pintu tertutup. Pria yang dipanggil Max duduk di konter berhadapan dengan George. Ia tidak melihat George, melainkan memandang cermin yang dipasang memanjang di belakang konter. Restoran Henry dulunya sebuah salon.
            “Jadi, bocah pintar,” Max berkata, menatap cermin, “katakanlah sesuatu.”
            “Sebenarnya ada apa ini?”
            “Hei, Al,” panggil Max, “bocah pintar ini ingin tahu sebenarnya ada apa ini.”
            “Kasih tahu saja.” Suara Al terdengar dari arah dapur.
            “Menurutmu sebenarnya ada apa ini?”
            “Aku tidak tahu.”
            “Menurutmu?”
            Max terus menatap cermin sembari bicara.
            “Aku tidak mau bilang.”
            “Hei, Al, bocah pintar ini tidak mau bilang sebenarnya ada apa ini menurutnya.”
            “Aku dengar, oke,” Al berkata dari dapur. Ia mengganjal celah tempat keluar masuk makanan dengan botol saus tomat. “Dengar, bocah pintar,” dari arah dapur ia berkata pada George. “Mundurlah sedikit. Kau ke kiri sedikit, Max.” Ia bagai fotografer sedang mengarahkan gaya.
            “Katakan, bocah pintar,” Max berkata. “Menurutmu apa yang akan terjadi?”
            George tidak berkata apa pun.
            “Kuberitahu,” kata Max. “Kami akan membunuh orang Swedia. Kau kenal orang Swedia besar bernama Ole Andreson?”
            “Ya.”
            “Dia makan di sini setiap malam, kan?”
            “Kadang dia kemari.”
            “Dia datang setiap pukul enam, kan?”
            “Kalau dia datang.”
            “Kami sudah tahu semuanya, bocah pintar,” kata Max. “Bicara yang lain sajalah. Pernah nonton film?”
            “Sesekali.”
            “Kau harus lebih sering nonton film. Film sangat baik untuk bocah pintar sepertimu.”
            “Buat apa kau membunuh Ole Andreson? Apa salahnya padamu?”
            “Dia tidak pernah punya kesempatan berbuat salah pada kami. Dia bahkan belum pernah bertemu kami.”
            “Dan dia hanya akan bertemu kami sekali saja,” Al berkata dari dapur.
            “Lantas buat apa kau membunuhnya?”
            “Kami membunuhnya demi seorang kawan. Hanya untuk membantu teman, bocah pintar.”
            “Diamlah,” kata Al dari dapur. “Kau terlalu banyak omong.”
            “Yah, aku harus menghibur bocah pintar ini. Ya, kan, bocah pintar?”
            “Kau terlalu banyak omong,” Al berkata. “Si negro dan bocah pintarku bisa menghibur diri mereka sendiri. Aku mengikat mereka seperti gadis-gadis di biara.”
            “Sudah kuduga kau pernah tinggal di biara.”
            “Mana kau tahu?”
            “Kau dulu anggota sebuah biara yang baik. Aku tahu itu.”
            George menatap jam dinding.
            “Kalau ada pelanggan, katakan koki sedang libur, dan kalau mereka tetap memaksa, bilang pada mereka bahwa kau akan pergi ke belakang dan memasak sendiri. Paham, bocah pintar?”
            “Baiklah,” George berkata. “Apa yang akan kau lakukan pada kami sesudahnya?”
            “Tergantung,” kata Max. “Itu salah satu dari sekian banyak hal yang tidak bisa kau ketahui seketika.”
            George mendongak, melihat jam dinding. Pukul enam lewat seperempat. Pintu terbuka. Seorang pengendara motor jalanan masuk.
            “Halo, George,” katanya. “Bisa pesan makan malam?”
            “Sam sedang keluar,” kata George. “Dia akan kembali kira-kira setengah jam lagi.”
            “Lebih baik aku jalan saja,” si pengendara motor berkata. George menatap jam. Pukul enam lewat dua puluh menit.
            “Bagus, bocah pintar,” Max berkata. “Kau seorang gentleman kecil yang sempurna.”
            “Dia tahu aku akan meledakkan kepalanya,” Al bicara dari dapur.
            “Tidak,” kata Max. “Bukan itu. Bocah pintar ini menyenangkan. Dia bocah yang baik. Aku menyukainya.”
            Pada pukul enam lima puluh lima George berkata, “Dia tidak datang.”
            Dua orang lagi datang ke restoran. Satu kali George pergi ke dapur dan membuat sandwich ham dan telur yang dipesan oleh seorang lelaki untuk dibawa pulang. Di dapur ia melihat Al, dengan topi derby mendongak ke belakang, sedang duduk di kursi dekat celah penghubung dapur dan konter, moncong senapan laras pendeknya menyentuh langkan. Nick dan si koki saling memunggungi di pojok, mulut mereka tersumpal handuk. George memasak sandwich, membungkusnya dengan kertas minyak, menaruhnya di dalam kantung, membawanya masuk, si lelaki membayar, lalu pergi.
            “Bocah pintar ini mahir melakukan segalanya,” kata Max. “Dia bisa masak dan semuanya. Kau bisa mengajari setiap gadis untuk menjadi istri yang baik, bocah pintar.”
            “Ya?” kata George. “Kawanmu, Ole Andreson, tidak akan datang.”
            “Kami akan memberinya waktu sepuluh menit lagi,” kata Max.
            Max menatap cermin dan jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh, lantas tujuh lewat lima menit.
            “Ayolah, Al,” kata Max. “Kita pulang saja. Dia tidak datang.”
            “Lima menit lagi,” Al bicara dari dapur.
            Lima menit kemudian seorang pria masuk, dan George berkata kokinya sakit.
            “Kenapa tidak cari koki baru?” Si pria bertanya. “Bukannya ini restoran?” Ia pun pergi.
            “Ayolah, Al,” Max berkata.
            “Bagaimana dengan dua bocah pintar dan si negro?”
            “Tidak ada masalah.”
            “Menurutmu begitu?”
            “Tentu saja. Kita sudah mengurusnya dengan baik.”
            “Aku tidak suka ini,” kata Al. “Ini ceroboh. Kau terlalu banyak bicara.”
            “Oh, peduli setan,” kata Max. “Kita harus tetap bersenang-senang, kan?”
            “Tetap saja, kau terlalu banyak bicara,” Al berkata. Ia keluar dari dapur. Laras pendek senapannya menonjol samar-samar di pinggang mantelnya yang terlalu ketat. Ia meluruskan mantel dengan jari-jari yang terbungkus sarung tangan.
            “Selamat tinggal, bocah pintar,” ia berkata pada George. “Kau amat beruntung.”
            “Itu benar sekali,” Max berkata. “Mestinya kau bertaruh di pacuan kuda, bocah pintar.”
            Lalu mereka berdua pergi. George, lewat jendela, mengamati mereka melangkah di bawah cahaya lampu dan menyeberangi jalanan. Dengan mantel ketat dan topi derby, mereka terlihat seperti sekelompok pemain komedi bangsawan. George lalu menerabas pintu dapur dan melepas ikatan Nick dan si koki.
            “Aku tidak mau begini lagi,” kata Sam, si koki. “Sungguh aku tidak mau begini lagi.”
            Nick berdiri. Mulutnya belum pernah tersumpal handuk sebelumnya.
            “Katakanlah,” dia berujar. “Ada apa sebenarnya?” Dia berusaha tampak angkuh dan tak peduli.
            “Mereka akan membunuh Ole Andreson,” George berkata. “Mereka bermaksud menembaknya ketika dia makan malam di sini.”
            “Ole Andreson?”
            “Benar.”
            Si koki meraba sudut-sudut mulut dengan jari-jarinya.
            “Mereka sudah pergi?” tanyanya.
            “Yeah,” kata George. “Mereka sudah pergi sekarang.”
            “Aku tidak suka ini,” kata si koki. “Aku benar-benar tidak suka ini.”
            “Dengar,” kata George pada Nick. “Sebaiknya kau temui Ole Andreson.”
            “Baiklah.”
            “Sebaiknya kau tidak ikut campur soal ini,” si koki berkata. “Sebaiknya kau tidak terlibat sama sekali.”
            “Jangan ikut campur kalau kau tidak mau,” George berkata.
            “Mencampuri urusan ini tak ada gunanya,” kata si koki. “Jangan ikut campur.”
            “Aku akan menemuinya,” Nick berkata pada George. “Di mana dia tinggal?”
            Si koki berbalik dan pergi.
            “Anak-anak tak pernah bisa diberitahu,” katanya.
            “Dia tinggal di rumah kontrakan Hirsch,” George memberitahu Nick.
            “Aku akan ke sana.”
            Di luar, sinar lampu jalan menembus sela-sela reranting pohon. Nick melangkah sepanjang jalan, menyusuri deretan mobil dan berbelok ke jalan kecil setelah lampu jalan berikutnya. Tiga rumah dari mulut jalanan adalah rumah kontrakan Hirsch. Nick menaiki dua anak tangga dan menekan bel. Seorang wanita membuka pintu.
            “Apakah Ole Andreson tinggal di sini?”
            “Anda ingin menemuinya?”
            “Ya, jika dia ada.”
            Nick mengekor wanita itu naik tangga sampai di ujung koridor. Wanita itu mengetuk pintu.
            “Siapa itu?”
            “Ada yang ingin ketemu, Mr. Andreson,” kata wanita itu.
            “Saya Nick Adams.”
            “Masuklah.”
            Nick membuka pintu dan menghambur masuk. Ole Andreson berbaring di ranjang dengan pakaian lengkap. Dia seorang petinju kelas berat, dan sungguh badannya terlalu panjang untuk ranjang itu. Ia berbaring dengan kepala terganjal dua buah bantal. Ia tidak melihat ke arah Nick.
            “Ada apa?” tanyanya.
            “Aku sedang di restoran Henry tadi,” Nick berkata, “dan dua orang datang dan mengikatku dan si koki, dan mereka bilang akan membunuhmu.”
            Terdengar konyol kabar itu. Ole Andreson diam saja.
            “Mereka menyandera kami di dapur,” Nick melanjutkan. “Mereka bermaksud menembakmu ketika kau datang makan malam.”
            Ole Andreson menatap dinding dan tidak mengatakan apa pun.
            “Menurut George aku sebaiknya datang dan memberitahumu.”
            “Aku tak bisa apa-apa mengenai hal ini,” kata Ole Andreson.
            “Aku akan memberitahumu ciri-ciri mereka.”
            “Aku tidak ingin tahu ciri-ciri mereka,” Ole Andreson berkata. Ia memandang tembok. “Terima kasih sudah datang dan memberitahuku.”
            “Tak masalah.”
            Nick menatap si pria besar yang terbaring di ranjang.
            “Kau tidak ingin aku pergi ke polisi?”
            “Tidak,” kata Ole Andreson. “Tak akan ada gunanya.”
            “Tak ada yang bisa kulakukan?”
            “Tidak. Tak ada yang bisa dilakukan.”
            “Mungkin cuma gertakan.”
            “Bukan. Ini bukan cuma gertakan.”
            Ole Andreson berguling menghadap dinding.
            “Kebetulan saja,” ia bicara pada dinding, “Aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Aku hanya berbaring di sini sepanjang hari.”
            “Tak bisakah kau pergi ke luar kota?”
            “Tidak,” kata Ole Andreson. “Aku sudah capek berlari terus.”
            Ia memandangi dinding.
            “Tak ada yang bisa dilakukan sekarang.”
            “Tak bisakah kau perbaiki keadaan?”
            “Tidak. Telanjur salah.” Ia bicara dengan nada datar yang sama. “Tak ada yang bisa dilakukan. Toh nanti aku keluar juga.”
            “Sebaiknya aku pulang dan menemui George,” Nick berkata.
            “Sampai jumpa,” kata Ole Andreson. Dia tidak melihat ke arah Nick. “Terima kasih sudah mampir.”
            Nick keluar. Ketika dia membuka pintu, masih dilihatnya Ole Andreson berpakaian lengkap, berbaring di ranjang, memandangi dinding.
            “Dia di kamar seharian,” kata nyonya pemilik rumah dari bawah. “Saya rasa dia tidak enak badan. Saya bilang padanya, ‘Tuan Andreson, kau harus pergi berjalan-jalan di musim gugur yang menyenangkan seperti ini,’ tapi rupanya dia sedang tidak kepingin.”
            “Dia memang sedang tidak ingin keluar.”
            “Saya sedih dia sakit,” kata si wanita. “Dia pria yang sangat baik. Anda tahu, dulu dia bertarung di atas ring.”
            “Saya tahu itu.”
            “Kita tak akan pernah bisa menebaknya, kecuali dari wajahnya,” kata si wanita. Mereka berdiri sambil bercakap-cakap di belakang pintu. “Dia amatlah lembut.”
            “Baiklah, selamat malam, Nyonya Hirsch,” kata Nick.
            “Saya bukan Nyonya Hirsch,” kata si wanita. “Ia pemilik tempat ini. Saya hanya menjaganya. Nama saya Nyonya Bell.”
            “Baiklah, selamat malam, Nyonya Bell,” kata Nick.
            “Selamat malam,” kata si wanita.
            Nick menyusuri jalanan yang gelap sampai ujung di bawah lampu, lalu melintasi deretan mobil menuju restoran Henry. George ada di dalam, di balik konter.
            “Kau sudah bertemu Ole?”
            “Ya,” kata Nick. “Dia ada di dalam kamar dan dia tidak mau keluar.”
            Si koki membuka pintu dapur ketika ia mendengar suara Nick.
            “Aku bahkan tidak ingin mendengarkannya,” ia berkata, kemudian menutup pintu.
            “Kau memberitahunya?” George bertanya.
            “Tentu. Aku memberitahunya, tapi tampaknya dia sudah tahu semuanya.”
            “Apa yang akan ia lakukan?”
            “Tidak ada.”
            “Mereka akan membunuhnya.”
            “Kurasa begitu.”
            “Dia pasti terlibat perkara di Chicago.”
            “Bisa jadi,” kata Nick.
            “Sesuatu yang buruk sekali.”
            “Sesuatu yang mengerikan.”
            Mereka tidak bicara lagi. George meraih handuk dan mulai mengelap konter.
            “Aku penasaran apa yang telah dilakukannya?” Nick berkata.
            “Mengkhianati orang. Itulah mengapa mereka ingin membunuhnya.”
             “Aku akan enyah dari kota ini,” Nick berkata.
            “Ya,” kata George. “Itu bagus.”
            “Aku tak tahan memikirkan dia menunggu di kamar itu dan tahu akan dibunuh. Ini terlalu mengerikan.”
            “Yah,” kata George, “sebaiknya kau tidak memikirkannya." 

2 comments:

  1. belum baca cerpennya. tapi kami, para blogger, mengucapkan beribu terimakasih atas tlisan dri Hemmingway.

    ReplyDelete
  2. @wan: terima kasih, semoga bermanfaat.

    ReplyDelete