Pages

Gerbong Khusus Wanita

Beberapa hari lalu saya pulang dari Stasiun Sudirman ke Stasiun Sudimara naik Sudirman Express. Ceritanya habis liputan di Grand Indonesia dan pulang sore. Jam lima teng. Editor saya, yang waktu itu liputan bareng, kebetulan rumahnya di daerah Serpong. Ia pun memberi solusi jitu dengan pulang naik kereta, daripada naik bus umum atau TransJakarta yang dipastikan akan membuat kita ubanan dan osteoporosis abis begitu sampai di rumah.

Karena sudah lama tidak memanfaatkan transportasi publik bernama kereta rel listrik alias KRL itu, saya baru nyadar bahwasanya fitur unyu bernama 'Gerbong Khusus Wanita' bukanlah isapan jempol belaka.

Gerbong ini biasanya ada di ujung, alias di kepala dan ekor rangkaian gerbong. Editor saya yang telah amat sangat berpengalaman dalam dunia per-KRL-an (konon di masa mudanya dia sempat punya geng KRL yang terdiri dari mbok-mbok sayur dan ibu rumah tangga) menyeret saya ke gerbong nomor satu, yakni gerbong yang menebarkan wangi bunga (secara harfiah) dengan pelapis tempat duduk warna jingga, dan papan penunjuk merah muda.

Beberapa perempuan muda berbaju kantor (tapi tetap dengan sandal jepit) duduk berkelompok-kelompok, bercakap-cakap riang, sesekali tertawa--jenis tawa yang biasa dikumandangkan para perempuan jika sedang bergosip. Karena kereta belum berangkat, abang-abang penjual cemilan masih bisa leluasa berkeliaran, dan para perempuan ini mengerubutinya seolah-olah si abang adalah Tom Cruise yang lagi jumpa penggemar.

"Kacangnya dong, Bang!"
"Keripik pedesnya ada?"
"Manisan jambunya asem banget nggak?"

Abang-abang penjual tisu, permen, Tolak Angin, masker, dan Aqua juga nggak kalah laris. Para perempuan membeli apa pun yang ditawarkan, meskipun mereka tidak membutuhkannya. Beberapa kali saya mendengar percakapan seperti ini,

"Eh, ngapain lu beli lagi? Bukannya masih ada?"
"Nggak papa, buat stok."

Begitu kereta jalan, makin banyak perempuan yang masuk. Suasana makin ribut. Baik dalam kondisi duduk maupun berdiri, mereka mengobrol dan mengobrol dan mengobrol. Dua puluh menit duduk di kereta membuat saya tahu si Anu selingkuh sama siapa, si Itu istrinya berapa, dan kenapa si X sama si Y pisah ranjang tapi tidak kunjung bercerai. Mereka juga sangat update pada berita-berita terkini. Pilihan gadget terkini yang mereka genggam di tangan masing-masing menjelaskan semuanya.

(Percaya atau nggak, sambil berdiri, mereka memutar video Briptu Norman di YouTube dan mengomentarinya. Pakai loudspeaker. Iya, kedengeran di seantero gerbong.)

Oke, ini lucu. Saya merasa ada di kamar kos khusus cewek yang berbentuk seperti lorong. Dan sebagaimana biasanya, saya tidak terlalu pandai berkomunikasi dengan segerombolan cewek. Zaman kuliah dulu, saya adalah satu-satunya penghuni kos yang tidak pernah sekali pun berkunjung ke kamar kos teman tanpa alasan. Entah kenapa, saya merasa ngobrol-ngobrol sambil rujakan, atau pesta piyama, atau dandan-dandanan itu, bukanlah kegiatan yang asyik. Malah bikin canggung. Saya jauh lebih suka leyeh-leyeh nonton DVD sendirian di kamar.

Obrolan tanpa henti yang terkumandangkan sepanjang jalan lama-lama membuat saya gelisah. Ingin sekali menekan tombol mute di masing-masing mulut agar mereka berhenti bicara sebentaaaar.. saja. iPod yang tercolok di kuping bahkan tidak bisa meredam suara mereka.

Dalam hati saya berjanji akan berpikir seribu kali untuk lain kali naik gerbong unyu ini lagi.

Setibanya di Sudimara, saya mengucap PUJI TUHAN dalam hati dan segera melompat keluar gerbong. Tibalah saat melakukan tawar-menawar dengan tukang ojek. Jarak rumah saya dengan stasiun sangat dekat. Biasanya tarifnya hanya Rp5.000,-. Sekarang entah kenapa semua meminta tarif Rp8.000,-. Anda tahu, itu pemerasan! Dengan tarif yang sama, saya sudah bisa diantar ojek dari Pasar Ciputat sampai ke rumah, yang jaraknya tiga sampai empat kali lipat lebih panjang. Saya pun mencoba menawar, meski Tuhan tahu itu adalah jenis kecakapan yang selalu gagal saya pelajari.

Dan beginilah tawar-menawar paling cemerlang di muka bumi:

Saya: "Bang, sampai Bukit Nusa Indah berapa?"
Ojek: "Delapan ribu, Neng!"
Saya: "Buset, mahal amat!" (gaya ibu-ibu)
Ojek: "Maunya berapa emang?"
Saya: "Tujuh ribu deh."
Ojek: "..." (ngeliat saya dengan tampang kasihan)

Well, mungkin saya memang nggak girly.

10 comments:

  1. owwh
    sayang sekali ipod tidak bekerja...
    dari pengalaman pribadi yang sering mengalami masalah yang sama, yaitu terjebak di dalam kebisingan tiada tara, satu2nya yang menyelamatkanku adalah earphone dan lagu smooth jazz atau radiohead

    sering saat pulang kantor dimana semua orang tumpah ruah membicarakan segala hal tentang kinerja dan pencapaian
    aku merasa 'lost in translation'
    sepi dalam keramaian...

    namun berkat 'sumpel kuping' dan lagu yg gelap itu, saya tinggal menutup mata...
    dan fualaaa...
    saya sudah terbang tinggi ke Venisia

    Tapi kalo memang ipod kurang membantu
    saran saya, besok bawa TOA yang biasa di pasang di mushola
    lalu colokkan ke ipod anda,
    lalu putar lagu Meggie Z kesukaan anda

    niscaya para wanita terhormat itu akan poop di celana..

    ReplyDelete
  2. pengalaman yang menarik nih... saya juga punya pengalaman dikerubin cewek, tapi saya langsung inget Andina... *masih ingin mencubit dagu Andina

    ReplyDelete
  3. @ronitoxid: ide yang menarik, bung. dan saya akan mengencangkan volume pas sampai di bagian favorit, yakni PERCUMA SAJA BERLAYAR KALAU KAU TAKUT GELOMBANG.

    ReplyDelete
  4. just a share
    cerita ttg kereta

    http://ronitoxid.multiply.com/journal/item/288

    ReplyDelete
  5. @ronitoxid: Buat sang pemuda berbadan kekar dengan kaos bertuliskan security, lain kali kalo naik kereta bawa springbed sekalian mas… >> LOL :))

    ReplyDelete
  6. apa pun yg kau tulis dan unggah, kian menguatkan karakter manusia yg namanya andin

    ReplyDelete
  7. @edhy: terima kasih. semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  8. hahaha.. ndin.. lucu juga.. emang mengesalkan tuh cewe-cewe, tapi paling tidak mereka jadi inspirasi buat nulis..

    ReplyDelete
  9. @Anon: Iya. Bisingnya lumayan banget. Berapa desibel ya kalo diitung..

    ReplyDelete